Rahasia Dedengkot Musik Tetap Eksis

Rahasia Dedengkot Musik Tetap Eksis

Nama-nama seperti Arie Suwardi Widjaja alias Pak Iin, Jan N. Djuhana, Bu Acin dan Jusak Irwan Sutiono cukup disegani di industri musik. Di tangan mereka, perusahaan rekaman besar atau yang disebut dengan major label bisa tumbuh pesat. Mereka pun berhasil mengorbitkan sejumlah penyanyi solo dan grup band dari yang bukan siapa-siapa menjadi kondang hingga ke mancanegara. Tidak berlebihan, mereka dijuluki “orang-orang bertelinga emas”. Merekalah yang memoles seorang artis hingga bisa terkenal dan menjadi mesin uang perusahaan.

Kepekaan telinga dan ketajaman feeling dalam mengendus calon penyanyi hebat tak luput dari jam terbang yang tinggi. Dedikasi mereka di belantika musik rata-rata di atas 25 tahun. Arie Suwardi Widjaja, misalnya. Ia melakoni debut kariernya di industri musik pada 1981, dan kini menjabat sebagai Direktur Artist & Repertoire PT Aquarius Musikindo. Pak Iin dikenal sebagai tangan kanan pendiri dan pemilik Aquarius, J. Soerjoko. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan loyalitasnya itu, ia diberi apresiasi: mengantongi sebagian kepemilikan saham perusahaan.

Berbeda dari Pak Iin yang sudah 26 tahun setia membesarkan Aquarius, perjalanan Jan N. Djuhana di bidang musik cukup berliku. Padahal, Jan justru lebih dulu terjun ke industri musik, sejak 1975. Pasalnya, selain sibuk mengelola perusahaan rekaman sendiri yang jatuh-bangun, ia juga beberapa kali pindah tempat kerja sebagai profesional. Ia mendirikan perusahaan rekaman Saturn Record 32 tahun lalu. Setelah itu, Jan mengibarkan Team Record (1983-91). Pada 1992 ia bergabung dengan Aquarius, dan pada 1997 pindah ke Sony Music hingga sekarang. Di Sony ia bertugas mencari bakat dan talenta artis lokal yang baru dilirik peluang bisnisnya. “Produk itu masih jadi tanda tanya besar, apakah albumnya bisa diterima pasar musik atau tidak karena artisnya masih pemula,” kata Jan yang dipercaya sebagai Direktur Senior Artist & Repertoire PT Sony BMG Music Entertainment Indonesia.

Jusak Irwan Sutiono terjun ke industri musik sejak 1981. Itu bermula dari ketidaksengajaan. Lulusan Teknik Mesin Rwth Aachen, Jerman, ini bercerita, kala itu ia diajak Iwan Sidharta, temannya dari perusahaan rekaman PT Indosemar Sakti (grup Billboard, Bulletin, King’s Record) untuk bergabung. Meski dunia baru yang dimasuki, Jusak yang sebelumnya bekerja di pabrik kertas merasa enjoy saja. Namun, perusahaan rekaman yang ia singgahi berganti-ganti. Setelah di Indosemar Sakti selama lima tahun, ia beralih ke BASF. Berikutnya, ia mengibarkan perusahaan rekaman sendiri, Bursa Musik, pada 1992. Lalu, pada 1993 ia ke Malaysia mendirikan Incitec sebagai pengedar lagu-lagu Indonesia di Malaysia. Lantas, ia berlabuh di Polygram selama lima tahun. Kemudian, pindah ke EMI Music dan bekerja di sana selama setahun tiga bulan. Selanjutnya, hijrah ke Hypermind, perusahaan content provider musik, pada 2005-06. Dan awal 2007, ia masuk ke ke Warner Music Indonesia sebagai direktur pengelola.

Para pentolan musik itu membawa perubahan besar di major label yang dimasuki. Jan, misalnya, melakukan beberapa terobosan di Sony. Ia memelopori produksi album perdana kompilasi indie ten (album kompilasi 10 grup band yang belum dikenal), seperti Grup Padi, Coklat, Wong Pitu dan Kafein. Ternyata, Padi menjadi grup band papan atas yang layak diandalkan lantaran membukukan angka penjualan fantastis: 5 juta keping kaset dan CD untuk total album. Gebrakan kedua, mengangkat penyanyi atau band daerah. Dialah juga yang menemukan Sheila on 7 yang penjualan albumnya lebih spektakuler: 7 juta keping CD dan kaset. Tak ayal lagi, kedua grup band itu sempat menjadi mesin uang Sony.

