Meybi Mengangkat Kelor NTT Naik Kelas

Meybi Agnesya Lomanledo, Timor Moringa

Kelor (Moringa olefera) tumbuh subur di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tanamannya melimpah di sana, sampai-sampai ada ungkapan “kalau sudah tidak punya uang, baru makan daun kelor.” Saking membludaknya, kelor pun dijadikan pakan ternak.

Meybi Agnesya Lomanledo mencoba mematahkan stigma yang selama ini disandang tanaman yang tumbuh subur di dataran kering ini. Melalui Timur Moringa, Meybi mengembangkan kelor menjadi berbagai macam produk bernilai tambah.

Timor Moringa adalah bisnis yang dikembangkan Meybi sejak Januari 2018. Meybi ingin petani lokal bisa mengembangkan tanaman kelor yang biasanya hanya dijual Rp 5.000 per ikat. Buktinya, setelah dikemas dalam merek Timor Moringa, olahan tanaman kelor bisa memiliki harga berkisar Rp 35.000 hingga Rp. 100.000.

Meybi membawa produknya ini ke Indonesia Women’s Forum 2019 November lalu. Saat diwawancara oleh SWA Online, Meybi mengaku tidak meragukan kualitas dan kuantitas kelor di tanah asalnya yaitu NTT.   

“Saya bisa saja mengembangkan bisnis ekspor kelor ke luar negeri. Tapi kalau ekspor kan ada kuota yang harus dipenuhi secara konsisten. Nah, saya belum mampu untuk itu. Namun saat ini salah satu program dari Gubernur NTT terpilih adalah penanaman kelor, sehingga saya yakin potensi ekspor dalam beberapa waktu ke depan bisa digalakkan,” ujarnya.

Produk olahan Timor Moringa mulai dari teh celup kelor, daun kelor kering kemasan, cokelat kelor, biji kelor kemasan, serbuk kelor, cookies kelor, minyak biji kelor, hingga makanan siap santap seperti bubur kelor. Untuk bubur kelor, Meybi mengaku, banyak dipesan oleh orang yang sakit. Selain bubur kelor, ada juga es teh kelor dan es blender kelor, semuanya dapat dipesan dan diantarkan dalam waktu singkat dari rumah ke rumah.

Semua produk ini adalah hasil trial and error Meybi
sendiri. Wanita yang tidak memiliki latar belakang bisnis ini mengaku tantangan justru datang dari stigma warga lokal. Kalau tidak punya uang, baru makan kelor, begitu istilahnya. Jadi ketika Meybi mengolah daun kelor dan menjualnya dengan kisaran harga yang lebih tinggi, ada yang protes mengapa mahal sekali.

Sudah ada tiga karyawan tetap yang membantu Meybi mulai dari proses hulu hingga hilir. Sisanya adalah outsourcing yang
dipekerjakan tergantung pesanan. Produk Timor Moringa dijual di rumah Meybi dan dititipkan ke toko oleh-oleh. Untuk promosi sendiri, Meybi mengandalkan sosial media seperti Instagram dan Facebook. Tidak hanya untuk menjual, tapi juga mengedukasi manfaat kelor dan posting berbagai makanan olahan kelor lainnya seperti spageti kelor dan es krim kelor.

Omzet Timor Moringa per bulannya yaitu Rp 25 juta – 30 juta. Sebanyak 600-800 kemasan pun ludes terjual per bulannya. Namun yang paling laku, menurut Meybi, adalah teh celup kelor.

Saat inicakupan pasar terbesar Timor Moringa memang masih NTT terutama Kupang. Namun ke depannya, Meybi ingin jual ke luar negeri. Ia mengaku sering ikut pameran dan bertemu dengan banyak konsumen orang asing. Lucunya, pengetahuan orang asing tentang kelor ternyata jauh lebih luas dibanding dirinya.

 “Saya ingin mempelajari lebih banyak mengenai kelor. Malu dong masa penjual dan pembeli lebih paham pembelinya?” ujarnya seraya tersenyum.  

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)