Raja Tas dari Kota Gudeg

Bosan sebagai agen penjualan Teh Botol Sosro dan Sabun Wings, Thomas Edi Susanto menyulap garasi rumahnya di Desa Rukeman, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, menjadi pabrik tas. Kendaraan yang dipakainya untuk memasuki industri tas adalah PT Gaya Bella Diantama (Gabella), yang didirikannya tahun 1991. Thomas enggan menyebut besar investasi yang dia tanamkan untuk pabrik tas itu. Yang diingatnya, waktu itu dia melihat ada peluang besar baginya di bisnis tas di Kota Gudeg. Kota yang juga dikenal sebagai Kota Pelajar itu juga menyediakan tenaga terampil yang cukup untuk bisnis barunya tersebut.

Begitulah, dengan dibantu 15 tenaga terampil, Thomas mulai memproduksi tasnya tahun 1991. Pemasarannya ia serahkan kepada petugas penjualan khusus, yang juga berfungsi sebagai pengamat tren tas di kota itu. Tas yang kira-kira digemari pasar segera diproduksi dan dilempar ke pasar dengan merek Champ. Metode ini rupanya cukup jitu. Champ segera diserap pasar. Pada saat sama, karyawannya semakin terampil dalam teknik pembuatan tas. Produk Gabella pun makin dicari orang, sehingga Thomas meningkatkan kapasitas produksi dan menambah karyawan sampai mencapai 75 orang.

Gabella melempar produknya dalam berbagai merek, antara lain Travel Pack, New Generation, G-Spirit dan Gabella. Produk ini lambat laun menjadi populer di daerah Yogya dan Jawa Tengah, sekaligus menjelma menjadi pesaing Eiger, Doddy, Exports dan Polo -? merek-merek tas Bandung yang lebih dulu hadir di pasar.

Toh, itu tak membuat Thomas, bos Gabella, merasa puas. Meski belum punya jam terbang tinggi, Gabella dibawanya melirik pasar mancanegara dengan mengikuti berbagai pameran. Upaya ini membuahkan hasil beberapa tahun kemudian. Tahun 1994, setelah mengikuti pameran, Gabella mendapat order membuat tas dengan merek Sediva untuk Los Angeles (Amerika Serikat) dan toll bag dengan merk Ideal dari Taiwan. Untuk memenuhi pesanan yang nilainya mencapai US$ 100 ribu tersebut, pria kelahiran 1957 ini membangun pabrik yang representatif dan menambah tenaga kerja hingga mencapai 250 orang. Sayang, keadaan menyenangkan itu tak berlangsung lama. Tahun 1995 pesanan dari AS dan Taiwan tiba-tiba berhenti. Padahal, Gabella baru saja membangun pabrik untuk memenuhi permintaan rutin dari pasar gemuk itu. Apa pasal? "Menurut informasi yang saya terima, perusahaan tas pemesan yang di Taiwan bangkrut, sedangkan di LA kisruh karena masalah keluarga," ungkapnya mengenang. "Saya pusing, karena waktu itu masih butuh dana banyak buat merampungkan pabrik," sambung Thomas.

Toh, alumni Institut Teknologi Bandung itu tak putus asa. Dia terus membangun kontak dengan pembeli di luar negeri dan membuka situs web. Usaha tak kenal lelah itu membuahkan hasil dua tahun kemudian. Begitulah, ketika banyak perusahaan lain terempas oleh krismon pada 1997, Gabella justru panen order besar dari luar negeri. Tak tanggung-tanggung, dia mendapat kontrak untuk memproduksi tas dengan merek California Bag senilai US$ 300 ribu/bulan. Selain itu, ia juga mendapat order dari CIAO Italy dan Picnic Time. Ini mendorong penyandang gelar insinyur ini menambah karyawan lagi hingga jumlahnya menjadi seribu orang yang bekerja dengan sistem shift. Pada saat sama, mesin produksinya juga ditambah hingga 600 unit. Pabriknya tidak lagi berupa garasi yang dimodifikasi, tapi pabrik beneran yang megah di atas tanah seluas 1 hektare.

Masa jaya Gabella berlangsung empat tahun. September 2001, setelah gedung kembar World Trade Center ditabrak dua pesawat, Gabella memasuki masa suram. Betapa tidak? Akibat peristiwa itu, semua order dari luar negeri berhenti. Omsetnya turun drastis. Nilai ekspornya yang semula mencapai US$ 300 juta/tahun, menosot tajam hingga tinggal US% 300 ribu saja. "Biasanya setiap hari kami mengirim satu kontainer," kata aktivis Rotary Club itu.

Menurut Thomas, sampai September 2001 AS memang merupakan pasar yang paling banyak menyerap produk Gabella, kendati perusahaan ini hanya sebagai tukang jahit. ?Desain dan merek California Bag itu sudah dipatok dari sana. Kami tinggal mengerjakan," jelas Thomas terus terang. "Cuma, kadang-kadang kami menawarkan desain kami sendiri. Tidak sedikit desain kami ngetren di mancanegara," sambungnya sembari tersenyum.

