Listed Articles

Tekad IPB Mendunia, Ini Dia Caranya

Tekad IPB Mendunia, Ini Dia Caranya

Dengan motto Membumi dan Mendunia, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB tak hanya ingin sekedar membagi ilmu yang bermanfaat di masyarakat, tetapi juga bisa berkiprah di dunia internasional. Itulah harapan terbesar Arif Satria, Dekan FEMA IPB saat menjalin kerjasama dengan Fakultas Kesehatan Universitas Kebangkitan Malaysia, Jeju University di Korea dan St. Mary’s University di Kanada yang sudah dimulai sejak 2011-2016. “Kami akan mengirim mahasiswa S2 dari FEMA ke Kanada. Untuk S1, rencananya tahun 2016. Dari Kanada, sudah ada 3 orang yang ingin melakukan riset di FEMA, bertindak sebagai research fellow. Untuk yang Korea, kami mengirim mahasiswa Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen untuk pertukaran mahasiswa selama setahun,” katanya.

Menurut dia, kehadiran Diaspora sangat membantu program ini. Mereka adalah penghubung antara Indonesia dengan dunia internasional. Sudah banyak lulusan IPB yang melanjutkan studi keluar neger dan selanjutnya memutuskan menetap di sana. Contohnya, kerjasama dengan dosen IPB yang sekarang bermukim di Jepang sebagai peneliti, yakni Zainal Abidin. “Tinggal di luar negeri, bukan berarti tidak berbakti terhadap bangsa dan negara. Mereka justru aset untuk memberi informasi bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, membantu program studi banding dan pertukaran mahasiswa,” ujarnya.

Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB

Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB

Kontribusi Diaspora yang lain, lanjut dia, juga sangat penting. Misalnya, kerjasama riset di bidang konservasi laut yang juga melibatkan mahasiswa. Manfaatnya bisa ganda karena hasil risetnya bisa dipresentasikan di hadapan mahasiswa dan masyarakat di Indonesia, tapi juga di Kanada. Selain program studi banding, pertukaran pelajar, ada juga program double-degree yang dilakukan oleh mahasiswa S2 dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Dia menjelaskan, kerjasama dengan universitas di luar negeri akan memberi banyak manfaat untuk IPB.

“FEMA juga menjadi lebih dikenal, akses pada riset kolaborasi lebih mudah, dan publikasi internasional lebih banyak. Banyak pandangan publikasi internasional tidak penting karena tidak sesuai dengan pendekatan grass root, tapi saya melihat melalui hal itu sebagai pintu untuk masuk ke international policy. Karena orang yang terlibat disana adalah orang-orang yang secara internasional dikenal karena tulisannya,” katanya.

Arif menjelaskan, kerjasama tersebut juga mendorong mahasiswa IPB untuk melihat dunia luar. Mereka memiliki pembanding untuk setiap program yang akan dilaksanakan. Harapannya, ke depan lulusan IPB memiliki daya saing lebih tinggi dan diakui secara internasional. Indonesia akan menjadi tujuan belajar mahasiswa asing tentang pertanian dan perikanan tropis. Dengan membuka jalan untuk mahasiswa luar negeri belajar ke Indonesia, nama Indonesia akan semakin harum. “Mahasiswa asing bisa menjadi PR Indonesia di mata internasional. Kami akan terus mengevaluasi dan memperbaharui ilmu dan kurikulum mengarah pada perubahan dan ilmu yang relevan dengan kondisi saat ini,” ujarnya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved