Sejarah dan Mitos Sekolah Bisnis Harvard

EKO WIDODO, Dosen Program Studi Magister Administrasi Bisnis, Unika Atma Jaya, Jakarta

Judul Buku : The Golden Passport: Harvard Business School, the Limit

of Capitalism, and the Moral Failure of the MBA Elite

Pengarang : Duff McDonald

Penerbit : Harper Collins Publishers

Cetakan : Pertama, Juni, 2017

Tebal : ix + 657 halaman

Nama Sekolah Bisnis Harvard atau Harvard Business School (HBS) telah melegenda di dunia. HBS menjadi model atau rujukan utama bagi pengembangan sekolah bisnis di berbagai belahan dunia, dari dulu hingga saat ini. Namun, di balik nama besar yang disandangnya, ternyata banyak sisi gelap yang luput dari perhatian publik selama ini. Penulis buku ini berusaha menelanjangi mitos HBS sebagai sekolah bisnis yang didewa-dewakan. Dengan mengetahui segala kelebihan dan kekurangannya ini, kita justru dapat belajar lebih banyak darinya.

Buku ini mencoba menelusuri sejarah pendidikan manajemen dan berkembangnya program MBA (Master in Business Administration) yang dituturkan dengan melihat perjalanan sejarah dan berbagai dinamika yang terjadi di sekolah bisnis tersebut. Kisah digali dari pendiri, pengelola, serta tokoh-tokoh manajemen modern maupun eksekutif perusahaan, politisi dan ekonom lulusan HBS. Awalnya, HBS didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan masyarakat yang saat itu mulai beralih dari masyarakat agraris ke masyarakat industri yang lebih kompleks. Para pendiri HBS meyakini, pengembangan bidang bisnis merupakan hal yang baik bagi masyarakat. Bisnis adalah jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Ini paradigma pendidikan baru waktu itu. Umumnya, sekolah masa itu didirikan untuk melayani kepentingan publik, bukan kepentingan individu atau perusahaan. Tak mudah mengubah pandangan ini, bahkan awalnya pendidikan di HBS dipandang sebagai metode yang membahayakan bagi kemajuan pengetahuan dan perkembangan masyarakat dan universitas, karena sifat pendidikannya yang cenderung amat praktis dan hanya berorientasi pada kepentingan jangka pendek.

Dalam perkembangannya, pengaruh HBS ternyata tak sebatas pada pendidikan bisnis, melainkan juga terhadap organisasi tempat para alumninya berkarya dan perekonomian secara luas. Bidang bisnis yang tadinya kurang diperhatikan, pengaruhnya malah membesar dan meluas. Berkembang ke semua aspek kehidupan masyarakat sehingga kemudian dipandang menjadi penguasa dunia yang sesungguhnya. Kekuatan bisnis mampu membentuk dan memberikan arah baru bagi perkembangan peradaban banyak bangsa di dunia hingga saat ini. Keberadaan dan sepak-terjangnya merupakan bentuk paling riil dari ideologi kapitalisme. Bahkan, pemerintah pun menjadi pihak yang tidak berdaya secara efektif untuk mengendalikan kepentingan bisnis yang sering kali berbeda dengan kepentingan masyarakat luas. Perkembangan bisnis hingga seperti ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh HBS dan para tokohnya.

Tantangan HBS pada masa awal pertumbuhannya adalah terjadinya depresi besar di AS pada 1929. Salah satu penyebabnya, sistem pendidikan yang terlalu spesialisasi. Karena itu, HBS menghadirkan pendidikan bisnis yang bersifat generalis. HBS menyadari bahwa kata yang penting dalam “Master in Business Administration” bukanlah kata “business” namun kata “administration”. HBS menekankan bahwa lulusannya tidak hanya dapat mengelola bisnis, namun mampu mengelola dan mengatasi masalah apapun, baik di ranah publik atau privat. Tak heran, alumni HBS mampu berkecimpung di berbagai bidang kehidupan yang sangat luas. Lulusan HBS mampu memahami dan menangani organisasi yang semakin kompleks. Manajer dituntut paham banyak hal karena dunia berubah sangat cepat. Apa yang telah dipelajari pada waktu tertentu dengan cepat menjadi usang. Maka, persoalan yang muncul perlu ditangani oleh orang yang lebih bersifat generalis yang tidak semata terpaku pada bidang keahlian khusus, agar lebih mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan.

HBS terkenal karena kiprah para tokoh besar yang dihasilkannya. Frederick W. Taylor, dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah (scientific management). Elton Mayo dan Chester Barnard dikenal sebagai tokoh manajemen klasik. Tokoh-tokoh besar di bidang manajemen modern juga dihasilkan HBS, sebut saja Michael Porter yang terkenal dengan strategic competitive, Clayton M. Christensen dengan disruptive innovation, Stephen Covey dengan seven habits, dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut menjadi figur utama dalam pembahasan manajemen modern beberapa dekade belakangan ini. Juga para eksekutif perusahaan besar semacam Ratan Tata, Sheryl Sanberg dan Meg Whitman yang kiprahnya di dunia bisnis melegenda di dunia. Begitu pula banyak tokoh yang mewarnai dunia perpolitikan AS adalah alumni HBS seperti George W. Bush, Robert McNamana, Mitt Romney, dan lainnya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mereka telah membentuk wajah kapitalisme seperti yang kita kenal selama ini.

Kini, setelah lebih dari satu abad berdiri, HBS telah menjadi institusi yang berpengaruh. Mungkin dia bukan sekolah bisnis pertama yang didirikan, namun pengaruhnya cepat dominan. Begitu besarnya pengaruh HBS, sehingga pernah dikatakan bahwa nasib peradaban Barat terletak di tangan para elit intelektual bisnis ini, yang semuanya berpusat di HBS. Tidak ada institusi lain yang bertanggung jawab atas terbentuknya perilaku bisnis di AS dengan segala kebaikan dan keburukannya lebih daripada HBS. Di sini kerap terlihat arogansi HBS dalam memandang dirinya. Bahkan, HBS sering merasa lebih besar dari Universitas Harvard yang menjadi induknya. Rasa percaya diri yang berlebihan ini juga memengaruhi sikap alumninya dengan segala sepak-terjangnya.

Pendidikan di HBS juga kerap dicitrakan bertujuan menghasilkan kapitalis-kapitalis industri yang baik. Salah satu program yang menonjol adalah diperkenalkannya program sekolah khusus untuk para eksekutif perusahaan yang dikenal dengan sebutan Advanced Management Program (AMS). Para eksekutif perusahaan yang berasal dari berbagai latar belakang mulai belajar manajemen secara singkat di HBS. Ini menjadikan HBS terlihat terlalu serakah karena untuk masuk AMS, orientasi yang ditonjolkan bukan kepandaian namun semata-mata urusan uang. Jika Anda mampu membayar mahal, gelar lulusan Harvard dapat dengan mudah Anda sandang. Gelar itu akan menjadi paspor emas (golden passport) bagi Anda untuk masuk ke segala bidang, yang tidak sebatas ranah bisnis, namun juga berbagai jabatan publik. Dengan belajar di sekolah ini, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tapi lebih penting dari itu adalah prestige dan jaringan (network) di kalangan elit yang lebih bermanfaat bagi pengelolaan bisnis di masa depan.

HBS memang mampu menelurkan lulusan yang brilian mengelola bisnis. Namun, masyarakat membutuhkan lebih dari itu. Yakni, orang yang dapat bertindak bijaksana – ini yang sulit ditelurkan HBS. Bisnis tak pernah menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat selama populasi yang berkecimpung memimpin bisnis itu diisi individu-individu yang hanya memiliki pikiran sempit. Kehancuran dan kemunduran suatu masyarakat berawal dari para pimpinannya yang hanya berpikir jangka pendek untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Salah satu kriteria utama untuk menilai baik buruknya sebuah sekolah bisnis adalah prestasi lulusannya. Dalam hal ini, HBS memiliki segalanya, baik maupun buruk. Jadi, banyak pula alumninya yang memiliki reputasi merusak tatanan masyarakat dengan tindakannya. Misalkan Jeff Skilling, otak yang membawa Enron dan bisnis lainnya ke jurang kehancuran. Kasus Enron menunjukkan kurang pedulinya alumni HBS terhadap masalah sosial dan lingkungan. Mereka hanya terpaku bagaimana cara meraih keuntungan besar dalam waktu singkat.

Dekade 2000-an adalah masa penting bagi HBS, saat dunia Barat kembali dilanda resesi. Sebagian sebabnya, para ekonom dan pelaku bisnis tak mampu mengantisipasinya. Malahan, banyak eksekutif perusahaan besar, yang sebagian besar alumni berbagai sekolah bisnis, berkontribusi terhadap krisis ekonomi. Mereka adalah orang-orang terpilih. Orang-orang brilian dan bergaji tinggi dengan segala keistimewaannya, namun ternyata tak mampu mengantisipasi dan mengatasi krisis karena cenderung berpikir jangka pendek. Beberapa alumni malah terjebak menjadi selebritas saja; sering tampil di media namun hasilnya tidak memadai. Dalam kasus HBS, kolusi antara bisnis dan politik sedemikian akutnya, sehingga kepentingan masyarakat luas terabaikan. Melihat sejarah HBS ini, ke depan sekolah bisnis ini harus memperbaiki citranya sehingga berbagai cerita tentangnya tidak sekadar mitos.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)