Meski Berisiko, Indonesia Potensial bagi Investor

Masuknya Indonesia dalam Investment Grade dan Trillion Dollar Club mendongkrak perspektif positif di kalangan investor dunia. Terlebih lagi setelah daya beli masyarakat meningkat hingga menambah jumlah masyarakat kelas menengah dari kelas bawah. Tak heran bila kemudian nama Indonesia terus digaungkan sebagai negara tujuan investasi yang potensial. Namun sebenarnya investasi apa yang akan terus berkembang di negara 250 juta jiwa ini? Pertanyaan itulah yang mencoba dijawab oleh beberapa pengamat investasi dalam diskusi panel Young Professional Group at British Chamber.

“Sebagai anggota G-20 dan E7, Indonesia memiliki peran signifikan dalam perekonomian,” papar Jay Aryaputra Singgih, Ketua Young Professional Group at British Chamber. Besarnya populasi kelompok kelas menengah usia muda dan kuatnya tingkat konsumsi domestic menguatkan kedudukan Indonesia sebagai negara yang potensial sebagai negara tujuan investasi.

“Saya optimistis dengan kondisi Indonesia mengingat daya beli masyarakat semakin meningkat,” dukung Tigor M. Siahaan, Chief Country Officer of Citibank Indonesia. Meski begitu Tigor mengingatkan para investor untuk tetap waspada karena faktor policy. Untuk dapat berkembang optimal, masih policy yang mendukung pergerakan investor. Akan sulit bagi Indonesia untuk mempertahankan prosentase 6% pada pendapatan perkapita apabila tidak ada policy yang mendukung. Merujuk tidak adanya policy terkait energy minyak dan gas, didukung investasi Pertamina ke Afrika, Tigor menekankan bahwa terdapat resiko investasi dari sisi policy. Hal tersebut diperkuat merebaknya sentiment anti-asing.

“Tapi menurut saya kita lebih butuh luck daripada policy,” ungkap Daniel Budiman, Founding Partner of Mahanusa Capital. Dalam diskusi panel bertajuk Indonesia’s Investment Outlook tersebut Daniel menuturkan bahwa investor lokal sangat sensitif dengan berita-berita yang akan mempengaruhi bisnis mereka. Pergerakan nilai rupiah terhadap dollar pun sangat mempengaruhi mereka. “Potensi resikonya justru ada di mikro ekonomi,” lanjut Daniel.

Meskipun demikian hingga tahun 2014, diprediksi Fast Moving Consumer Goods (FMGC) akan jadi primadona bisnis dan investasi di Indonesia. Selain naiknya daya beli masyarakat, besarnya populasi juga menjadi factor pendukung berkembangnya FMCG. Ditambah, mendekati pemilihan umum baik daerah maupun nasional, akan lebih banyak uang beredar di masyarakat. Bahkan dari momen pesta demokrasi ini para pengamat investasi meramalkan infrastruktur dan legal system akan jadi bahan kampanye. Bisa jadi, sektor infrastruktur ini juga menjadi peluang investasi yang tak kalah menggiurkan setelah FMCG.

“FMCG akan lebih konstan, pastinya. Sektor ini bahkan cenderung atraktif,” tegas Tigor. Mendukung hal tersebut, Jay berharap adanya MP3EI  dapat mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan lebih fokus di berbagai sektor industri.

“Di sinilah peran Anda sebagai generasi muda sangat diperlukan. Anda lah masa depan Indonesia yang akan memimpin Indonesia baik secara politik maupun di dunia bisnis,” tegas pria yang juga aktif di HIPMI Jaya dan KADIN. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)