Stres Kerja Membutuhkan 'Penyembuhan Jiwa'

Emosi adalah pengalaman yang bersifat subjektif atau dialami berdasarkan sudut pandang invidu. Selain itu, emosi berhubungan dengan konsep psikologi seperti suasana hati, temperamen, kepribadian dan disposisi. Di dunia kerja, emosi berperan penting dalam meningkatkan profesionalitas individu. Karenanya, jiwa perlu 'disehatkan'.

Pernyataan tersebut diungkapkan Pendiri Emotional Healing Indonesia (EHI), Irma Rahayu. “Kalau sampai rasa takut kehilangan, maka kita bisa jadi robot kan? Kalau emosi ditiadakan maka kita sama dengan patung, tanpa ekspresi sama sekali,” tegas perempuan yang mendirikan EHI pada 28 Oktober 2008.

Irma melihat semakin banyak orang mengalami dan menghadapi masalah. Masalahnya pun unik dan juga rumit. Bukan hanya seputar kesehatan fisik, masalah tersebut juga terkait kesehatan roh atau jiwa. Masyarakat semakin banyak mengalami stres, depresi dan bingung mencari jati diri. Menurutnya, 99% masalah kesehatan fisik (penyakit) bersumber dari emosi manusia itu sendiri. Itulah yang menjadi fokus utama Irma melakukan penyebuhan.

Emosi sangat berdampak besar terhadap kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Yang paling sulit adalah memberitahu ke orang lain bahwa hal tersebut sangatlah nyata. Emosi sangat mempengaruhi kondisi fisik dan kesehatan,” ujar perempuan kelahiran 28 Oktober 1974.

Untuk bisa mengatasi suatu kasus maka penyebab terjadinya penyakit fisik dan mental harus diketahui. Karena itu, seseorang membutuhkan emotional healing therapy yaitu mencari akar masalah, menetralisi energi negatif, dan mendapatkan solusinya secara tepat, cepat dan tentu saja melalui jalan yang benar.

Contohnya, banyak orang dalam satu hari menimbun berbagai masalah yang tidak atau belum terselesaikan. Misalnya, ketika seseorang berhasil menyelesaikan tugas kantor, namun saat memberikan laporan pada atasan, sang atasan malah meminta untuk membuat ulang laporannya karena dianggap tidak sempurna. Padahal ketika melakukan tugas tersebut, rasanya seluruh kemampuan sudah dikerahkan.

Hal tersebut akan menimbulkan perasaan kecewa, merasa tidak mampu, atau parahnya menjadi marah dan dendam pada si atasan. Namun karena soal etika dan masalah perut (takut dipecat), akhirnya emosi itu ditahan dan dipendam jauh di dalam tubuh sehingga menimbulkan penyakit, tanpa disadari,” kata Irma lagi.

Ia menemukan bahwa timbunan emosi sangat berpengaruh besar pada kesehatan fisik. Terbiasa menyimpan rasa marah bisa menyebabkan darah tinggi dan stroke. Begitu juga dengan kebiasaan menyimpan emosi lainnya. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)