Sebetulnya, Thomas mengungkapkan, anjloknya pasar Gabella di AS tidak hanya dipicu peristiwa WTC. Masuknya Cina ke dalam WTO sejak 2001 juga merupakan faktor yang ikut menentukan. Sebab, sejak itu produk Cina dapat menyerbu pasar AS tanpa hambatan. Padahal, sebelumnya AS menerapkan kuota buat produk asal Negeri Tirai Bambu itu. Membanjirnya produk -- termasuk tas -- Cina ke AS telah mengubah peta bisnis. Banyak pembeli di Negeri Paman Sam memilih memesan barang langsung ke Cina yang harganya lebih rendah ketimbang produk Indonesia.

Terlepas dari persoalan tersebut, menyempitnya pasar AS membuat Gabella terpukul berat. Pukulan kedua ini bahkan membuatnya oleng. Ini bisa dilihat dari berbagai penghematan yang terpaksa dilakukan kemudian. Sekadar menyebut sebagian, Gabella merumahkan separuh lebih karyawannya, hingga tinggal 450 orang. Gabella juga mereorientasi bisnisnya, dari mengandalkan pasar ekspor menjadi lebih fokus pada pasar domestik.

Begitulah, dua tahun terakhir Thomas dengan Gabellanya mulai menggarap pasar negeri sendiri. Di pasar domestik yang selama ini agak diabaikan itu, kini Gabella telah melempar tas dalam 50 model lebih, termasuk yang telah dikenal seperti Travel Pack, New Generation, G-Spirit dan Gabella. Reorientasi bisnis ini memang tak sia-sia. Tas Gabella yang harganya dibanderol Rp 75-200 ribu/unit -- tergolong mahal dibanding pesaing, ternyata mendapat sambutan positif pasar domestik. Ini terlihat dari omsetnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut catatan Thomas, penjualannya mencapai Rp 300 juta/bulan. Itu baru dari 40 konternya yang tersebar di jaringan Matahari Dept. Store dan Gramedia. Angka ini tentu masuk akal mengingat satu konter Gabella di Malioboro saja bisa membukukan penjualan Rp 8 juta/bulan. "Omset Gabella di sini rata-rata Rp 8 juta/bulan. Tapi kalau lagi musim back to school sekitar bulan Juni-Juli bisa melonjak tiga kali lipatnya," kata penjaga konter Gabella di Matahari Mal Malioboro, Yogya, Dean Maharani.

Thomas yakin, penjualannya bisa ditingkatkan kalau saja, misalnya, Gabella mendapat space yang lebih luas di Matahari. Selama ini Gabella cuma menempati ruangan seluas 1x2 m2, terlalu sempit untuk bisa memajang semua produknya. Di sisi lain, banyak perusahaan besar yang juga mulai memercayakan produksi tas cenderamatanya kepada Gabella. Dari Garuda Indonesia, misalnya, Gabella diminta membuat 13 ribu tas sebulan. Telkomsel, Bank NISP, Bank Mega dan HSBC juga memesan tas pada Gabella.

Meski tampak sukses, bapak tiga anak ini mengaku belum berkonsentrasi penuh untuk menggarap pasar. Apa yang dilakukannya sekarang baru tahap uji coba. Pada tahun-tahun mendatang dia bertekad akan menggarap pasar domestik lebih serius lagi. Thomas menargetkan membukukan penjualan Rp 1 miliar/bulan. Maka, dia sudah pasang ancang-ancang membiakkan konternya menjadi 100 di berbagai mal dan dept. store. Gabella juga berencana membuka gerai sendiri. Pasar umum yang selama ini tak digubris, juga akan dimasuki. Konsumen di situ akan dihampiri Gabella lewat produk tas khusus buat anak sekolah. Ada dua merek yang disiapkan Thomas: Blue Star dan Side Walk.

Guna memenangi persaingan di pasar domestik, Gabella bermain di kualitas, bukan harga. Untuk itu, Thomas akan menerapkan kontrol kualitas ketat dalam proses produksi. "Untuk menjamin kualitas, kami akan menerapkan sistem garansi bagi setiap tas yang dijual. Jika sampai waktu tertentu tas kami rusak, akan kami ganti dengan yang baru," dia menegaskan. Ini sekaligus untuk meningkatkan citra Gabella sebagai produk bermutu. Selama ini perusahaannya cuma menggunakan sales promotion girls di konter-konter untuk memperkenalkan produk Gabella. Menurut Thomas, pasar dalam negeri amat menjanjikan. Apalagi, sambutan pasar terhadap Gabella terbukti amat positif. Bahkan beberapa waktu lalu, Gabella memenangi tender pengadaan tas haji senilai Rp 6 miliar. Di luar order semacam ini, Gabella memproduksi rata-rata 7 ribu tas/hari. Angka ini menjadikannya salah satu produsen tas lokal terbesar di Tanah Air.

Reportase : Gigin W. Utomo

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)