Sementara itu, terobosan yang dilakukan Pak Iin di Aquarius adalah mengubah kiblat musik: dari sebelumnya condong ke lagu-lagu Barat, Aquarius kemudian diarahkan lebih serius menggarap artis lokal. Juga, memprakarsai musik pop kreatif di saat dunia musik di Tanah Air disesaki lagu pop sentimentil, seperti karya A. Riyanto, Pance Pondaag dan Rinto Harahap dengan penyanyi zaman itu, antara lain Obbie Messakh, Iis Sugianto dan Betharia Sonata. “Sementara Aquarius memperkenalkan era penyanyi pop baru seperti Ebiet G. Ade, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata dan January Christy,” kata bos 300-an karyawan itu. Juga, untuk distribusi kaset, Aquarius sengaja membuka toko sendiri yang kini ada empat gerai: dua di Jakarta, serta di Surabaya dan Bandung masing-masing satu.

Jusak tidak mau ketinggalan dalam membawa angin segar di Warner. “Saya selalu mencari konsep-konsep musik baru,” ujar pria 52 tahun yang lahir di Jakarta ini. Misalnya, bulan depan meluncurkan album pemain sinetron Ardina Rasti. Ia mengatakan, vokal Ardina unik karena umurnya 20 tahun, tapi suaranya seperti anak usia 14 tahun. Apalagi, seluruh lagu pop di album itu ciptaan Ardina.

Tak ada rumusan baku agar jitu mengendus calon artis top. “Semuanya berdasarkan feeling. Sebab, tidak bisa secara teoretis atau matematis dijabarkan,” ungkap Jan. Paling tidak, itu dinilai dari karakter penyanyi atau grup band, vokal, aransemen dan liriknya. Jawaban senada diungkapkan Jusak. Ia mengacu pada lima kriteria: lagu, lirik, cara menyanyi, aransemen musik dan penampilan. Bagaimana dengan Aquarius? “Sampai hari ini artis-artis yang datang ke Aquarius untuk bisa masuk dapur rekaman harus memenuhi kriterianya, antara lain, cocok dengan jalur Aquarius, punya karakter dalam bernyanyi, dan kesanggupan Aquarius membuatkan album yang bagus. Yang pasti, vokalnya mesti unik,” kata Pak Iin.

Ia menambahkan, sebenarnya tidak gampang menemukan calon artis top. Sejak Aquarius fokus menggarap artis lokal, hingga sekarang artisnya hanya 20-an. Mayoritas adalah penyanyi solo, di antaranya Melly Goeslaw, Rita Effendy, Ruth Sahanaya, Reza, Tere, Nugi, Katon Bagaskara, Ari Lasso, Bunga Citra Lestari dan Agnes Monica. Adapun grup band yang ditangani, antara lain, Pas Band. Selain jumlah artis yang terbatas, volume album yang dirilis pun tidak banyak. Total album artis lokal yang ditelurkan Aquarius hingga sekarang baru 200-an.

Jan menerangkan, artis solo dari Sony yang menjadi penyanyi top di antaranya Audy, Rio Febrian, Glenn Fredly, Yana Yulio plus Gita Gutawa. Adapun grup bandnya: Ratu, Sheila on 7, Padi, Coklat, Wong, Kafein, Kla Project, Dewa 19 (album perdana Kangen) serta Elfa Singer. Kemudian, Jusak berhasil melesatkan nama Nicky Astria, Krisdayanti, Anggun (saat berumur 14 tahun), penyanyi dan pencipta lagu Dewiq, Ube 40, grup band Element (model yang bisa main band), Radja, serta Maliq & D’Essentials (jaz).

