Salon Laris : Laris dari Masa ke Masa

Jangan membayangkan tempat indah yang didesain rapi dan berbau wangi. Salon yang satu ini berbeda. Berada di lantai dua ?- di gedung 6 lantai ?- ruangannya yang panjang dan terbuka memuat puluhan meja rias dan papan cuci rambut yang berderet. Desing suara pengering rambut serta celoteh para tamu dan penata rambut terdengar memenuhi seluruh ruangan. Seperti di pasar, ruangan yang cukup luas itu penuh orang, yang sibuk dengan tugas masing-masing.
Itulah suasana Salon Laris yang terletak di kawasan Pasar Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, setiap hari. Tak kurang dari 200 tamu berkunjung per hari, pukul 05.00-19.00. Umumnya, para tamu itu pelanggan tetap yang sudah puluhan kali datang. Buktinya, meskipun untuk menuju ke salon harus berjalan di antara para pedagang jajanan, mereka tidak bingung dan langsung menuju ke lantai dua. ?Tamu kami umumnya memang pelanggan lama yang sudah kenal kami sejak lama,? ujar Purwati, salah satu penata rias.
Didirikan tahun 1976 oleh Fatima (56 tahun), cikal bakal Love Laris -- demikian lengkapnya nama salon ini -- adalah Salon Venus (Jatinegara)yang dirintis tantenya, Cung Fong, sejak tahun 1950-an. ?Saya mengenal dunia salon sejak kelas III Sekolah Dasar,? Fatima memulai ceritanya. Waktu itu, ia diajari sang tante mencuci dan menata rambut, sampai menyanggul. Bahkan, pada hari libur Fatima bisa mendapatkan uang sebagai upah membantu di salon. ?Masih kecil saya sudah bisa cari uang di salon untuk membeli baju baru atau sepatu baru,? ujarnya mengenang.
Gara-gara keasyikan bermain di salon, Fatima malas melanjutkan sekolah. ?Saya hanya tamat SD. Sekolah saya jadi tulalit,? katanya terus terang. Namun, kendati tidak sekolah, naluri bisnisnya terasah tajam. Ketika meneruskan bisnis salon sang tante yang meninggal, Venus langsung berkembang pesat dan memiliki sejumlah pelanggan loyal. Pada 1976, Fatima tergerak mandiri dengan mengembangkan salon di lokasi baru.
Pilihan pertama jatuh di kawasan permukiman Benhil yang padat dan strategis karena dekat perkantoran. Awalnya, Laris menempati ruko di Jalan Benhil 1. Kemudian, tahun 1987, pindah ke gedung sendiri seluas 450 m2 yang dibangun secara bertahap hingga 6 lantai seperti sekarang. Seluruh lantai kini digunakan untuk kegiatan usahanya, dari salon, fitness, penyewaan baju pengantin, hingga menerima jahitan. ?Saya cuma mengikuti tren yang berkembang di dunia kecantikan,? kata Fatima ringan tentang layanan yang diberikan. ?Lantai 6 saya gunakan sebagai mess karyawan,? ujar bos dari 100-an karyawan ini.
Apa resep sukses salonnya? ?Mungkin salon ini dianggap murah,? Fatima menduga. Potong rambut, misalnya, hanya bertarif Rp 18-25 ribu. Biaya mandi lulur juga terbilang terjangkau, mulai Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung bahan baku dan layanan. Sementara itu, sewa gaun pengantin internasional plus make-up, Rp 500 ribu?5 juta. Adapun sewa gaun daerah, Rp 1?1,5 juta. ?Menurut saya, tarif itu paling pas bagi pelanggan saya,? ujarnya.
Fatima merasa tidak punya jurus khusus mengelola salon. Bahkan, ia mengaku tak memiliki konsep yang baku untuk membesarkan bisnisnya. Semuanya bergulir seiring dengan tren dunia kecantikan. Pokoknya, ia menyediakan apa yang ada di salon lain. ?Karena sekolah tidak tinggi, jadi saya belajar dari pengalaman saja. Setiap kali terbentur, saya mengubahnya. Seperti itu terus,? tuturnya. Ia memberi contoh, misalnya ada keluhan dari pelanggan, segera ia perbaiki sambil mencari tahu kesalahannya.
Ibu dari lima anak angkat ini memang terlihat tanpa beban mengembangkan usaha. Ia pun juga tidak muluk-muluk mewujudkan impiannya. Bahkan, ketika ditanyakan apa cara promosi yang dilakukan, ia hanya menggeleng. Mengenai promosi salonnya di situs laris.html/planet.com dan weddingchannel.com, ia hanya berujar, ?Wah, saya tidak tahu apa-apa. Mungkin anak buah saya di cabang yang memasangnya, tapi mereka tidak bilang.?
Di balik kepolosannya, keberadaan Fatima sudah diakui di dunia kecantikan. Setidaknya beberapa media asing pernah menulis tentangnya, seperti The Age dari Australia yang mengupas seputar masalah pemutih (whitening). ?Ah, itu hanya ngobrol-ngobrol,? ujar Fatima yang pernah belajar kecantikan di Hong Kong dan Singapura.
Kini, Fatima tidak hanya memiliki salon di Benhil. Enam cabang salonnya tersebar di Jakarta Timur, Cipinang?Jatinegara. Masing-masing cabang dikelola saudara dekatnya. Menurutnya, salon yang di Benhil masih yang terlaris di antara yang lain. Di Laris Benhil, setiap stylist mampu menangani lima pelanggan per hari. Dengan 20 stylist di situ, maka ada 100-an tamu untuk urusan rambut saja. Di salon lain, jumlah tamu tak ada separuhnya. ?Kami memang harus terus menata diri,? ujarnya ringan.
Jangan heran, salon ini penuh suasana kekeluargaan. Banyak karyawannya yang membawa sanak saudara atau teman sekampung bekerja di sana. Setelah mendapat pelatihan dan belajar sambil bekerja, barulah mereka ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan bakat dan kemahirannya.
Kepada anak buahnya, Fatima menegaskan, mereka tidak boleh menganakemaskan seorang pelanggan dengan memberikan layanan eksklusif, berbeda dari pelanggan lain. Di salonnya, semua harus antre, tak ada istilah pelanggan eksklusif yang perlu didahulukan. ?Siapa mau cepat, ia harus lebih pagi datang,? tandas Fatima yang juga mulai merambah bisnis ritel, dengan mengelola sejumlah toko di Mangga Dua dan Mal Ambasador, Jakarta.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)