Polygon Bikin Sepeda Jadi 'Menu Utama'

Produksi sepeda semakin menggeliat seiring popularitasnya yang terus meningkat. Di tengah serbuan sepeda impor yang menawarkan varian gaya dan harga, merek lokal turun terkena dampak. Polygon misalnya. Bahkan, produsen yang juga mengimpor sepeda ke Eropa itu berambisi 'mengalahkan' mobil dan motor.

Visi Polygon adalah memasyarakatkan sepeda yang dulunya adalah kendaraan kelas tiga setelah mobil dan motor. Namun kini, sepeda tidak lagi dipandang sebagai pelengkap. Sepeda sudah menjadi gaya hidup,” ujar Ronny Liyanto, Direktur PT Dispoly Indonesia, produsen sepeda Polygon. Lewat PT Insera Sena, pabrik Polygon di Sidoarjo, Jawa Timur, Polygon dibuat bersama dengan sepeda merek terkenal dunia seperti Scott, Kona, Kuwahara, Miyata, dan lainnya. “Kami juga menjadi original equipment manufacturer (OEM) bagi beberapa merek asing,” katanya. Hal ini menjadikan kualitas Polygon setara dengan merek kelas dunia.

PT Dispoly Indonesia kini melakukan ekspor ke 63 negara. Diakui oleh Ronny, negara tujuan ekspor mereka kebanyakan adalah Eropa. seperti Inggris, Jerman, Perancis dan Spanyol.Dispoly Indonesia juga mengirim ke benua Amerika seperti AS, Canada, Costarica dan Argentina. Benua Asia turut pula dijangkau seperti Jepang, Korea, Singapura dan Malaysia. Produksi total pabrik Polygon sendiri pun mencapai 600.000 unit termasuk untuk OEM, 70% untuk lokal dan 30% untuk ekspor.

Sellling point yang baik itu dilihat dari ekspor yang lebih banyak. Departemen Perdagangan dan Departemen Perindustrian melihatnya kan dari ekspor karena menghasilkan devisa. Karena itu, kita mendapat dukungan dari pemerintah,”katanya.

Seiring perjalanan waktu, Polygon menemui masalah tersendiri. Terbiasa membuat kualitas berstandar Eropa membuat harga Polygon tidak terjangkau. Kala itu Polygon minimal berharga Rp 900 ribu, sedangkan sepeda di pasaran minimal berharga Rp 200 ribu. “Ini menjadi masalah tersendiri bagi kami. Kami dengan mesin dan tenaga ahli yang sama tidak bisa memproduksi dua kualitas,” katanya. Untungnya, perusahaan didukung oleh distributor yang loyal shingga tidak kesulitan untuk memasarkan produk di toko mereka.

Lewat Rodalink, strategi pemasaran Polygon dibangun. Ronny mengakui menemukan peluang di pasar global harus dimulai dengan pembangunan toko sepeda yang profesional dam produk yang berkualitas dengan menerapkan standar Eropa, JIS, British dan EU. “Pasar di luar negeri itu lebih kognitif dan rasional. Mereka mengerti barang sehingga lebih aware. Sedangkan di Indonesia lebih mengandalkan emosional sehingga gengsi dan branding lebih ditekankan walaupun di luar negeri juga ada tapi tidak banyak jumlahnya,”katanya.

Promosi dan branding juga dilakukan di luar negeri oleh Polygon. Layaknya sebuah perusahaan biasa, di luar negeri juga mempunyai office representative yang bertugas di sana. Perusahaan menciptakan berbagai macam iklan di majalah dan koran. Mereka juga memasang iklan di blog-blog yang mempunyai banyak pembaca dan follower. “Di luar negeri blog itu dianggap trustable source dan lebih cepat diakses.”

Penetrasi Polygon di Singapura dan Malaysia cukup dominan. Di Singapura, Polygon mempunyai market share sekitar 40% sedangkan di Malaysia sudah mencapai 50%. “Karena mungkin harga kita juga miring tapi memiliki kualitas standar Eropa,”katanya. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)