V8sound.com, Si 'Raksasa Suara' yang Membanggakan Indonesia

Harry Aprianto Kissowo berhasil membawa nama Indonesia di pentas internasional lewat produk V8sound.com. Berawal dari rasa penasaran atas spesifikasi speaker mahal, Harry mencoba untuk membuat perangkat sendiri. Berbekal pendidikan teknik elektro dan kesukaannya akan dunia artistik, Harry yakin sukses.

Pada 2006, Harry berhasil menyelesaikan produk bernama Minime V8Sound.com. Nama V8sound.com disematkan karena terinspirasi dari kesukaannya akan mobil-mobil muscle car Amerika yang selalu memakai mesin dengan spesifikasi V8 berkapasitas 5000cc. “Mesin itu powerfull. Jadilah saya kasih nama V8sound,”katanya. Merek speaker sebeanrnya adalah v8sound.com, di mana nama itu adalah nama situsnya sendiri sehingga memudahkan orang untuk mengingat dan mencarinya dan meminmalisir pemalsuan karena speaker itu hanya ada di situs miliknya.

Selain itu, kata Minime terinspirasi dari karakter fiksi dari film Austin Powers, yaitu makhluk kecil yang menjadi musuh Austin Powers. Speaker Minime setidaknya mirip dengan karakteristik itu. Beratnya hanya 9 Kilogram dan besarnya hampir sebesar kardus mie instan etapi mempunyai suara yang mampu menandingi produk berkualitas lain “Filosofinya adalah kecil, ringan tetapi output suara yang bisa dihasilkan sangat powerfull. Ini karena kita punya referensi sound yang bagus jadi bisa mengembangkan produk yang bagus juga, ” kata Harry.

Sekarang ini, V8 sudah dipakai di hampir seluruh televisi nasional dalam acara mereka terutama saat perayaan ulang tahun dan acara musik. V8spund juga dipakai untuk acara kenegaraan seperti pelantikan Presiden SBY yang kedua, penyambutan Presiden Obama dan penobatan Doktor Honoris Causa untuk Sultan Brunei dari Universitas Indonesia.

Produk V8 diminati oleh acara kenegaraan karena selain kecil, tetapi juga terkandung nasionalisme di dalamnya. Tanpa sengaja, Harry memberikan sentuhan warna merah putih. Ini terjadi karena saat itu V8 ditarik ke atas seperti menarik bendera merah putih. “Saya tidak mengerti kenapa saya pakai warna itu. Cara pasangnya dikerek seperti bendera, jadi kalau pakai warna merah putih kayaknya seru juga. Rupanya pak SBY suka,”katanya. Harry menyebut Presiden sebagai anak band karena ketelitian beliau dan peduli hingga masalah soundsystem. SBY juga adalah satu-satunya presiden yang datang saat sound check.

Keinginan awal Harry membuat speaker memang hanya untuk rental. Unsur terpenting bagi Harry adalah produk yang kecil, ringan tapi powerfull. Nilai tambah lainnya adalah V8 berharga murah, tidak gampang rusak, mudah dipasang dan tidak merusak mata alias menyesuaikan keindahan tampilan panggung. Hal ini karena memang untuk memenuhi permintaan kru.

Speaker sendiri mempunyai kategori suara yaitu Hi-fi dan Hi-SPL (Sound Pressure Level). Yang termasuk Hi-SPL itu adalah speaker mesjid. Sedangkan audio di rumah biasanya hanya Hi-fi termasuk audio di dalam mobil. Sedangkan ada juga speaker high-end yang harganya puluhan juta, Bahkan di Thailand, terdapat speaker yang mencapai harga Rp 2 miliar. “Kalau V8 Hi-fi dan Hi-SPL, itulah yang disebut kategori Pro Audio,”katanya.

Di masa depan, Harry ingin mengikutkan V8 dalam festival sungai di Frankfurt yang diadakan setiap tahun. Agustus besok festival itu dimulai. Festival sungai tersebut diikuti oleh semua negara yang mempunyai perwakilan di Jerman. “Ramai sekali itu. Ada yang jualan makanan dan sebagainya. Indoensia jual angklung tapi angklungnya ga kedengaran. Soundnya jelek. Mereka stress. Tahun depan saya ingin mereka pakai V8, pasti akan bagus sekali,”katanya.

Harry mengatakan bahwa kini speaker merek lokal sudah banyak yang mualai membuatnya, tetapi belum ada yang mempunyai standar untuk pameran di Frankfurt. “Ini kalau jatuh tidak apa-apa karena ada reinforcement khusus. Bandel, anti jebol dalam waktu dekat. Kehujanan juga tidak apa-apa, karena memang sudah di treat anti air,”promo Harry. Menurutnya speaker kalau dipakai tidak sesuai standar akan rusak dalam 5 menit, tetapi kalau benar pemakaiannya bisa tahan 15 tahun.

Sampai sekarang V8 sudah diekspor ke Swiss, Myanmar, Singapura, dan Cina. Sayangnya Harry enggan mengatakan berapa nilainya. “Masih kecil sekali karena kita baru mulai tahun lalu,” katanya. Penjualan untuk ekspor sendiri dilakukan dengan bantuan teman Harry di Singapura. Lebih lanjut Harry mengatakan bahwa citra Indonesia masih buruk di dunia internasional.

Sebetulnya pasar Indonesia akan berkembang dengan sendirinya kalau pasar ekspor sudah bagus. Memasarkan di luar negeri adalah salah satu misi saya. Makanya saya ga pernah pameran di Indonesia. Pameran di Indonesia saat orang sudah mulai aware. Karena orang Indonesia memang seperti itu, suka dengan barang yang berbau luar negeri,”katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)