Tingkat Keterlihatan Iklan Digital di Indonesia Naik

Integral Ad Science. (sumber foto: Glassdoor)

Integral Ad Science (IAS), perusahaan verifikasi iklan digital asal Amerika Serikat baru saja merilis laporan "Media Quality Snapshot for the year of 2019"

Disebutkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan viewability iklan digital bergambar di komputer desktop. Secara keseluruhan naik 62,7% pada 2019 (dari 54,3% pada 2018). Hal ini terjadi untuk seluruh metode pembelian iklan (buy type).

Indonesia juga mengalami peningkatan viewability iklan digital bergambar dan terprogram di komputer desktop (programmatic desktop display), yakni mencapai 71,0% (kenaikan sebesar 2,0 poin persentase dari 2018). Selain itu, tingkat viewability iklan digital bergambar di aplikasi mobile di Indonesia juga melonjak untuk seluruh metode pembelian iklan.

Tingkat viewability iklan digital bergambar di aplikasi seluler tercatat sebesar 61,9%. Sementara, tingkat viewability iklan digital terprogram mencapai 59%, dan viewability iklan digital yang langsung dibeli dari penerbit media (publisher direct) mencapai 63,1% pada 2019.

Indonesia mengurangi risiko merek (brand risk) secara drastis di berbagai platform dan inventori iklan, khususnya di inventori iklan yang disediakan penerbit media (publisher direct inventory).

Secara keseluruhan, risiko merek pada iklan digital bergambar di komputer desktop berkurang menjadi 7% pada 2019, turun dari 19% pada 2018. Risiko merek pada iklan digital yang langsung dibeli dari penerbit media menjadi 6,9% pada 2019, turun dari 24,8% pada 2018. Penurunan risiko merek juga terjadi pada iklan digital bergambar di aplikasi seluler, yakni secara keseluruhan tercatat sebesar 7,7% pada 2019, turun dari 19,7% pada 2018. Risiko merek pada iklan digital yang dibeli langsung dari penerbit media berkurang drastis hingga menjadi 7% pada 2019, turun dari 22,9% pada 2018.

Di Indonesia, kampanye periklanan yang dioptimalkan untuk mengatasi aksi penipuan iklan menyebabkan frekuensi aksi penipuan yang stabil secara tahunan pada 2019. Aksi penipuan iklan untuk inventori iklan digital bergambar di komputer desktop tercatat sebesar 0,6% pada 2019 (0,6% pada 2018). Sementara, Indonesia juga mengalami frekuensi aksi penipuan iklan yang stabil untuk inventori iklan digital bergambar di aplikasi seluler pada 2019, baik iklan terprogram dan iklan yang dibeli langsung dari penerbit media.

Frekuensinya sedikit menurun, yakni masing-masing sebesar 0,1 poin persentase. Untuk kampanye periklanan yang tidak dioptimalkan untuk aksi penipuan iklan, frekuensi rata-rata aksi penipuan iklan di dunia naik menjadi 12,8% pada 2019 (12,4% pada 2018) untuk iklan digital bergambar di komputer desktop, dan naik menjadi 12,3% untuk iklan digital bergambar di peramban seluler (9,6% pada 2018).

"Kami melihat adanya peningkatan 'viewability' di Indonesia, khususnya 'viewability' inventori iklan terprogram di komputer desktop yang menembus 70%. Hal ini terjadi berkat maraknya aktivitas pembelian iklan lewat metode terprogram untuk inventori iklan premium, serta pemanfaatan teknologi verifikasi iklan demi memastikan mutu inventori iklan yang sebaik-baiknya," ujar Laura Quigley, Managing Director, SEA, Integral Ad Science.

Ia menambahkan, kalangan pengiklan di Indonesia harus terus menilai strategi 'brand suitability'-nya secara berkala, serta memakai perangkat mitigasi aksi penipuan iklan di perangkat desktop dan seluler.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)