Sela

"Saya dengar Jakarta sudah punya lesehan, ya Pak?" "Iya, tapi tak ada Djuminten." Jalan mendaki melewati Kemetiran, terus ke utara, menjangkau kawasan baru yang terasa asing bagi saya.

Pak Trisno semula menolak, ketika saya ajak duduk di dalam warung gudeg yang cukup beken ini. "Wah, saya tunggu di becak saja," ujarnya. Dengan menerima alasan ada yang ingin saya ceritakan, ia akhirnya bersedia duduk di seberang kursi saya di sebuah pojok ruang yang tak seberapa luas itu.

Sambil menikmati nasi gudeg komplet -- Pak Trisno hanya memesan nasi gudeg dengan tahu dan kerecek -- saya berkisah tentang Becak Goes Global. Becak sudah masuk Belanda, Inggris, Prancis. "Becak dikayuh, sopirnya di depan. Laris, padahal tarifnya mahal," saya mengawali cerita. "Bayarnya pakai dolar, ya Pak?" "Lha iyo. Di Groningen, Belanda, ya gulden, di London, poundsterling, di Paris dhuwite franc. Pak Trisno nggak ingin mbecak di Belanda?"

Lelaki yang mengaku "baru" berusia 72 tahun, tapi masih kekar itu termenung. "Cari makan di Belanda. Ya, cari ya cari, di Yogya saja ada rezeki, Pak. Yang penting mendapat, dan mensyukuri apa yang kita dapatkan, Pak. Mbecak di kota ini memang lelah, tapi kita tidak kalah."

Dalam perjalanan pulang, becak melewati toko yang menjajakan barang-barang elektronik. "Edan, televisi sak hohah harganya Rp 10 juta. Pingin ora, Pak?" kata saya sedikit mengagetkannya. "Ingin ya ingin. Tapi, ya hanya berhenti pada keinginan. Di rumah saya sudah punya televisi. Kecil, 14 inci. Saya bersyukur bisa membelinya, tidak ngutang lewat kredit. Para tetangga, terutama anak-anak, saya silakan nonton di rumah saya. Biar mereka juga dapat menikmati ketoprak, wayang kulit, atau dangdutan. Kalau mereka senang, hidup ini kan juga indah untuk kita nikmati bersama. Dan saya melakukannya dengan senang hati, tanpa mengharap akan beroleh apa-apa dari mereka. Saya ini kan ibarat saluran berkat bagi orang lain," tuturnya dengan mantap.

Toko-toko di sepanjang Jalan Malioboro mulai menutup pintu. Digantikan penyaji makanan dan minuman yang rasanya tak seberapa, tapi harganya sungguh-sungguh "berapa" rupiahnya.

Permintaan saya untuk berhenti di depan Benteng Vredenburg dituruti. Namun, ajakan saya untuk menyeruput wedang ronde ditolaknya dengan lembut. Ia juga menolak halus lembaran rupiah bergambar Ki Hadjar Dewantara. Malam itu saya belajar banyak dari Pak Trisno. Dia tidak menamakan dirinya suhu, fasilitator, pencerah, atau pemilik gelar yang sepertinya gagah gemerlap. Bukan, dia tidak "makan sekolahan", dia hanya seorang pengamat dan penghayat kearifan hidup yang merasa selalu hidup dalam nikmat kehidupan yang dijalaninya.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)