Survei Komprehensif Kelas Menengah Indonesia: Membedah Dahsyatnya Daya Beli Kelas Menengah (SWA Edisi 02/2013)

Survei Komprehensif Kelas Menengah Indonesia: Membedah Dahsyatnya Daya Beli Kelas Menengah (SWA Edisi 02/2013) Survei Komprehensif Kelas Menengah Indonesia: Membedah Dahsyatnya Daya Beli Kelas Menengah (SWA Edisi 02/2013)

SWA Edisi 02/2013

Survei Komprehensif Kelas Menengah Indonesia:
Membedah Dahsyatnya Daya Beli Kelas Menengah

Populasi: 130 juta Konsumen
Daya Beli: Rp. 130 Triliun Per Bulan
Karakter: 8 Wajah Konsumen Kelas Menengah

Kelas menengah tumbuh luar biasa. Momentum ini harus ditangkap secara cerdas oleh para pelaku bisnis di Tanah Air. Dengan populasi mencapai 130 juta jiwa, potensi konsumsi mereka mencapai Rp 130 triliun per bulan. Seperti apakah wajah kelas menengah Indonesia? Bagaimana karakteristik psikografis mereka? Bagaimana strategi jitu membidik mereka? Simak hasil survei SWA-Inventure yang berhasil mengidentifikasi segmentasi mereka berdasarkan karakteristik, perilaku dan konsumsi. Survei kualitatif yang dilanjutkan dengan survei kuantitatif ini juga mengungkap merek-merek pilihan kelas menengah Indonesia.

“Bir Lokal Premium Besutan Budhisurya Bersaudara”
Pengamatan jeli terhadap pasar bir di Indonesia akhirnya menarik minat empat bersaudara – Reeza Budhisurya, Bona Budhisurya, Yudha Budhisurya dan Rama Budhisurya -- untuk terjun di bisnis tersebut. Awal 2011, mereka meluncurkan Stark Beer, bir premium berbahan dasar gandum.

"Melejit dengan Jurus Integrasi”
Dari hanya tiga unit menara BTS, kini Tower Bersama Group menjadi pemain terbesar di bisnis penyewaan menara. Kemampuan mengintegrasikan bisnis menjadi rahasia suksesnya.

"Kusuma Anggraini Trah Mooryati Soedibyo di Bisnis Perhotelan”
Kusuma Anggraini merupakan generasi ketiga atau cucu Mooryati Sudibyo, pengusaha yang sukses mendirikan dan membesarkan Mustika Ratu, imperium bisnis di bidang kosmetik dan properti. Ninik, sapaan akrab Kusuma Anggraini, adalah anak Djoko Ramiadji, putra sulung Mooryati.

EKONOMI & BISNIS

INVESTASI

“DAYA TARIK REKSA DANA YANG TAK PERNAH REDUP”
Sepanjang 2012, IHSG memang hanya mencatat pertumbuhan 12,94%, dari posisi 3.821,99 di akhir 2011 menjadi 4.316,69 di akhir 2012.

INTERNASIONAL

“METAMORFOSIS SEBUAH KERAJAAN JINS”
Bermula dari kristalisasi keringat Joe Nakash dan dua adiknya, Jordache yang mulai terjun ke dunia bisnis pada 1968 telah bermetamorfosis jadi konglomerat bernilai US$ 2 miliar lebih.

TEKNOLOGI INFORMASI

“ALLIED WALLET SANG PENJAGA TRANSAKSI E-COMMERCE DUNIA”
Kekhawatiran konsumen, merchant dan kalangan perbankan dalam transaksi pembayaran online mendorong Andy Khawaja mendirikan Allied Wallet satu dasawarsa lalu.

ENTREPRENEUR

“BISNIS RATUSAN MILIAR RUPIAH MANTAN PENJAGA WARNET”

“MARCO HOME STORE RITEL UNIK ALA BUDIHARJO IDUANSJAH”
Di tengah maraknya peritel asing masuk ke Indonesia, ia mengibarkan Marco Home Store yang unik, memadukan barang elektronik dan peralatan rumah tangga.

