Radianti Ratnasuminar: Deposito Andalan Memutar Duit

Tanpa suara, belasan piagam penghargaan dan piala yang terukir nama Radianti Ratnasuminar sudah bercerita tentang kehebatannya sebagai top agent asuransi. Empat tahun berturut-turut (1999-2002) Radianti dinobatkan sebagai agen asuransi terbaik Ing Aetna Life Indonesia dan beberapa kali tingkat nasional. Prestasi yang dicapainya, berhasil melampaui target perolehan premi Rp 250 juta/tahun. Justru, rata-rata ia membukukan premi di atas Rp 1 miliar/tahun. "Awal November 2003, premi yang saya raih mendekati Rp 1 miliar," tutur ibu dua putri ini. Statusnya yang single parent itulah yang memompa semangatnya terus bekerja optimal.

Berkat prestasinya, Radianti diganjar aneka bonus dan hadiah. Selain melancong ke kota-kota besar di Italia, Australia, Spanyol, Prancis, Belanda dan beberapa negara menjadi agendanya setahun dua kali, ia juga mendapat komisi yang wah jumlahnya. Tak ketinggalan, bonus yang nilainya setara dengan harga mobil mewah atau rumah real estate.

Memang, jumlah komisi yang diterima Radianti per bulan tak tentu. Namun, kalau dipukul rata sekitar Rp 500 juta/tahun. Tidak kalah dari gaji direktur perusahaan jasa keuangan. Itulah sebabnya ia betah berkarier di dunia asuransi, meski awalnya hanya iseng. Padahal, cita-citanya waktu kecil menjadi pelaku bisnis. Kelahiran Bandung, 16 April 1964 itu berujar, "Bekerja di asuransi penghasilanya unlimited. Kita bisa menentukan sendiri berapa pendapatan yang kita inginkan."

Beruntunglah Radianti bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang dari penghasilannya. Ia disiplin mengalokasikan sebagian income-nya ke beberapa keranjang investasi. Bentuk portofolinya disebar dengan komposisi: deposito 50%, asuransi 15%, properti 15%, berlian 10% dan emas 10%. Beragam investasi itu ia kelompokkan dalam investasi jangka panjang dan jangka pendek.

Deposito menjadi prioritas utama Radianti berinvestasi. Pertimbangannya, agar bunganya bisa dijadikan andalan membayar beban premi asuransinya. "Jangan sampai bayar premi menggerogoti aset,? pehobi dansa dan travelling ini menjelaskan. Adapun jenis depositonya dipecah seimbang antara Rp dan US$ di beberapa bank swasta nasional.

Untuk investasi di asuransi, sejatinya sebelum terjun sebagai profesional di industri ini, Radianti sudah menggenggam asuransi pendidikan produk Manulife untuk dua putrinya. Setelah bergabung dengan Aetna, ia menambah empat polis: asuransi jiwa (1999), kesehatan (tahun 2002), tabungan hari tua (unitlink) tahun 2003 dan pensiun (2003). "Asuransi adalah instrumen yang cocok bagi saya. Sebab, saya bisa memonitor langsung perkembangannya," ia memaparkan. Besarnya premi pendidikan yang dibayar Rp 10 juta/tahun, sedangkan asuransi tabungan hari tua Rp 15 juta/tahun. Untuk nilai premi asuransi kesehatan dan jiwa, ia merahasiakannya.

Bagi Radianti, kepeduliannya terhadap produk asuransi tidak sekadar ikut-ikutan. Semua jenis asuransi yang dibelinya memiliki manfaat. Asuransi pendidikan misalnya, untuk memproteksi biaya pendidikan anak sejak dini. "Saya ikut asuransi pendidikan sejak anak masih bayi dan sudah dua kali menerima klaim, ketika masuk SD dan SMP," kata Radianti sembari menyebutkan sekolah kedua putrinya di Sekolah Internasional Madaniyah, Parung.

