On Diversity: The Happiness Perspective

Bagaimana perspektif Happiness terhadap keberagaman? Pertanyaan ini sering ditanyakan orang dalam berbagai forum kepada saya. Ini sungguh relevan karena keberagaman merupakan masalah yang tak pernah berakhir, dan selalu muncul dari masa ke masa.

Kalau dipikir-pikir, sesungguhnya para pemimpin kita di masa lalu sudah mencapai puncak-puncak kearifan yang begitu tinggi mengenai arti keberagaman dan perlunya mewujudkan Indonesia yang satu yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda 88 tahun yang lalu. Saya kira pemahaman mereka jauh di atas pemahaman masyarakat kita saat ini yang tak henti-hentinya meributkan perbedaan, saling hujat dan saling serang, sebuah kondisi yang menunjukkan kemunduran bangsa kita dalam menyikapi tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Arvan Pradiansyah Arvan Pradiansyah

Ada empat poin yang menarik dan penting yang ingin saya sampaikan di sini mengenai keberagaman. Pertama, keberagaman bukanlah kemauan manusia tetapi kemauan Tuhan. Keberagaman adalah produk Tuhan dan mewakili keindahan Tuhan. Kalau Tuhan mau, sesungguhnya Ia dapat saja menciptakan manusia yang homogen. Namun, hal itu tidak akan mewakili keindahan dan kebesaran-Nya.

Sebuah ciptaan seharusnya bisa menggambarkan penciptanya. Kalau Anda ingin tahu Basuki Abdulah, lihatlah lukisan-lukisan yang ia ciptakan. Kalau Anda ingin tahu W.R. Supratman, Ismail Marzuki atau Rinto Harahap, dengarkan lagu-lagu mereka masing-masing. Ciptaan itu selalu menggambarkan penciptanya. Lantas, bagaimana dengan Tuhan? Tuhan adalah Yang Maha Besar. Kebesaran Tuhan justru dikenali dari keberagaman ciptaan-Nya. Sesuatu yang homogen sama sekali tidak menggambarkan keindahan Sang Pencipta.

Kedua, banyak orang yang sekadar menghormati perbedaan, padahal kearifan yang tertinggi bukanlah pada menghormati, melainkan pada merayakan perbedaan. Menghormati perbedaan sesungguhnya hanyalah sebuah bentuk kepatuhan (compliance), sebuah bentuk ketidakpahaman akan hakikat kehidupan. Orang yang menghormati perbedaan adalah orang yang patuh, tetapi orang yang seperti ini sesungguhnya sudah gagal menangkap maksud Tuhan. Tuhan tidaklah menciptakan perbedaan itu sekadar agar kita menghormatinya. Tuhan menciptakan perbedaan agar kita memanfaatkannya!

Bukankah perbedaan yang membuat sebuah perusahaan berjalan, membuat dunia berputar? Apa yang akan terjadi kalau sebuah perusahaan terdiri dari orang-orang yang sama kemampuan, keahlian dan kepribadiannya? Perusahaan semacam itu pasti tidak dapat berjalan dengan baik. Hanya perbedaanlah yang membuat hidup berjalan. Perbedaan sesungguhnya adalah salah satu “Ayat Tuhan” yang terpenting.

Ketiga, orang sering tidak bisa membedakan antara kesamaan (sameness) dengan kesatuan (oneness). Yang harus dicapai dalam hidup adalah kesatuan, bukan kesamaan. Sumpah Pemuda adalah soal kesatuan, bukan kesamaan. Dalam hidup kita harus bersatu tetapi tidak harus sama. Justru kita harus berbeda untuk membuat hidup ini indah, tetapi perbedaan itu hanya pada cara, bukan pada tujuan, mimpi dan cita-cita.

Sewaktu mahasiswa dulu saya menjadi anggota paduan suara (Paduan Suara Universitas Indonesia, Paragita) dan benar-benar menikmati betapa indahnya menyanyikan sebuah lagu dengan empat suara yang berbeda: sopran, alto, tenor dan bas. Menyanyikan lagu dengan suara yang berbeda jauh lebih indah dan harmonis daripada menyanyikannya dengan suara yang sama. Inilah yang dimaksud dengan keberagaman. Catatan penting di sini adalah bahwa keberagaman itu hanya indah bila kita menyanyikan lagu yang sama, karena bila lagunya berbeda yang akan dihasilkan bukanlah kesatuan, tetapi kekacauan.

Dalam kehidupan sehari-hari, bukankah ketika mengatakan keberagaman kita sering sedang menyanyikan “lagu yang berbeda”?

Keempat, merayakan keberagaman sesungguhnya adalah menambahkan kata “kita” dan mengurangi kata “mereka”. Ini jugalah yang sesungguhnya dimaksud dengan peradaban (civilization). Yang membuat dunia rusak adalah karena terlalu banyak kata “mereka” dan terlalu sedikit kata “kita”.

Siapakah kita dan siapakah mereka? Dalam lingkup terkecil, kita adalah anggota keluarga kita, tetangga adalah mereka. Mari tambahkan kata “kita”. Maka kampung menjadi kita, kampung lain adalah mereka. Mari perluas lagi, maka suku yang sama adalah kita, suku lain adalah mereka. Terus perluas kata “kita”, maka saudara sebangsa adalah kita, sementara bangsa lain adalah mereka. Terus tingkatkan lagi, maka seluruh dunia adalah kita, semua manusia adalah kita, mereka adalah yang bukan manusia.

Sampai di sini, sudah selesaikah perjalanan kita? Belum, kita masih bisa meningkatkan kata “kita” dengan menambahkan hewan dan tumbuhan, karena bukankah kita semua adalah sesama makhluk Tuhan? Inilah yang disebut dengan peradaban. Semakin kita naik ke atas (memperluas cakupan kita) semakin kita menjadi manusia yang beradab. Semakin kita turun ke bawah (lebih sering menggunakan kata “mereka”) semakin kita kurang beradab.

Betapa indahnya dunia ini kalau semuanya adalah kita, berbeda-beda, tetapi menuju satu- kesatuan, menuju Yang Maha Satu.

*) Penulis adalah Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)