Pemimpin Adalah Sarana Pengaktualisasian Diri dan Pembelajaran

Bagi Adi J.Rusli, menjadi pemimpin bukan sekadar meraih lompatan prestasi, membangun visi dan misi, mendapatkan komitmen karyawan, merintis inovasi bisnis, atau menjadi panutan, namun juga menjadi sarana pengaktualisasian diri dan pembelajaran. “Jadi, hal itu diwujudkan tidak harus di perusahaan multinasional. Selama tantangan dan peluang yang diberikan memacu kita untuk menjadi lebih maju, lebih baik dan lebih profesional, maka di sanalah kesempatan itu dioptimalkan,” jelas CEO EMC Indonesia, itu.

Menurutnya, EMC membutuhkan seorang pemimpin di Indonesia yang mampu membawa perubahan positif terhadap bisnis mereka secara signifikan.  Pembicaraan banyak mencakup berbagai aspek seperti peluang pasar, dukungan, level investasi, strategi, kompetisi, tingkat pertumbuhan dan sebagainya.

Seperti apa pendekatan EMC kepada Adi saat itu agar menjadi pemimpin EMC Indonesia? “Saat itu saya masih bekerja di perusahaan lain. Mereka cukup mengerti posisi saya saat itu dan memberikan kelonggaran pada saya untuk menyelesaikan tanggung jawab di perusahaan terdahulu sampai saya siap untuk bergabung dengan EMC,” jelasnya.

Ketika ditawari posisi CEO EMC, ada berbagai tantangan yang sudah menanti Adi.Tentunya, dia harus meningkatkan business growth and brand awareness EMC di Indonesia, baik itu melalui kegiatan-kegiatan pemasaran, ekspansi pasar, layanan pelanggan, membangun partner ecosystem yang sustainable maupun membangun tim yang kuat dan agresif. Selain itu proses pengedukasian target market dan publik, baik secara langsung maupun melalui media. Dengan demikian performa EMC di Indonesia bisa menjadi semakin terlihat.

Adi mengaku tertarik menerima tantangan EMC lantaran percaya bahwa pengalaman dan pencapaian prestasi-prestasi yang dimilikinya menjadi bekal yang kuat dalam melakukan pembenahan-pembenahan yang dibutuhkan serta dapat mengasah strategic and management capabilities yang dia miliki untuk memberikan kontribusi terbaik ke perusahaan.

Adi menjelasakn, biasanya perusahaan multinasional telah memiliki nilai dan budaya tersendiri yang telah ditumbuhkembangkan selama perusahaan tersebut berdiri. Nilai tersebut menjadi acuan bagi para karyawan dalam berperilaku termasuk kode etik berbisnis. Penyesuaian budaya tentu perlu, apalagi mengingat pihaknya harus bekerja sama dengan  eksekutif EMC di 81 negara. Namun, karena pengalaman kerjanya juga di perusahaan multinasional, dia cukup terbiasa untuk bekerja dengan berbagai kultur. Lagipula dia merasa sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak kalah bila harus bekerja sama dengan orang asing.

“Selain itu, kami juga harus bisa memadukan kepentingan headquarter/global dan regional dengan kebutuhan yang ada di lokal. Juga, bagaimana menunjukkan  kualitas kemampuan dalam menjalankan target yang diberikan, menangani berbagai rintangan yang ada ataupun mengubah tantangan menjadi peluang,” Adi menguraikan.

Lalu, bagaimana cara Adi memuaskan pemegang saham, CEO EMC global, konsumen, karyawan dan lainnya? “Saya rasa semuanya berawal dari kinerja tim yang baik. Dengan kinerja tim yang optimal, EMC mencapai growth sekitar 30% per tahun pada 2010 dan tahun ini ditargetkan tumbuh 50%. Sebagai pemimpin, saya membangun visi ke depan dan menggerakkan karyawan dan mitra bisnis untuk berjalan ke arah visi yang telah dicanangkan,” tegasnya.

Terobosan yang dilakukan Adi dan timnya ada dua hal penting. Pertama, mengembalikan kepercayaan pasar, kastemer, mitra bisnis dan karyawan serta get the basics in place seperti visi/misi, process and procedures, business unit alignment and balanced partner ecosystem. Kedua, timnya uga berhasil membuat beberapa korporasi terkemuka di Indonesia untuk menggunakan solusi EMC.

Saat ini EMC Indonesia terus berkembang dan telah menjadi salah satu perusahaan solusi TI yang bisa diperhitungkan di Indonesia. Terlepas dari penempatan di tingkat regional/global ataupun perusahaannya, fokus Adi akan diarahkan pada bagaimana solusi teknologi yang ada dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk membantu dunia bisnis dan sektor publik untuk mengatasi tantangan dan kesulitan yang dihadapi. “Saya tetap berkomitmen untuk expand the capabilities and taking on a broader range of challenges,” imbuhnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)