Pengguna Internet Indonesia Membludak di 2011

Sebagai pengguna Facebook dan Twitter terbesar kedua di dunia, pangsa pasar internet di Indonesia memang menjanjikan. Bahkan, berdasarkan data perusahaan riset pasar TNS, pengguna internet di Indonesia membludak di 2011. Salah satunya disebabkan keberadaan ponsel Cina.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Global Technology Director TNS, James Fergusson, saat ditemui di Hotel Le Meridien, Jakarta. Berdasarkan riset TNS kepada 1500 responden di 8 kota besar dengan rasio umur 16 sampai 60 tahun, diperoleh data bahwa 86% responden Indonesia mengakses internet. Sayangnya, hanya 14% diantara mereka yang mengakses internet setiap hari.

Ada banyak penyebab masyarakat Indonesia tidak rutin mengakses internet. Secara garis besar, mereka mengakses internet via ponsel atau warnet. Ponsel masih generasi lama sehingga tidak membuat masyarakat nyaman karena akses membutuhkan waktu lama. Untuk warnet sendiri, mereka terhalang biaya dan waktu,” kata James Fergusson lagi.

Meskipun begitu, Indonesia merupakan negara berkembang yang potensial bagi perkembangan bisnis terkait dunia internet. Pasalnya ponsel Cina yang disertai fitur jejaring sosial mulai meramaikan pasar gadget Indonesia. “Jejaring sosial merupakan 'pintu' perkenalan bagi masyarakat dalam memanfaatkan internet. Saya yakin, 2011, penetrasi internet di Indonesia akan membludak.”

Pertumbuhan pengguna internet tidak hanya menguntungkan masyarakat itu sendiri, tetapi juga pebisnis. Menurut James, sekitar 30% responden berinteraksi dengan produk / brand, secara tidak langsung, via jejaring sosial. Rata-rata, responden 'terikat' dengan 7 merek dagang di jejaring sosial. “Facebook dan Twitter membantu pelaku bisnis menentukan target pasar dan konsep pemasaran. Inilah yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat,” kata James lagi.

Yang menarik untuk diamati, remaja bisa menjadi target potensial untuk 'dimanfaatkan'. Berdasarkan riset TNS, remaja di dunia menghabiskan uang US$ 750 miliar untuk belanja suatu produk. Di Asia Pasifik, uang yang digelontorkan sekitar US$54 miliar sedangkan di Indonesia, remaja berbelanja secara keseluruhan US$ 7 miliar per tahun.

Di masa depan, remaja menjadi konsumen utama yang berdampak bagi orang lain. Apalagi, remaja mampu mempengaruhi lingkungan sekitar untuk menghabiskan sejumlah uang,” ujar Regional Director TNS, Robert Hutchison.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)