Waspada, Smartphone Jadi 'Ladang Baru' Hacker

Hacker kini mengincar smartphone masyarakat. Beberapa perusahaan keamanan online menemukan perangkat lunak berbahaya yang ditujukan ke smartphone berbasis Android. Malware ini tidak hanya memperoleh data penggilan telepon masuk dan keluar, tetapi juga seluruh catatan panggilan.

Kita saat ini dalam tahap percobaan keberadaan malware seluler dengan berbagai orang jahat mulai mengembangkan model bisnis mereka,” ujar Kevin Mahaffey, salah satu pendiri Lookout Inc, produsen software seluler yang berbasis di San Francisco. Smartphone kini menjadi semacam 'dompet', penyimpan pesan elektronik perusahaan, album foto dan lainnya. Karena itu, besar kemungkinan bagi hacker untuk mencuri data keuangan pengguna. Bahkan, malware terbaru mampu menciptakan biaya layanan yang tidak diinginkan, merekam semua panggilan, menghambat pesan teks, bahkan mengirim email, foto dan konten secara langsung ke server penjahat.

Orang jahat mengincar tempat berkumpulnya uang,” ujar Charlie Miller, peneliti utama di Accuvant Inc, perusahaan sekuritas. “Semakin banyak orang menggunakan dan menyimpan data di ponsel dan PC tidak lagi relevan, orang jahat akan mengikuti fenomena itu. Mereka sangatlah cerdas. Mereka tahu inilah saatnya untuk mencari cara baru.”

Google Inc melaporkan telah menghapus 100 aplikasi berbahaya dari toko aplikasi Android Market. Satu aplikasi berbahaya itu rata-rata diunduh (downloaded) 260 ribu kali sebelum terhapus. Andorid menjadi sistem operasi paling populer dengan lebih dari 135 juta pengguna di seluruh dunia. Jika berbicara soal keamanan, smartphone 'berbagi' masalah dengan PC. Infeksi produk selalu ditanggung oleh konsumen dan menyebabkan banyak masalah.

Lookout melihat banyak strain unik di malware Andorid dalam beberapa bulan terakhir, padahal tahun lalu hal tersebut belum muncul. Salah satu malware bernama 'DroidDream' sudah diunduh lebih dari 260 ribu kali sebelum Google menghapusnya. Aplikasi berbahaya seringkali menyamar sebagai produk normal seperti game, kalkulator, foto porno dan video. Mereka juga bisa muncul dalam link iklan di sebuah aplikasi.

Meskipun begitu, Google tetap berusaha membela diri. Google menekankan bahwa fitur keamanan Andorid didesain untuk membatasi interaksi antara aplikasi dengan data pengguna. Selain itu, jika pengembang melanggar aturan, mereka akan diblokir. Pengguna juga diberi peringatan soal data pribadi apa saja yang bisa diakses oleh aplikasi tersebut. Begitu pula dengan Apple. “Apple menganggap masalah keamanan sebagai hal yang sangat serius,” ujar juru bicara Apple, Ntalie Kerris. “Kami memiliki proses yang sangat ketat dalam menganalisis semua aplikasi. Kamu juga melakukan pengecekan identitas dari semua pengembang. Jika kami menemukan sesuatu yang berbahaya, pengembang akan dihapus dari iPhone Developer Program dan aplikasi mereka akan terhapus dari App Store.”

Studi terbaru University of California menemukan bahwa layar smartphone membuat alamat situs tidak muncul sepenuhnya sehingga pengguna berisiko 'lengah' untuk memasukkan user id dan kata kunci ke situs palsu. “Studi menemukan bahwa link dalam aplikasi bisa sangat mudah dibuat dalam bentuk tiruan,” kata mahasiswa Ph.D, Adrienne Porter Felt, dan profesor ilmu komputer David Wagner. Selain itu, pengguna seluler yang selalu 'nyala' dan menanggapi pesan elektronik lebih cepat membuat penyebaran situs phising terjadi lebih cepat.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)