Usia Senja Tak Halangi Ade "Membisniskan" Koran Bekas

Meski berusia paruh baya, Ade Awati (56 tahun) tidak lantas menjalani hidup tanpa tantangan. Berbekal keinginan mandiri, Ade berinisiatif membuat peralatan rumah tangga yang terbuat dari koran bekas dan minuman ringan. Produk tersebut berupa tatakan gelas, piring, tatakan sayur, vas bunga, bakul, tempat payung hingga hiasan dinding.

Bermodal awal hanya 100 ribu untuk beli lem dan gunting, Ade tetap membulatkan tekad berbisnis dari bahan baku yang sudah banyak tersedia di rumah. Sejak mendirikan usaha itu, banyak tawaran dan perimtaan yang datang. Produk karya Ade dijual mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu. Ada yang dijual per set, namun ada pula yang dijual satuan. Produk yang paling banyak diminati adalah vas bunga yang berkisar Rp 35.000 dan tempat payung yang dibandrol seharga Rp 100.000. Dalam sehari, Ade mampu menjual belasan hingga puluhan item.

Untuk mengerjakan produknya, Ade dibantu suami, anak, dan beberapa keluarga lainnya. Jika orderan sedang tinggi misalnya, maka ia bisa memperkejakan 5-7 orang. Namun dalam kondisi normal, hanya 5 pekerja yang membuat seluruh produk. Dibutuhkan waktu satu hingga tiga hari untuk membuat satu produk. Tergantung tingkat kesulitan produk tersebut. Sebagai pelaku usaha kecil, Ade sangat senang bisa diakomodasi usahanya oleh pemerintah daerah Kota Bekasi. “Sama sekali tak ditarik biaya apapun untuk ikut pameran ini. Ini bentuk keseriusan pemda bagi kami pelaku usaha kecil,” ujarnya.

Menurut Ade, sejauh ini perhatian pemda Bekasi kepada pelaku usaha mikro di daerahnya, Perumnas, Bekasi Selatan, cukup besar. Mulai dari penyuluhan tentang bagaimana pentingnya membangun sebuah usaha rumahan dikalangam ibu-ibu komplek hingga bagaimana cara mengembangkan bisnis hingga besar. Ade pun merasa senang karena selalu mendapat informasi tentang pameran-pameran yang biasanya rutin dilakukan Pemda Bekasi.

Namun Ade berharap Pemda Bekasi harus lebih giat lagi menginformasikan jika ada layanan pemberian modal bagi masyarakat yang ingin membangun usaha. Pasalnya, ia sendiri sulit mendapatkan modal dari sejumlah bank yang enggan mengucurkan dananya karena alasan “ketidakjelasan” usaha dan jaminan. Padahal, Ade dan warga ditempatnya memiliki keinginan yang besar untuk membangun usaha sendiri. “Untuk acara pameran-pameran seperti Pemda Bekasi sangat perhatian sama kita. Tapi soal bantuan modal, saya belum pernah dengar dan tak tahu bagaimana caranya,” curhat Ade.

Di tempat ia tinggal, banyak warga yang membangun usaha dan kini sudah bisa menikmati hasil. Ade mendukung program pemerintah daerah yang selalu memberikan kesempatan kepada warganya dalam berwirausaha. Ia berharap perhatian pemda juga jangan melulu tertuju pada wirausaha kelas kakap yang sudah mapan usaha dan besar omsetnya, tapi juga wirausaha baru yang butuh pengarahan dan bimbingan untuk berkembang seperti usaha baru yang sedang ia rintis belum lama ini.”Saya beri nilai 8 buat Pemerintah Daerah Bekasi,” jawab Ade. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)