Shanti L. Poesposoetjipto: Tantangan Terbesar Bisnis Keluarga Adalah Regenerasi

Dalam buku “When Family Businesses are Best” yang ditulis Randel Carlock dan John Ward, bisnis keluarga kerap dianggap sebagai bisnis yang dijalankan tidak profesional. Apa yang menjadi stereotip Anda mengenai family business? Tidak jarang jawabannya adalah tidak efektif, penuh dengan nepotisme dan konflik keluarga, ataupun tidak menarik. Faktanya, riset yang dikemukakan dalam Journal of Finance menemukan kalau bisnis keluarga mengalahkan perusahaan publik dalam hal harga saham dan return on equity. Untuk mengulas tentang bisnis keluarga lebih dalam, Ario Fajar dari SWA mewawancarai Shanti L. Poesposoetjipto, pakar dari Family Business Network Asia Pacific. Berikut petikan wawancaranya:

T: Apa kelebihan bisnis keluarga menurut Anda?

J: Sebetulnya, hampir sebagian besar bisnis yang tercipta yang ada selama ini berasal dari bisnis keluarga. Contohnya perusahaan saya. Belajar dari pengalaman , group kami terbentuk dari mereka yang jenuh menjadi karyawan. Pada akhirnya mengantarkan Bapak saya – Soedarpo- beserta temannya membangun bisnis ini karena melihat peluang waktu itu.

Kelebihannya adalah dari segi visi dan idealisme. Dua hal itu yang menjadi kelebihan, nilai tambah dan merupakan landasan utama. Idealisme di sini maksudnya mau dan berkomitmen membangun bisnis itu berdasarkan kapasitas kemampuan dan keseriusan melihat peluang tadi untuk dijadikan sebuah bisnis.

T: Lho, bukankah bisnis keluarga yang tumbuh (skala kecil), belum memiliki visi panjang?

J: Itu yang membedakan dengan bisnis ayah saya. Bisnis ayah sudah sudah punya kerangka dan sistematis kala itu. Kenapa? Karena ayah saya memiliki pengetahuan akademis yang mumpuni dan kemahiran membentuk atau membuat usaha (perusahaan)

T: Lantas kelemahannya seperti apa?

J: Bisnis keluarga itu sebetulnya jangan dilihat ada atau tidak adanya kelemahan atau kekuatan. Kalau kita bicara bisnis keluarga aspeknya bisa dua : ownership atau management.

T: Apa yang harus diperhatikan dalam membangun dan atau membawa bisnis keluarga lebih berkembang?

J: Ada dua perangkat norma yang perlu diperhatikan. Dua perangkat norma yang harus diperhatikan oleh pemilik dan manajer perusahaan keluarga dalam menghadapi anggota keluarga yang mau bekerja di perusahaannnya adalah 1. Norma keluarga dan 2. Norma bisnis/usaha dalam hal seleksi, balas jasa, penilaian prestasi dan pelatihan.

T: Tantangan apa yang kerap ditemui?

J: Saya direkrut sebagai profesional oleh ayah saya. Saya tidak pernah, diiming-imingi untuk meneruskan bisnis tersebut. Saya dididik sebagai anak yang harus memiliki kemampuan seperti pendidikan yang matang. Karena dengan itu, saya bisa survive.

Tantangannya terbesar mentranformasikan dan mendelegasikan apa yang diinginkan oleh pendiri ke penerus/generasi berikutnya/profesional agar apa yang ia inginkan bisa ditanggap oleh penerus. Karena kalau dulu, ayah saya melakukan apa-apa sendiri, sekarang berarti butuh penataan yang lebih sistematis.

Peran manajer profesional dalam bisnis keluarga adalah untuk membantu pelaksanaan operasional perusahaan, untuk bertindak sebagai penegak dalam membangun budaya kerja disiplin di perusahaan.

T : Bagaimana pengelolahan sumber daya manusia?

J: Salah satu cara memadukan kepentingan perusahaan dan kepentingan keluarga adalah memisahkan ownership dan managemen. Kepentingan keluarga dirembuk,disepakati dan dirumuskan melalui dewan keluarga.Kepentingan perusahaan dirembuk, disepakati dan dirumuskan melalui dewan komisaris.

T : Bagaimana Ayah Anda melakukan kaderisasi atau memperkenalkan bisnis ke Anda dan yang lain?