Pantang bagi Jusak mengusung strategi bisnis me too. “Kami tidak mau ikut bersaing dengan musik yang sedang in. Prinsip Warner adalah menghasilkan musik-musik yang unik. Saya paling suka meng-create sesuatu yang belum ada di pasar,” katanya. Ia mencontohkan kasus Kangen Band yang gaya musiknya telah dilupakan orang. Sebab, produser berlomba membuat musik yang sophisticated, sementara Kangen menyuguhkan lagu minor yang disukai kelas C-D. Strategi kedua, bermain di setiap segmen pasar agar tidak ketinggalan. Jika ada pasar yang mati suri seperti dangdut, Warner tetap main dengan slow. Tujuannya, agar saat musik itu boom lagi, Warner tidak kelabakan.

Akan halnya Sony, menurut Jan, tak mau terjebak arus pasar. Misalnya, meski saat ini sedang musim lagu dangdut SMS dan Kucing Garong, Sony tidak mau ikut-ikutan. “Untuk sementara, kami break dulu dalam memproduksi lagu dangdut. Tapi sebelumnya kami sudah sukses menghasilkan album Kristina dan Ike Nurjanah,” ujarnya sembari menambahkan, penjualan lagu-lagu dangdut sekarang tidak banyak. Selain itu, pihaknya terpacu lebih giat dan kreatif dalam menemukan artis berbakat yang terpendam. Contohnya, Superman is Dead dari Bali ditemukan Jan, dan orang lain pun latah, ramai-ramai berburu talenta ke sana pula. Hal serupa pernah terjadi pada kasus penemuan Sheila on 7, sehingga banyak orang yang lari ke Yogya dengan harapan dapat mengulang kesuksesan Sheila on 7. Dan untuk memperbanyak pemasaran produk Sony, pihaknya merangkul semua agen besar (20 agen) untuk jaringan distribusi pemasaran CD dan kaset.

Strategi yang dipakai Aquarius kian mengukuhkan betapa pentingnya inovasi. “Kami tidak akan pernah ikut masuk ke musik yang sedang booming. Misalnya jika lagu anak-anak, reggae, atau rock meledak, pastilah kami masuk lewat jalur yang lain,” ungkap Pak Iin. Jurus kedua, mengorbitkan artis solo ketimbang band. Pertimbangannya, lebih fleksibel dibentuk, tapi konsekuensinya: biaya lebih gede. Jurus ketiga, tidak memperebutkan artis dengan cara bersaing memberikan fasilitas. Boleh dibilang kecocokan artis dan major label adalah jodoh. “Kami perlakukan artis sebagai partner dengan rasa kekeluargaan yang kental, sehingga Aquarius dijadikan rumah kedua,” ujarnya. Jurus lain? Untuk pencipta lagu, Aquarius tidak melihat dari nama besar sang pencipta, tapi hasil karyanya. “Meski pencipta tidak terkenal, kalau lagunya bagus, bisa dijadikan unggulan,” katanya. Ia mencontohkan, pada 2000 Bebi Romeo belum terkenal sebagai pencipta lagu, ternyata lagu ciptaannya berjudul Perbedaan untuk Ari Lasso membuat orang berdecak kagum. Juga, Ari Bias. Setelah menciptakan lagu Ku Tak Sanggup Lagi buat Krisdayanti, orang mulai salut padanya. Pun, Dewiq ngetop setelah menggubah lagu Cinta Pertama untuk Bunga Citra Lestari.

Dengan amunisi yang ampuh, para dedengkot musik itu terbilang sukses menapaki sengitnya kompetisi bisnis musik. Tak mustahil, major label yang mereka kelola tidak saja eksis, tapi juga terus maju. Mereka semua belajar secara otodidak di jalur musik lantaran pendidikan formal mereka berbeda sama sekali dari dunia yang mereka geluti. Tentu, masing-masing punya rahasia sukses sendiri. Apa resep keberhasilan Jan? “Pada dasarnya saya suka membuat atau mencetak market yang baru,” ujar Jan. Dan, itu sejalan dengan keinginan Sony menjadi pemimpin pasar. “Ibaratnya kalau orang lain nggak nengok, kami sudah jalan duluan,” pria kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1948, ini menambahkan. Kunci sukses Pak Iin terletak pada sikap yang konsisten, tapi fleksibel. Adapun Jusak menekankan pada kemauan untuk terus meningkatkan wawasan di bidang musik.

# Tag