Permintaan Dunia Melonjak, Ekspor CPO Ukir Rekor

Ekspor minyak sawit nasional dan produk turunannya pada April mencapai 2,25 juta ton atau naik 11% dari bulan sebelumnya dan 65% apabila dibandingkan periode sama tahun lalu. Ini merupakan rekor tertinggi sejak Januari 2015. Dengan capaian itu, ekspor minyak sawit sepanjang Januari-April 2015 mencapai 7,88 juta ton atau naik 25% dari periode sama tahun lalu 6,3 juta ton. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan, di tengah lesunya harga semua minyak nabati di pasar global, ekspor minyak sawit Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. “Pencapaian kinerja ekspor pada April tersebut juga merupakan rekor tertinggi sejak Januari 2015,” kata dia dalam rilisnya.

Menurut dia, kebutuhan minyak sawit di pasar global terus meningkat, padahal minyak sawit hanya minyak substitusi terutama di Tiongkok, Amerika, dan Eropa yang lebih suka menggunakan minyak kedelai, canola dan minyak bunga matahari. “Meningkatnya kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada April ini tidak terlepas dari permintaan dari India, Uni Eropa, dan Tiongkok yang merupakan pasar utama ekspor minyak sawit Indonesia. Pasar baru negara-negara Afrika juga kian bergairah dan terus menunjukkan kenaikan selama dua bulan berturut-turut,” ujarnya.

Minyak sawit (Foto: IST) Minyak sawit (Foto: IST)

Ekspor minyak sawit Indonesia ke India di April ini tercatat naik 45,5% dibandingkan
bulan lalu atau dari 434 ribu ton pada Maret menjadi 631 ribu ton pada April 2015. Kenaikan ekspor ini diikuti oleh negara Tiongkok 15% dan negara Uni Eropa sebesar 8,5%. Kenaikan permintaan yang jumlahnya tidak banyak akan tetapi sangat signifikan secara persentase datang dari Pakistan dan Amerika Serikat (AS). “Pakistan mencatat lonjakan permintaan hingga 101% dari 75,75 ribu ton menjadi 152 ribu ton. Sementara, permintaan dari AS melonjak 91% atau dari 28,8 ribu ton menjadi 55 ribu ton,” katanya.

Fadhil menjelaskan, meningkatnya volume permintaan dari beberapa negara di atas karena negera-negara tersebut mengambil kesempatan membeli minyak sawit dari Indonesia yang mana pajak ekspornya 0% pada April lalu, sedangkan Malaysia yang merupakan negara kedua terbesar penghasil minyak sawit mematok pajak ekspor pada April lalu sebesar 4,5% setelah selama enam bulan terakhir mematok 0% untuk pajak ekspornya. Ekspor seluruh produk minyak sawit (termasuk biodiesel dan finished product ) Malaysia turun 2% pada April 2015 atau dari 1,77 juta ton pada Maret dan turun menjadi 1,74 juta ton pada April ini.

Selain dipengaruhi pajak ekspor, meningkatnya ekspor itu juga disebabkan adanya wabah penyakit yang menyerang tanaman olive di Italia, dimana sekitar 11 juta pohon Olive direkomendasikan European Commission untuk dimusnahkan karena terinfeksi bakteri Xylella Fastidiosa. Pada pertengahan April sekitar 1 juta pohon telah dimusnahkan. Penebangan/pemusnahan harus dilakukan karena hanya itu satu-satunya cara untuk memberantas bakteri Xylella Fastidiosa. Dengan pemusnahan masal pohon olive yang terserang penyakit secara otomatis akan mengurangi pasokan minyak nabati di Uni Eropa sehingga minyak substitusi akan menjadi pilihan. “Sementara penguatan dolar AS terhadap mata uang rupiah juga mendongkrak kinerja ekspor minyak sawit Indonesia ke negeri Paman Sam,” kata dia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)