Rahasia 10 Tahun Vadyo Munaan di Mastercard

Sudah 10 tahun Vadyo Munaan mengemban jabatan sebagai Country Manager Mastercard Worldwide untuk Indonesia. Selama ini, dia mengaku selalu diberikan tantangan-tantangan dari Mastercard terkait dengan semakin membaiknya ekonomi dan pasar Indonesia yang potensial dan luas ini. “Kartu kredit di Indonesia memang belum masuk ke dalam strata kedua masyarakat dan itu menjadi tantangan tim kami. Jadi, kami melihat bahwa potensi itu cukup bagus. Indonesia juga kuat di consumer growth,” jelas Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Parahyangan, Bandung, ini.

Eksekutif yang bergabung dengan Mastercard sejak tamat kuliah itu, terbilang awet bekerja di perusahaan multinasional tersebut. Mengapa? “Karena saya selalu membangun rasa percaya perusahaan tersebut dengan sebuah kinerja. Performance harus lebih dahulu daripada ambis pribadi, dia buka kartu. Tak kalah pentingnya, Vadyo mengklaim, selalu berhasil melaksanakan target-target yang diberikan oleh Mastercard.

Perbedaan mendasar perusahaan lokal dengan perusahaan multinasional adalah mengenai efisiensi. Menurutnya, perusahaan asing lebih menerapkan disiplin dibandingkan perusahaan lokal. Perusahaan asing juga mempunyai rencana berjangka yang disesuaikan dengan kebutuhan. “Perusahaan asing lebih membuat orang-orangnya lebih profesional. Perusahaan asing menuntut masalah integrity, profesional, kejujuran dan selalu inovatif,” jelasnya. Hal inii penting agar bisa mencari pasar baru di saat pasar lama sudah jenuh.

Terobosan yang paling mengesankan selama dirinya menjabat adalah saat Mastercard meluncurkan Mastercard Internet Gateaway Services (MiGs). MiGs dapat diterapkan seperti contohnya pemesanan tiket lewat online. “Teknologi ini hanya Mastercard yang punya untuk online payment yang paling secure,” ucapnya. Hal ini cukup menyenangkan Vadyo karena terobosan tersebut diharapkan dapat menyeimbangkan konsumen dengan kesibukannnya mengenai pembayaran.

Mengenai target, Vadyo menampik bahwa Mastercard hanya mementingkan peningkatan pendapatan untuk fokus bisnisnya. Justru yang ingin ditekankan oleh Mastercard adalah pengembangan cara pandang kepada suatu pasar. “Kami dituntut untuk melihat bagaimana ke depannya. Karena setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda,” pria berumur 43 tahun itu menguraikan.

Selain itu, Vadyo bertahan lama di Mastercard lantaran mendengarkan kebutuhan dari customer. Karena dirinya merasa selama ini keinginan customer kadang diabaikan karena dari sisi penjual terlalu rumit dalam berpikir. “Selama ini, kami dapat memberikan yang terbaik kepada customer, tambah lama pasti akan dipercaya. Pertama, kepercayaan dari customer kemudian dari manajemen,” katanya.

Posisi Vadyo saat ini memang cukup prestisius dan dia sudah puas. “Tidak ada lagi ambisi berlebih untuk posisi ini karena memang sudah teratas di Indonesia.”katanya. Untuk itu, kini yang terpenting adalah mempersiapkan pengganti dirinya. Penggantian di sini bukan kepada orangnya tetapi kepada sistemnya. “Jadi siapa pun nantinya yang duduk di sini, semuanya akan berjalan dengan baik, mampu memberikan semangat dan merawat disiplin dan prosedur yang sama ke semua tim karena ini teamworks,”dia menegaskan.

Untuk pengabdian yang cukup lama inilah, Vadyo mendapatkan penghargaan. “Malah saya sekarang sudah bisa memilih mau hadiah apa?,” ujarnya seraya tertawa. Dia tidak mengungkapkan, bentuk hadiahnya. Yang pasti, apresiasi itu sebagai tanda terima kasih dan bersifat priceless. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)