Pendidikan AS Bikin Pelajar 'Speak Up'

Presiden Perhimpunan Alumni Indonesia-Amerika Serikat (Alumnas) Hasan M. Soedjono mengatakan bahwa pendidikan di Amerika Serikat memiliki kekhasan. Pelajar dididik untuk berani mengeluarkan pendapat, berpikir secara sistematis dan independen, serta berpegang teguh pada fakta.

Tapi, keberanian itu bukanlah tanpa dasar. Kita tidak bisa asal njeplak. Sebuah pernyataan harus diikuti fakta dan riset,” kata Alumni Harvard Business School itu. Selain itu, siswa juga dirangsang untuk menulis pendapat mereka, baik di buletin kampus, jurnal dan paper. Pendekatan pengajaran di AS pun mengarahkan pelajar untuk kreatif. Pendidik tidak diperkenankan hanya mendikte dan menyuruh siswa menghapal. “Kita tidak berbicara soal mengisi otak melainkan merangsang otak,” tegas pria kelahiran 15 November 1951.

Selain itu, pelajar dinilai berdasarkan sistem meritokrasi yaitu berbasis prestasi. Tidak ada penilaian berdasarkan senioritas. “Seseorang yang meraih gelar Doktor berarti memiliki kemampuan yang pantas untuk meraih gelar itu. Tidak ada gelar yang dipaksakan. Pada akhirnya, semua siswa ingin menjadi yang terbaik dengan cara bersaing,” ujar Hasan lagi.

Kelebihan lain dari sistem pendidikan di Amerika Serikat adalah siswa diarahkan berpikir dan bertindak jujur. Ini terkait konsistensi dan integritas. Menyontek adalah salah satu yang 'haram' dilakukan. “Di Amerika, siswanya juga suka menyontek, sama seperti di Indonesia. Namun, kebiasaan itu berhenti saat mereka kuliah. Hukuman untuk siswa yang menyontek sangatlah berat. Siswa bisa dikeluarkan.”

Meskipun begitu, dunia pendidikan AS tidaklah sempurna. Perguruan tinggi di negara adidaya itu sangatlah mahal. “Biaya mahal tidak selalu berarti kekurangan. Perguruan tinggi yang menerapkan biaya mahal biasanya memberikan kualitas pendidikan yang tinggi,” kata Hasan lagi.

Satu hal yang menonjol dari lulusan luar negeri adalah keberanian mereka menyampaikan pendapat secara sistematis. Mereka juga terbiasa melakukan analisis. Khususnya di Amerika, seringkali soal-soal Fisika dan matematika justru bukan mencari hasil angka. "Pertanyaan justru meminta jawaban, mengapa suatu rumus tersebut penting? Apa kegunaannya untuk masyarakat," ucap peraih gelar Sarjana jurusan Teknik Kimia dari King Khalid University of Petroleum and Mineral, Saudi Arabia. Proses menulis kembali diasah dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)