Rahasia Ebhira Cetak Startup Berkualitas

Bagi Takeshi Ebihara, Indonesia ibarat lahan kosong yang belum banyak digarap. Melihat potensi bisnis tersebut, Ebihara mencoba merangkul mahasiwa-mahasiwa Indonesia yang memiliki ide dan bisnis di dunia digital atau lazim dikenal dengan sebutan startup. “Kini, Indonesia memasuki fase industri baru yakni bisnis digital,” jelasnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, dia terdorong untuk terjun dan bertemu langsung dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia melalui diskusi plus pelatihan, seperti yang pernah dilakukan di Institut Teknologi Bandung belum lama ini. “Saya melihat banyak potensi besar mahasiswa Indonesia, khususnya dalam startup. Ini bukti bahwa banyak talent yang masih belum diakomodasi. Untuk itu, saya siap merangkul mereka untuk melahirkan startup berkualitas,” ujar Chief Executive Officer Rebright Partners, tersebut.

Ebihara sempat bekerja selama 15 tahun di JAFCO, perusahaan venture capital terbesar di Jepang. Dia memiliki pengalaman panjang berinvestasi dalam teknologi startup dan beberapa dari mereka sudah go public. Dia juga memiliki pengalaman mengelola beberapa startup di Jepang dan mencetak puluhan start up hingga besar. “Tak jauh berbeda kondisi di Jepang dengan di Indonesia. Jepang sudah lebih mengalami fase ini, sementara Indonesia baru akhir-akhir ini,” ujar mantan President Design Exchange Co Ltd.

Lalu, bagaimana cara Ebihara mencetak startup berkualitas? Untuk mencetak startup berkualitas, katanya, hanya dibutuhkan dua hal. Pertama, komitmen membangun bisnis. Kedua, kerja keras untuk mencapai tujuan. “That's all. Everything else is secondary,” ujar penyandang gelar Sarjana Ekonomi ini.

Menurutnya, kesuksesan datang dari hasrat (passion) dan kegigihan dari setiap individu untuk berkomitmen merintis bisnis. Mengingat ini bisnis yang cukup unik, maka diperlukan kematangan dalam meramu konsep bisnis. “We want to deal with only those serious type of entreprenuers,” ujarnya menegaskan.

Melalui Batavia Incubator, Ebihara akan memberikan suntikan dana segar untuk pengembangan bisnis startup. Selain itu, hendak memberikan bimbingan, pengarahan dan pengawasan bagi startup yang dikelolanya. Batavia Incubator mengandalkan pengalaman panjang yang dimiliki Ebihara di Rebright Partners dalam bidang teknologi informasi di Jepang. “Investor kami terdiri dari perusahaan dan juga individu. Jika ada investor lokal (Indonesia) yang tertarik menanamkan uangnya, saya sangat senang sekali karena dapat membantu mereka untuk tumbuh besar,” Ebhira menuturkan.

Keseriusan Ebihara untuk menjaring mahasiswa bertelanta tidak main-main. Bersama, Suryanto Wijaya, Ebihara membentuk perusahaan inkubasi dengan nama Batavia Incubator. Batavia Incubator diciptakan untuk mengakomodasi bisnis startup. Saat ini, Batavia Incubator tengah mengasuh Bukalapak.com.

Bukalapak.com didirikan oleh Achamd Zaky dan Fajrin Rasyid, alumnus ITB. Bukalapak sendiri adalah sebuah platform commerce, di mana orang dapat menempatkan barang/produk untuk dijual dan menyediakan fasilitas bagi pengguna untuk membeli berbagai barang.

Paska dikelola oleh Batavia Incubator, kinerja Bukalapak.com semakin kinclong. Saat ini Bukalapak.com telah menampung 40 ribu merchant dan sampai akhir tahun menargetkan mendapat 100 ribu merchant. Mayoritas merchant menjual produk olahraga, fashion, dan otomotif. Bukalapak.com saat ini mencatat rata-rata 100 transaksi per hari dengan nilai produk yang terjual rata-rata sebesar Rp 2 juta per transaksi.

Saat ditanya berapa dana yang dikucurkan untuk mengakusisi Bukalapak, Ebihara enggan berkomentar. Namun yang pasti, akusisi Bukalapak.com sudah sesuai dengan ekpektasi dari dua pihak, Batavia Incubator dan Bukalapak.com. Batavia Incubator memiliki saham sedikitnya 25% di Bukalapak.com.

Impian Ebihara ke depan adalah mencetak pemuda dari seluruh dunia memamerkan kehebatan kemampuan bisnis mereka. Dia ingin menciptakan ekosistem pengusaha muda khususnya di bidang IT. Kesuksesan ekonomi Amerika Serikat dan Jepang tidak terlepas dari peran pengusaha muda. Rata-rata usia pendiri perusahaan besar atau top five biggest market capital di sektor IT adalah 25 tahun. Contohnya Steve Jobs di usia 21 tahun, Bill Gates 20 tahun, Sergey dan Larry di usia 25 tahun. “Bukan tidak mungkin kondisi tersebut bisa terjadi di Indonesia bukan hanya di AS dan Jepang,” dia meyakinkan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)