Pemerintah Harus Tanggung Biaya Operasional Perguruan Tinggi

Hal tersebut dikemukakan Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kepada SWA di awal bulan Oktober lalu. Menurutnya, konsekuensi itu wajar jika perguruan tinggi negeri (PTN) dituntut untuk bersaing dengan perguruan tinggi (PT) asing. “Kalau pemerintah konsekuen, seharusnya tidak bisa begitu saja biaya operasional pendidikan diserahkan pada perguruan tinggi. Pemerintah harus menanggung beban juga,”ulasnya panjang lebar.

 

Tidak sedikit memang dana yang harus dirogoh untuk menjadi universitas kelas dunia. National University of Singapore (NUS) contohnya. Menurut Firmanzah, dana riset NUS di tahun 2008 mencapai Rp 4,1 triliun Sedangkan UI? “ Rp 1,2 triliun untuk keseluruhan operasional. Kami beli lampu untuk kelas saja dari Rp.1.2 Triliun itu,” ungkapnya sebagaimana disampaikannya ketika diundang menjadi pembicara yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) beberapa tahun lalu.

 

“Kita dituntut untuk bersaing dengan NUS, tapi biaya pendidikan tidak boleh mahal. Itu sulit.” Menurut Firmanzah, kalau pemerintah tidak dilibatkan dalam menanggung biaya juga, maka persoalan komersialisasi akan selalu muncul. Lalu bagaimana solusinya? “ Saya rasa, pemerintah harus menanggung semua biaya kemudian dipatok. Misalnya, SPP tidak boleh lebih dari Rp 1 Juta.”

 

Fiz, sapaannya, lantas mencontohkan skema biaya pendidikan master dan doktor-nya di Perancis. Saat itu, dalam setahun biaya persemesternya jika dikonversi pada mata uang rupiah, hanya Rp 5 juta. Biaya riilnya bisa mencapai 15 ribu euro, atau hampir Rp 160 juta. Sisanya ditanggung Pemerintah Perancis. “Dekan di sana tidak perlu lagi memikirkan bagaimana mencari uang. Tinggal memikirkan kualitas pendidikan,”ulasnya.

 

UI sendiri menurut Firmanzah saat ini harus menjadi sangat kreatif untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Untuk itu UI menjadi aktif mencari sponsor untuk membantu pembangunan fasilitas untuk UI agar tidak membebani mahasiswanya. Ia mencontohkan pembangunan Auditorium UI yang berbiaya sekira Rp 2 miliar dengan sokongan dana oleh Bank Mandiri dan bank serta lembaga lainnya.

 

Bahkan, para alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni FE UI (Iluni FE UI), mengelola reksadana yang dinamakan Makara Prima. Ada tiga skema dalam penjualan Reksadana ini. Skema pertama, baik uang pokok maupun bunganya, akan masuk untuk Iluni UI. Skema kedua, bunga reksadana untuk Iluni UI namun uang pokok-nya tetap kembali pada orang tua mahasiswa. Skema ketiga, pokok dan bunga-nya untuk orangtua, bamun biaya manajerialnya untuk Iluni UI. Hasilnya, dari berbagai kegiatan untuk menyuplai kegiatan pendidikan tersebut, tahun 2011 ini FE UI mampu menyokong beasiswa mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Budaya dan MIPA sebesar rp 600 juta.

 

Persatuan Orang Tua mahasiswa juga tak ketinggalan menggalang dana. Salah satunya dengan menggelar turnamen golf. Tahun lalu turnamen tersebut mampu mengumpulkan dana sebesar Rp700 juta. Bulan Oktober ini, kembali akan digelar turnamen golf dengan target Rp 1 miliar. Uang sebesar itu akan dipakai untuk membiayai kegiatan mahasiswa, fasilitas ruangan beserta perlengkapannya.  Begitulah, pada akhirnya, UI sendiri-pun juga harus berkreasi untuk bisa mandiri tanpa dukungan penuh pemerintah.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)