INDONESIA YOUNGSTER INC.

NEXT GENERATION
KUSUMA ANGGRAINI

ENTREPRENEUR
LIMA SEKAWAN

STARTUP
DUA SEKAWAN
ARI SOETJITRO

SIAPA DIA
DWI MITA SARI AFRIYANI
GALUH WULANDARI
ISRA RUDDIN
PETER JAMES RAMPENGAN


Read more on SWA Magazine Facebook


SWA Magazine Subscription
SWA Digital Magazine Subscription and Download
SWA Mobile Apps Download

 

Leave a Reply

2 thoughts on “Survei Komprehensif Kelas Menengah Indonesia: Membedah Dahsyatnya Daya Beli Kelas Menengah (SWA Edisi 02/2013)”

Dear SWA, Saya membutuhkan majalah edisi : Survei Komprehensif Kelas Menengah Indonesia: Membedah Dahsyatnya Daya Beli Kelas Menengah (SWA Edisi 02/2013) Dalam waktu minggu ini, apakah ada edisi softcopy yang bisa saya dapatkan? Kalaupun harus membayar, its ok. Thx
by Dewi, 03 Jun 2013, 08:58
1. Sajian SWA tidak konsisten menyebutkan kelas menengah, coba perhatikan antara kriteria responden yang dinamakan kelas menengah (pengeluaran >4-20 jt) sementara dalam konsep kelas menengah dipaparkan jumlahnya 129 juta jiwa. Coba cek data susenas BPS, individu yang memiliki pengeluaran per bulan di atas 4-20 juta jumlahnya diperkirakan 9,6% total jumlah pendudduk di Indonesia. Pertanyaannya, kenapa pada waktu mengulas kelas menengah SWA menampilkan data yang begitu fantastis dari sisi jumlahnya sementara dalam riset kelas menengah SWA hanya mengambil individu yang memiliki pengeluaran perbulan 4-20 jt rupiah. Saya yakin konsep kelas menengah menurut ADB tidak salah, artinya riset yang dilakukan oleh SWA tidak mencerminkan kelas menengah sesuai kriteria ADB. Implikasinya, seluruh hasil surveinya bisa dikatakan tidak valid dan reliable karena tidak mewakili seluruh populasi kelas menengah di Indonesia. Saya kira, data yang disajikan menjadi bias dan miss lead karena tidak sesuai dengan kenyataan. Mohon tanggapannya? 2. Kalao kita bicara kelas menengah sesuai ADB tidak mungkin alokasi investasi bisa mencapai 25,9%, mohon penjelasannya darimana data tersebut? karena kalo kita lihat penetrasi GDP perkapita terhadap saving hanya berkisar 8% kemudian asuransi 2%, apalagi investasi seperti reksadan akan lebih kecil lagi. Bandingkan dengna mitigasi spending yang dilakukan oleh BPS lewat survei SUSENAS, data dari SWA bisa sangat tidak tepat. 3. Pada halaman 34, ada data tentang kepemilikan produk, kalau mengacu kelas menengah dari ADB, sangat mustahil penetrasi perbankan mencapai 95,2%, karena berdasarkan riset dengan Bank Indonesia penetrasi tabungan di Indonesia berkisar 37% saja. BElum lagi berdasarkan survei dengan asosiasi perbankan syariah, bahwa kepemilikan emas dalam bentuk perhiasan akan jauh lebih tinggi, bisa bayangkan pembantu rumah tangga rata-rata memiliki emas, makanya industri gadai di Indoensia sangat berkembang, lihat revenue pegadaian hingga 77 T rupiah setahun dan juga lihat perkembangan gadai di perbankan syariah.
by Bagas, 01 Feb 2013, 18:25

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)