Waspada, Guru Jadi Korban 'Siksaan' Murid di Internet

Seiring perkembangan teknologi, fenomena 'cyberbaiting' merebak di lingkup digital. Tren tersebut menunjukkan perilaku anak-anak yang mengejek guru dan mengabadikan reaksi tertekan guru melalui video ponsel. Tidak hanya itu, anak-anak kini mulai memanfaatkan kartu kredit orang tua untuk berbelanja online. Waspadalah!

 

Berdasarkan data Norton Online Family Report, satu dari banyak contoh mengejutkan penggunaan jejaring sosial untuk perilaku buruk adalah cyberbaiting. Siswa awalnya melukai atau menyudutkan guru hingga dia tertekan, merekam kejadian tersebut pada perangkat mobile mereka lalu mereka mengunggah (upload) rekaman itu secara online untuk mempermalukan guru dan pihak sekolah. Satu dari lima guru secara pribadi pernah mengalami atau mengetahui guru lain yang pernah mengalami fenomena ini.

 

Orang tua dan guru memainkan peranan penting dalam menjaga anak-anak – dan diri mereka sendiri – aman saat online, dan Norton Online Family Report tahun ini menunjukkan suatu kebutuhan akan edukasi lebih lanjut,” kata Effendy Ibrahim, Internet Safety Advocate & Director, Asia, Consumer Business, Symantec.

 

Meskipun 63% orang tua mengatakan mereka berbicara kepada anak-anak mereka mengenai keamanan saat online, sepertiga (34%) tetap secara diam-diam mengecek penggunaan online anak mereka dan 25% mengecek jejaring sosial anak-anak mereka tanpa sepengetahuan anak-anak tersebut. “Hal yang harus dilakukan orang tua adalah melakukan diskusi terbuka dengan anak pada lingkungan yang aman seperti rumah atau sekolah agar proses edukasi lebih efektif,” kata Ibrahim lagi.

 

Terkait cyberbaiting, 67% guru mengatakan menjadi teman dengan siswa mereka di jejaring sosial menghadapkan mereka pada resiko tersebut. Namun, 34% terus menjadi “teman” dengan siswa mereka. Meski demikian, hanya 51%, mengatakan sekolah mereka memiliki kode etik mengenai bagaimana guru dan siswa berkomunikasi satu sama lain melalui sosial media. 80% guru menganggap perlu lebih banyak edukasi keamanan saat online di sekolah, posisi tersebut didukung oleh 70% orang tua.

 

Selain itu, 23% orang tua yang mengijinkan anak mereka menggunakan kartu debit atau kredit mereka untuk berbelanja online mengatakan anak mereka menjadi boros. Namun, 30% orang tua mengatakan bahwa anak-anak mereka menggunakan kartu debit atau kredit mereka untuk berbelanja online tanpa persetujuan mereka. Lebih dari setengah orang tua (53%) yang membiarkan anak mereka belanja online menggunakan akun belanja online mereka melaporkan bahwa anak mereka telah menggunakannya tanpa izin.

 

Tapi menghemat uang bukanlah satu-satunya alasan untuk membuat aturan yang jelas mengenai belanja online dan perilaku Internet yang aman. 87% orang tua yang anaknya menjadi korban kejahatan cyber juga telah menjadi korban juga – sebuah peningkatan tajam dari rata-rata global sebesar 69% diantara orang dewasa yang online di seluruh dunia.



--

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)