Start-Up yang Mengandalkan Bakat dan Nyali

Bagi Rosana, pameran di Bogota merupakan arena dagang luar negeri yang pertama. Ia yakin melalui pameran seperti itulah buyer bisa digaet, seperti ketika dia mengikuti pameran di Gedung JEC Yogyakarta dan berhasil memikat pedagang dari Bali yang kini menyedot 5 ribu potong pakaian tiap bulan. Karena itu, ia serta-merta menyambut undangan Kedutaan Besar Indonesia di Bogota untuk mengikuti pameran. Rosana merupakan satu-satunya peserta yang ikut dari ratusan undangan yang disebar KBRI Bogota. Adapun peserta lain ikut atas undangan Badan Pengembangan Ekspor Nasional.

Memang, dari pameran itu, Rosana belum mendapatkan buyer. Namun, melihat riuh rendahnya pengunjung, dan banyaknya pertanyaan dari pemilik butik pakaian, ia optimistis deal bisnis hanyalah soal waktu. ?Yang penting, produk saya sudah dikenal, dan alamat saya juga sudah di tangan mereka,? tandasnya.

Ibarat bunga, bisnis Rosana memang baru mulai mekar. Bisnis ini dibangun di atas fondasi bakat dan semangat kewirausahaan, bukan modal uang. Tengoklah bagaimana tamatan SMEA Negeri Klaten ini menggulirkan bisnis. Dimulai 1996, dua tahun setamat SMEA, Rosana menggelar dagangan stiker di emperan toko. Stiker yang ia jual merupakan hasil karya sendiri, buah dari hobi melukisnya sejak di sekolah dasar.

Selain menggelar dagangan secara lesehan, Rosana juga membuat album sampel yang pemasarannya dititipkan kepada anak-anak sekolah. Dari sini ia terus menerima pesanan. ?Pasarnya cukup bagus karena stiker scotlight yang saya bikin saat itu baru pertama kali ada di Klaten,? tutur anak pensiunan pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan ini. Keberhasilan itu membuat posisi tawar Rosana di mata para pemilik toko meningkat, sehingga ia diterima membuka gerai di dalam toko. Kini ia tak perlu lagi lesehan karena telah memiliki tiga gerai stiker yang juga menjual aksesori seperti kalung dan gelang dari manik-manik.

Setelah bisnis stikernya berjalan, Rosana melirik kerajinan tangan. Awalnya, ia tertarik pada kerajian tas dari eceng gondok, goni dan mendong karena saat itu sedang ngetren. Namun kemudian, ia melirik baju lukis. ?Setelah saya amati, ternyata konsumen cenderung memilih pakaian,? katanya. Untuk menghasilkan aneka motif seperti bunga, buah serta etnik seperti Asmat, Indian, Mesir dan Afrika, Rosana melibatkan beberapa pelukis. ?Saya memberi alternatif kepada teman-teman yang punya bakat melukis untuk mengembangkan diri,? ujar wanita yang mengorganisasi 9 pelukis itu. Sementara untuk memproduksi pakaian, ia mengoperasikan 10 mesin jahit dengan kapasitas 250 potong baju/hari.

Di tangan Rosana kini ada bisnis stiker, baju lukis dan warung steak yang melibatkan 33 pekerja. Dari tiga bidang itu, perhatian utamanya tercurah pada bisnis pakaian. ?Saya akan terus meningkatkan kualitas sambil terus berpameran,? ujarnya penuh semangat.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)