Waspada, Software Bajakan di Laptop Bermerek

Banyak pihak yang menganggap bahwa laptop bermerek dan mahal pasti 'diisi' dengan sistem operasi resmi. Sayangnya, kesalahpahaman
tersebut dimanfaatkan oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Beberapa vendor diketahui melakukan hard disk loading.

Hard-disk loading adalah salah satu bentuk pembajakan software yang terjadi ketika toko komputer atau gerai eceran menawarkan loading dan
penginstalan software palsu atau bajakan kepada pelanggan yang ingin membeli komputer baru. Baru-baru ini, empat vendor komputer
mengiklankan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat di beberapa media masa terkemuka, sebagai bentuk komitmen mereka untuk
melindungi para pelanggan agar tidak menjadi korban pembajakan serta tidak akan menjual komputer dengan software bajakan di kemudian hari.

Menurut penyidik yang ditunjuk Microsoft, dealer tersebut menginstal software bajakan pada komputer baik pada merek-merek lokal maupun
merek-merek terkenal. Bahkan, penemuan penyidik yang terbaru mendapati dealer komputer di Gajah Mada Plaza telah menjual laptop merek
terkemuka yang memanfaatkan software bajakan.

"Dealer-dealer yang menjual komputer dengan software bajakan tersebut memberikan risiko kepada konsumen yang dampaknya akan dirasakan di
kemudian hari, pada waktu yang tidak disangka-sangka atau tidak tepat. Coba bayangkan bila Anda kehilangan semua data berharga, pekerjaan dan
foto-foto tepat sehari sebelum ujian atau presentasi bisnis, hanya karena komputer crash yang disebabkan oleh virus dan malware yang ada dalam software bajakan,” kata Sudimin Mina, Director of License Compliance Microsoft Indonesia.

Bahaya bertambah besar bila konsumen melakukan transaksi perbankan online dengan software bajakan yang diinstal di komputer. Rekening
bank konsumen bisa saja dibajak. Selain itu, menurut Mina, para dealer yang menawarkan komputer dengan software bajakan tidak hanya
menciptakan risiko persaingan tidak adil bagi dealer-dealer komputer yang dengan jujur menjual software asli tetapi juga menempatkan bisnis
mereka pada posisi yang sangat berisiko terhadap penegakan hukum oleh pihak berwenang yang mulai menekan tingkat penggunaan software bajakan
di kalangan bisnis.

Berdasarkan survei MIAP (Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan) yang dikeluarkan pada November 2011, pembajakan software berada pada
peringkat ke-2 (34.1%) setelah barang barang dari kulit palsu (35%). BSA (Business Software Alliance) memperkirakan, bahwa penurunan 1%
dari tingkat pembajakan di Indonesia akan memberikan dampak positif senilai US$ 1,3 miliar terhadap industri secara keseluruhan. Di
Indonesia, setiap perusahaan maupun perorangan yang diketahui melanggar hak atas kekayaan intelektual dapat dijatuhi hukuman penjara
maksimal 7 tahun dan denda hingga Rp 5 miliar.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)