Perusahaan Harus Munculkan ‘Value for Money’

Presiden Indonesian Intellectual Property Society, Gunawan Suryomurcito, mengatakan bahwa banyak perusahaaan Indonesia yang masih 'ogah-ogahan' membangun merek dalam lingkup global. Padahal, image merek tidak sekadar berbicara soal iklan, proses pemasaran atapun 'mejeng' di pameran.

“Ada tiga hal yang harus dilakukan dalam membangun merek global yaitu konsisten meningkatkan kualitas produk dan layanan, menciptakan terobosan dan mengkaji karakteristik pasar yang dituju. Yang lebih penting lagi, perusahan harus menciptakan value for money,” tegas Gunawan.

Brand positioning Accupunto dan Polygon, misalnya. Gunawan menilai Accupunto memiliki diferensiasi produk yang tinggi. Kekhasan suatu produk biasanya akan mudah menarik perhatian pasar. Sementara, sepeda Polygon dinilai pintar memanfaatkan momen untuk menembus pasar dan mengembangkan merek global. Polygon menggaet beberapa atlet sepeda di negara tujuan ekspor untuk dijadikan sebagai brand ambassador. Strategi tersebut layak dicontoh karena bisa mendekatkan merek dengan pasar setempat.

Ia mengatakan, hambatan terbesar merek/produk Indonesia adalah menumbuhkan kepercayaan masyarakat luar terhadap kualitas produk Indonesia. Banyak merek/produk Indonesia yang tidak mampu bersaing dengan merek lokal setempat lantaran produk tersebut berasal dari Indonesia. Untuk itu, perusahaan harus bisa mendekatkan diri dengan pasar, bukan hanya rajin memasang iklan di media massa. Tetapi terjun ke pasar setempat secara langsung. Ajang pameran bisa dijadikan sebuah wadah untuk berinteraksi dengan calon konsumen.

Selain soal kepercayaan, banyak merek Indonesia yang belum dipatenkan/didaftarkan di pasar global. Kondisi tersebut akan mempersulit merek untuk masuk dan bahkan tak jarang tidak mampu bersaing di pasar global. “Kebanyakan perusahaan belum siap untuk bisa menembus pasar ekspor. Maka dari itu, perlu riset dan kajian terlebih dahulu,” katanya.

Kunci keberhasilan merek-merek asing menjadi merek besar adalah menjalankan strategi branding. Ambil contoh, Starbuck, Nike, Mercedes, dan lain-lain. “Solusi terbaik adalah mencari konsultan untuk membangun merek tersebut. Banyak pengusaha di Indonesia yang masih setengah-setengah melakukan branding,” ungkap Gunawan. (Acha)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)