Trik Ford Terapkan 'Satu Pakaian' di Indonesia

Diferensiasi produk seringkali menjadi unsur utama bagi perusahaan untuk meraup perhatian masyarakat. Namun bagi Ford, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat, penerapan satu 'benang merah' dalam produksi mobil secara global menjadi visi untuk berkembang. Lalu, bagaimana cara Ford jualan di pasar Indonesia meski mengusung prinsip One Ford Global (OFG)?

 

Visi OFG pertama kali diperkenalkan pada 2008, meski rencana ini sudah 'dimasak' setahun sebelumnya. Visi ini berarti perusahaan mencari kesamaan kebutuhan di pasar Eropa, Amerika dan Asia lalu menerapkannya di suatu produk yang nantinya dijual secara golobal. Salah satu 'kesamaan' yang ditonjolkan adalah efisiensi bahan bakar. Untuk hal tersbeut, hampir semua konsumen di seluruh negara menjadikan unsur itu sebagai kebutuhan.

 

Kesamaan lain yang kami tekankan di pasar global adalah desain dan kualitas mobil yang bagus dan modern. Fitur teknologi keamanan pun menjadi kebutuhan bersama. Ford berusaha mengakomodir hal tersebut. Kalaupun kami tidak kompetitif, but we are the best in this segment,” kata Direktur Pengelola PT Ford Motor Indonesia, Bagus Susanto.

 

Menurut Bagus, fitur teknologi dalam produksi mobil menyerap biaya yang relatif mahal. Agar biaya tersebut dapat ditekan, produksi mobil harus dilakukan secara global. Untuk kawasan ASEAN, Ford memiliki global production hub di Thailand. Karena ekspor sesama negara ASEAN tidak dikenakan pajak, Ford akan melakukan penambahan 1 hub berkapasitas 150 ribu unit di tanah seluas 75 hektar di Thailand untuk mengimbangi permintaan.

 

Untuk menyikapi perbedaan kebutuhan, Bagus menegaskan bahwa Ford mengantisipasi hal tersebut dengan strategi pemasaran. Jika dilihat dari kacamata positif, produk yang hadir di bawah bendera kebijakan OGF memungkinkan satu produk bisa diterima di semua negara. OFG pun menjadi panduan seluruh karyawan melaksanakan budaya kerja. “Meski saat ini kami bekerja di Indonesia, namun dalam pelaksanaan aktivitas, kami selalu berkoordinasi dengan regional office di Asean ataupun tim Asia Pasifik di Shanghai. Tak jarang kami turut berkoordinasi dengan tim kantor pusat di Detroit, Amerika Serikat,” kata Bagus lagi.

 

Selain itu, Bagus menekankan pentingnya koordinasi tim dalam menerapkan OFG di Indonesia. “Hal paling menarik adalah kita tidak bisa bekerja independen tapi bekerja secara tim.” Tantangan terbesar adalah bagaimana melihat dan memahami situasi di berbagai negara.”Kita juga harus melihat karakter yang unik sehingga solusi yang muncul bisa mengembangkan keunikan tersebut,” kata Bagus lagi.(Acha)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)