Strategi Radianti dalam memilih produk asuransi, mula-mula mendeteksi karakter diri sendiri sebagai pemegang polis, menentukan kebutuhannya apa, mencari produk yang preminya murah, tapi coverage-nya maksimal. "Jangan lupa, pertimbangkan bagaimana track record perusahaan yang mengeluarkan produk itu," ia menasihati.

Sementara itu, investasi di properti alumni Perbanas Jakarta ini baru di tahun 1996, manakala ia terpengaruh sang ayah membeli lahan yang peruntukannya dijadikan sawah. Tanah itu dibeli dengan harga murah Rp 10 juta, dan sekarang nilai pasarnya diprediksi Radianti sekitar Rp 100 juta. Sementara itu, rumahnya terletak di Tanjung Mas Raya, Jakarta Selatan senilai kira-kira Rp 3 miliar. Namun, wanita berkulit putih ini mengaku kini tengah berancang-ancang membenamkan duitnya di apartemen.

Kemudian, berlian ia masukkan dalam koleksinya karena sejak kuliah wanita berpenampilan kalem ini ?gila? berlian. "Tapi, waktu itu belinya masih yang kecil-kecil," ujar Radianti, yang suka beli berlian di toko Benteng. Setelah bekerja, ia bisa melampiaskan hobinya di batu mulia itu sepuas-puasnya. Koleksi berliannya dipadupadankan dengan emas putih atau kuning untuk perhiasan -- dari anting, liontin, cincin, gelang hingga koye.

Jenis investasi Radianti terakhir adalah emas. Di samping berupa perhiasan, emas yang dikumpulkan Radianti banyak berwujud koin. "Investasi emas dan berlian itu, selain untuk simpanan sekaligus berhias," ungkap wanita yang menyimpan emas dan berlian di safe deposit box salah satu bank kepercayaannya. Lebih dari itu, kelebihan investasi emas, menurutnya, likuid dan harganya mengikuti fluktuasi US$.

Dari lima jenis investasinya, Radianti mengaku berinvestasi di deposito dan berlian adalah pengalaman sangat berkesan. Mengapa? "Saya menikmati return yang tak terduga jumlahnya dari deposito dan berlian," paparnya. Ceritanya begini. Akhir 1997-98, ketika krismon datang dan banyak bank dilikuidasi, sehingga banyak nasabah menarik simpanannya (rush). Ia tidak goyah terusik rumor, dan ternyata strateginya tidak meleset. Tidak lama kemudian kebijakan bunga deposito jorjoran hingga menembus 72%. "Wah, senang rasanya kala itu bisa menikmati bunga deposito sebesar 70%," ia mengenang dengan wajah sumringah.

Imbal hasil bunga deposito itu sebagian dibelikan berlian. "Karena beberapa berlian saya sudah laku," katanya. Maklum, selain menangguk untung bunga deposito yang berlipat, tahun 1998 Radianti juga menikmati return dari penjualan cincin berliannya. Semula cincin berlian satu karat itu dibelinya seharga di bawah Rp 10 juta, ternyata temannya mau membayar Rp 50 juta. Sebaliknya, risiko investasi besar tak pernah singgah, lantaran profil investasinya juga konvensional.

Meski mengaku tak punya konsultan investasi pribadi, Radianti merasa beruntung di sekitarnya banyak teman yang menguasai soal saham, reksa dana dan valas. Untuk itulah ia kerap berbagi informasi dengan mereka. "Kadang-kadang tergiur juga ingin ikut teman main saham, tapi kok risikonya gede.

Akhirnya saya kembali lagi ke feeling pribadi yang larinya ke instrumen konservatif," tutur agen asuransi yang mengaku 95% kliennya bersumber dari referensi ini.

Bukan berarti, Radianti menutup diri dari instrumen investasi lain. Ia sudah mencoba produk asuransi yang dikombinasi tabungan, yaitu unit link. Kelak, tidak menutup kemungkinan mencoba reksa dana. "Mengubah total sih tidak. Mungkin akan mengalihkan jatah sebagian kecil deposito untuk investasi coba-coba sepanjang masih bisa ditoleransi keamanannya," Radianti menegaskan.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)