J: Saya digembleng oleh bapak sebagai orang profesional. Saya diperkenalkan ke dunia bisnis sejak kecil. Jadi dari kecil saya tahu lingkungan ini. Setelah besar, saya diberi kesempatan untuk menghadiri rapat atau meeting, pertemuan penting, urusan joint venture atapun jika ada penananam modal. Dari proses itulah saya berlahan paham dunia ini dan kultur perusahaan.

T: Kaderasi yang baik dan benar seperti apa?

J: Si pendiri harus memiliki political will, bahwa dia ingin melakukan kadersiasi. Suksesi bisa dipersiapan bukan hanya kepada anak- anak saja tapi juga bisa orang lain. Kaderisasi yang baik yah sejak sedini mungkin memperkenalkan bisnisnya pada lingkungan keluarga. Tentunya dengan berbagai macam cara dan tahap. Setiap keluarga punya gayanya masing-masing.

T: Pembagian peran dan posisi seperti apa jika belajar dari pengalaman Anda? Bagaimana pembagian peran yang benar?

J: Tidak ada referensi (nepotisme). Itu jawabnya. Setiap orang harus tahu kapabilitas dan kapasitas kemampuannya masing-masing Bisnis keluarga-kelaurga. Contohnya kami: walaupun perusahaan ini milik ayah saya, tapi segala sesuatu sama harus mengikuti prosedur dan dari bawah.

T: Cara mengatasi konflik akibat kecemburuan atau permasalah posisi jabatan seperti apa?

J: Konflik tidak akan terjadi jika setiap individu tapi kapasitas masing-masing. Karena kami tahu kemampuan kami dibidang apa, sehingga konflik bisa dihindari.

Dalam mengelola SDM diperusahaan, pemilik dan manager sebaiknya : mengenal dan menbedakan perangkat norma keluarga dan norma bisnis, tidak membiarkan salah satu perangkat nilai mendominir keputusan dan tindakannya, pandai memadukan kedua perangkat nilai itu hingga membawa hasil yang optimal bagi perusahaan dan keluarga.

T: Agar nilai-nilai keluarga bisa menjadi energi perusahaan, apa dan bagaimana yang perlu dilakukan?

J: Itu tergantung sistem dan nilai yang dianut bersama. Nilai-nilai yang kami anut seperti kejujuran, intergritras, etika, dan displin. Itu yang selalu ditanamkan oleh ayah saya. Ketika sudah menjadi kebiasaan pada setiap individu, maka bisa menjadi “budaya” dalam bisnis. Nilai-nilai keluarga amat penting dalam nafas perusahaan, apalagi norma agama.

T: Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menjalankan bisnis keluarga?

J: Yang perlu di ingat sekarang bukan apa yang boleh dan tidak boleh. Yang namanya kalau bicara bisnis, kita harus menerapkan aturan bisnis atau aturan perusahaan. Yang namanya norma keluarga, yah mesti tahu aturan keluarga. Sekali lagi, itu tergantung dilingkungan mana kita berada. Kalau berada dilingkungan bisnis, ya mesti ikut tata tertib dan peraturan perusahaan tersebut.

T: Perusahaan keluarga yang bagus itu seperti apa menurut Anda?

J: Saya tak bisa menjawab itu dengan pasti. Karena setiap perusahaan keluarga punya aturan dan caranya masing-masing. Ada perusahaan keluarga yang memiliki aturan satu generasi hanya pimpinan saja. Colour perkembangan bisnis keluarga tergantung pada bakat dan kemampuan dari anak-anak atau generasi penerus.

T: Strategi apa yang harus dilakukan agar bisnis keluarga semakin solid?

J: Kalau hal itu, butuh kesepakatan dari keluarga tersebut. Setiap keluarga punya ramuan dan kaca matanya masing-masing dalam membesarkan bisnis mereka.

T: Seberapa penting komunikasi dalam menyolidkan bisnis keluarga?

J: Wah sangat penting. Bahkan 200% . Dari komunikasilah kelanggengan dan keharmonisan bisnis ini dibangun. Idealnya 3 bulan sekali perlu ada pertemuan informal. Apalagi kalau ada rapat pemegang saham, perlu pertemuan yang inten.

T: Parameter sebuah bisnis keluarga sukses dan berhasil sebenarnya apa?

J: Sama saja kok. Ini bukan berasal dari “keluarga” atau bukan. Keluarga-nya itukan dari sisi ownershipnya, tapi ketika berada dilingkungan bisnis yah masuk pada managemen bisnis.

Bisnis yang sukses sudah tentu ada keterbukaan, transparansy dan akuntabilitas. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)