Pendapatan Meningkat, Konsumsi Buah Lokal Harus 'Ikutan'

Konsumsi buah lokal dinilai masih rendah dibandingkan jumlah konsumsi buah impor. Padahal, seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, kebutuhan akan produk berkualitas khususnya buah lokal seharunya ikut meningkat. Apalagi, buah lokal tidak hanya menggambarkan keragaman produk Indonesia tetapi juga berpengaruh terhadap 'kaum kecil'.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB), Said Didu, saat ditemui di Standard Chartered, Jakarta. Indonesia dinilai menghadapi berbagai masalah terkait jumlah produksi buah lokal yang dinilai masih kurang. Hal ini menyebabkan market share buah lokal Indonesia cenderung tergerus oleh buah impor. “Jika membandingkan jeruk mandarin dengan jeruk lokal, kita bisa lihat bahwa jeruk mandarin jauh lebih murah. Padahal jika berbicara soal 'asal buah', seharusnya produk lokal lebih murah. Selain harga, kualitas dan jumlah pasokan buah lokal menjadi masalah yang harus dipecahkan bersama.”

Permasalah terpinggirkan buah lokal mencakup beberapa aspek diantaranya kurang tersedianya benih berkualitas dalam jumlah memadai, lemahnya kegairahan petani baru untuk memproduksi buah-buahan, kurang memadainya infrastruktur logistik buah, perubahan perilaku konsumen yang semakin menyukai produk impor dan semakin mudah serta murahnya buah impor. “Yang tidak kalah penting, kita harus mengakui minimnya keberpihakan kebijakan fiskal terhadap buah lokal Indonesia,” kata Said Didu lagi.

Said menilai, seharusnya petani hortikultura bisa memanfaatkan tren pasar buah dunia yang kini lebih menyukai buah tropis eksotik seperti buah naga, pisang dan rambutan. Untuk ekspor buah Indonesia di 2009 sebanyak 211 ribu ton dengan nilai US$ 162 juta. Di 2010, terjadi peningkatan dengan total impor sebanyak 276 ribu ton buah yang masih didominasi manggis, nanas, mangga dan rambutan. “Kami menghimbau masyarakat agar mengkonsumsi buah lokal agar produksi dalam negeri pun turut meningkat,” kata Said lagi.

Saat ini, Himpunan Alumni ITB melakukan kampanye 'Gemari Buah Lokal' yang akan diawali pada 10 Juli 2011 dengan acara 'Jalan dan Sepeda Santai' yang akan diikuti oleh ribuan peserta. Panitia juga akan membagikan 20 ribu bibit buah lokal. “Kampanye ini untuk mendorong semua pihak memberikan perhatian kepada pengembangan buah lokal,” tegas Said Dinu. Acara tersebut didukung oleh beberapa lembaga pemerintah dan LSM sehingga menghabiskan biaya kurang dari Rp 1 miliar.

Program 'Gemari Buah Lokal' diantaranya mengusulkan adanya 'Hari Buah', advokasi konsumsi buah lokal di lembaga-lembaga negara, instansi pemerintah, industri makanan dan minuman dan pihak ritel, mendorong penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk buah, mendorong penerapan standar kualitas bagi buah impor, mendorong keberpihakan kebijakan fiskal terhadap buah lokal Indonesia melalui bea masuk serta mendorong perbaikan implementasi tata niaga dan infrastruktur pada produksi dan perdagangan buah.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)