Waspada, Inflasi Menghantui Masa Depan RI

 

Meskipun ekonomi Indonesia tidak terlalu terguncang krisis Eropa dan Amerika Serikat, negara dengan tingkat GDP 6,5% ini masih harus waspada. Pasalnya, meningkatnya permintaan domestik mendorong laju inflasi. Meski angka inflasi tahun ini masih berkisar di bawah 5%, di 2012, inflasi Indonesia dikhawatirkan menyentuh rasio 6,2% hingga 6,5%.

 

Pernyataan tersebut diungkapkan Chief Economist HSBC untuk kawasan ASEAN dan India, Leif Eskesen. “Kebijakan moneter Indonesia memang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan iklim permintaan domestik yang tinggi. Namun, Indonesia harus waspada terhadap rasio inflasi yang mungkin meningkat,” tegas Leif.

 

Pertama, inflasi meningkat disebabkan permintaan komoditas yang besar-besaran. Ini terjadi bila produsen tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, permintaan tidak sebanding dengan penawaran. Harga pun melonjak. “Biaya perusahaan pun meningkat dan suplai tidak mampu memenuhi demand sepenuhnya. Pertumbuhan permintaan yang kuat inilah yang menjadi alasan utama inflasi,” kata Leif lagi.

 

Kedua, kemungkinan inflasi muncul akibat bencana banjir di Thailand, khususnya untuk sektor bahan makanan. Harga beras dan komoditas impor dari Thailand diperkirakan naik mengingat barang dari negara tersebut menjadi berkurang dan terbatas. Faktor terakhir adalah depresiasi rupiah.

 

Karena itu, pemerintah Indonesia harus melakukan reformasi struktural untuk mencegah inflasi besar-besaran. Dikhawatirkan, inflasi akan menyakiti lapisan masyarakat Indonesia yang berada di tingkat ekonomi di bawah rata-rata,” kata Leif.

 

Reformasi struktural dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, pemerintah Indonesia harus memunculkan undang-undang agraria dan pertanahan yang kondusif. Kedua, meningkatkan kualitas infrastruktur. “Undang-undang agraria diperlukan untuk mencegah ketergantungan atas komoditas di Thailand. Selain itu, infrastruktur menjadi tanggung jawab utama pemerintah agar supply chain dapat berjalan dengan baik,” tegas Leif.

 

Yang terakhir, reformasi struktural dapat mencakup liberalisasi bisnis. “Dengan kondisi ekonomi dan bisnis yang lebih baik, investor tidak perlu merasakan birokrasi yang berbelit-belit,” kata Leif. Indonesia memang sedang 'di atas awan'. GDP Indonesia diperkirakan mencapai 6,7% di 2012. Di sisi lain, angka pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan 1,8% hingga akhir 2011 dan 1,8% di 2012. Selain itu, proyeksi pertumbuhan Eropa sangat lemah yaitu 1,6% di 2011 dan 0,6% di 2012.



--

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)