Smart Inginkan Insentif Pajak di Produk Hilir

Sebagai perusahaan yang memproduksi crude palm oil (CPO), PT Sinar Mast Agro Resource and Technology (PT Smart) mengakui bahwa industri
ini sangatlah potensial. Namun, untuk menambah greget, pemerintah seharusnya memberi insentif pajak di produk hilir yang memiliki value  added.

“Kami berharap pemerintah membantu dari sisi regulasi untuk produk-produk hilir dengan cara memberi insentif perpajakan. Dengan begitu, produsen tidak hanya mengekspor bahan baku saja tetapi juga bahan olahan sehingga dapat mempekerjakan buruh lebih banyak lagi sekaligus memperkenalkan merek Indonesia di luar negeri. Kami meminta dukungan pemerintah dari sisi regulasi, kemudahan ekspor dan perpajakan,” kata Chief Operating Officer Downstream PT Smart Tbk, Harry Hanawi.

Anak perusahaan Grup Sinar Mas ini memproduksi CPO mulai dari membuat bibit, menyediakan perkebunan kelapa sawit, CPO, kilang (refinery),
hingga mendistribusikan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. PT Smart Tbk sebelumnya bernama PT Maskapai Perkebunan Sumcama Padang
Halaban yang didirikan pada 1962 di Sumatera. Pada 1992, PT Maskapai Perkebunan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya dan
baru pada 1999 nama PT Maskapai Perkebunan berubah menjadi PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk.

Berbagai sertifikasi tersebut dicapai berkat kontribusi yang penting dari lembaga penelitian SMART atau biasa disebut SMARTri (SMART
Research Intitute). “SMARTri merupakan tempat mencari bibit baru yang lebih efisien dan lebih besar bibitnya daripada bibit yang ada saat
ini. Untuk ke depan, PT SMART berencana mendirikan Research and Development Center di Marunda agar dapat melakukan inovasi lebih jauh lagi,” kata Harry.

Pada 2010, PT SMART meningkatkan kapasitas pabrik penyulingannya sebesar 240.000 ton atau 800 ton per hari sehingga total kapasitas produksi mencapai 1,4 juta ton per tahun. Terdapat peningkatan total penjualan ekspor pada 2010 jika dibandingkan pada 2009 sekitar 9%. Namun, total penjualan ekspor yang meningkat 9% ini, nilainya meningkat 20% dari  US$ 914 juta pada 2009 naik menjadi hampir US$ 1,1 miliar. Jika dilihat dari total penjualan, perusahaan mengalami peningkatan 9%, tetapi dari nilai ekspor naik 20%.

Untuk kategori minyak goreng, volume penjualan ekspor minyak goreng mendekati 11 ribu ton. Ekspor minyak goreng tersebut paling banyak ke
Filipina dengan porsi 43% dari total ekspor minyak goreng dan Afrika 39%. Sisanya, minyak goreng diekspor ke Maladewa, negara-negara Timur
Tengah, Timor Timur, Bulgaria, walaupun presentasenya kecil. Untuk kategori produk turunan lainnya dari CPO, yaitu margarin, maka pasar
ekspor terbesarnya adalah Afrika sebesar 70% dari total ekspor dan terbesar kedua adalah Korea.(Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)