Runi Palar: 'Ratu Perhiasan' yang Ingin Terbang

I hope, I can fly,” ujar perancang perhiasan perak ikonik Soetjawaruni Kumala Palar berbicara soal mimpinya. Perempuan yang akrab disapa Runi Palar itu berambisi menjangkau dunia dalam memperkenalkan indahnya perhiasan perak. Berkat keuletan dan kerja keras, impian pun perlahan terwujud.

 

Memilih Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) dan melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung membuat Runi Palar seakan mendobrak 'pakem' kodrat wanita. Pasalnya, Runi terdidik dalam budaya yang menekankan bahwa perempuan seharusnya tidak menyentuh 'alat berat' yang dianggap bagian dari dunia pria. “Padahal di ITT, saya belajar teori permesinan dan perbengkelan seperti las dan serut kayu,” kenang Runi. Selain itu, Runi juga rela melepas dunia tari yang sempat ia geluti di Yogyakarta.

 

Dari kecil, saya memang berbeda dengan kebanyakan anak perempuan Yogyakarta. Kalau dulu anak-anak seusia saya gemar menggunakan warna-warna kalem, saya malah memilih warna terang,” kata ibu dari Miranda Risang Ayu Palar, Ayu Palar, Alvin Daniel Dipodi Palar dan Xenia Dani Tajiati Palar ini. Runi menilai, cara berpikirnya yang selalu out of the box dan open minded membuatnya mampu terus eksis di dunia perhiasan.

 

Ia membangun bisnis perhiasan melalui 3 perusahaan, yakni CV Runa yang didirikan tahun 1976 dengan menonjolkan simpliclity, Kirta Kaloka yang dibangun tahun 1996 dan ia menjadi Direktur Utama di PT Runi Palar. Ia memulai bisnis dari desain busana, kemudian melengkapi hasil karya busananya dengan atribut perhiasan yang akhirnya ia desain sekaligus. “Saya kalau belajar serius. Makanya ketika memutuskan untuk belajar desain, saya serius menekuni. Dan apapun bila ada kesempatan, sesulit apapun saya hadapi dan terjang. Saya betul-betul berkomitmen untuk mencapai sesuatu yang bukan hal biasa,” jelasnya yang dipanggil dengan nama 'Sensei' oleh pelanggan-pelanggan asal Jepang karena telah 36 tahun berkarya di bidang desain perhiasan.

 

Ciri khas Runi terletak pada unsur etnik, klasik dan simplicity. Tak hanya menjangkau konsumen Jepang, sejak 1977, Runi mengikuti pameran ekspor luar negeri dan menawarkan hasil karyanya ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa seperti Paris dan Belgia. Ia terus mengasah keterampilannya di bidang perhiasan silver sampai ke London, Inggris. Ia konsentrasikan bisnis fashion tersebut melalui Runa Jewellery. Positioning design Runi memang kalangan menengah atas.

 

Menurut Runi, bisnis perhiasan layaknya sebuah pertarungan. Ada lika-liku yang harus dihadapi dalam berkreasi maupun menciptakan pasar. “Tapi untungnya, pekerjaan ini membuat saya tidak cepat pikun” kata Runi santai. Ia juga tidak segan menularkan kiat sukses kepada anak-anaknya untuk eksis di bisnis perhiasan.

 

Bukti kesuksesan Runi antara lain sejumlah penghargaan yang diraih. Ia mendapat penghargaan The American Gold Star Award for Qualitiy, Award of Merit in Indonesian Fine Handicraft for Tourism, Srikandi Award dari International Management Indonesia, serta Best Fashion Accessories Designer dipilih FTV Paris (Fashion TV) pada acara Bali Fashion Week 2001. (Acha)

 


Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)