Antara Risiko dan Akselerasi

Oleh: N. Rengka Johanes, Direktur Bank Mitra Karya ( Bank Perkreditan Rakyat )

Produk yang Dihasilkan UKM

Sengaja saya angkat dua topik ini sekaligus. Karena antara satu dengan lainnya berkaitan. Baiklah saya mulai dari kisah nyata.

Seorang rekan kerja, sebut saja namanya, Ria. Ia datang ke ruangan saya dan minta mengundurkan diri, karena ingin memulai usaha sendiri. Dialog kami sebagai berikut :

Pak, saya ingin mengundurkan diri,” begitu Ria membuka pembicaraan

Kamu sudah mendapat tempat kerja yang baru?,” tanya saya

Oh gak pak, saya mau usaha sendiri saja,“ katanya penuh yakin

Kamu mau membuka usaha apa ?,“ tanya saya sekenanya

Mau menjual busana wanita, pak ,“ jawab Ria

Apa tidak susah Ria, karena persaingannya cukup ketat lho saat ini ?,” kata saya berusaha menahan dia

Iya sih pak, tetapi kalau tidak dicoba, kapan lagi,“ jawab Ria dengan yakin

Sebulan Kemudian, Ria akhirnya mengundurkan diri. Namun tiga bulan setelah mengundurkan diri ia datang lagi menemui saya di ruangan. Dalam hati saya curiga, paling ia mau minta kerjaan lagi. Tetapi dugaan saya salah. Dengan penuh semangat, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada saya, karena telah mengijinkan dia mengundurkan diri.

Pendapatan saya sekarang, tiga kali lipat dari gaji saya di sini pak,” katanya penuh bangga.

Selamat ya, sukses terus,“ kata saya penuh antusias.

Kisah kedua, ketika penulis menghadiri business meeting di Singapura di penghujung tahun 2016. Peserta yang hadir rata-rata anak muda, energik, dan penuh semangat, kecuali saya yang sudah uzur. Peserta datang dari negara tetangga: Singapore, Malaysia, Filipina, dan India. Tema pertemuannya tentang investasi di bidang keuangan, dengan dukungan teknologi informasi yang canggih. Menurut si nara sumber, sudah kurang cocok lagi kita berbisinis dengan membuka toko, atau sewa gedung untuk kantor. “Mahal,“ katanya. Kalaupun sewa kantor, tidak perlu luas. Tetapi yang penting bisnis bertumbuh besar dan profit yang besar pula. Ukuran return yang besar, menurut dia, kalau bisa mencapai angka 8 – 10 persen per bulan. Dia berusaha meyakinkan kami yang hadir bahwa bisnis keuangan lebih menarik daripada bisnis lain. Kemudian ia menjelaskan berbagai reiiko yang dihadapi jika mau berbisnis di dunia keuangan. Ia pun menjelaskan bahwa return dan resiko selalu berjalan seiring, tidak pernah berpisah. Lalu, ia menjelaskan formula keuangan yang rumit secara sederhana, agar peserta mudah memahaminya. Bisnis yang diperkenalkan menarik, return yang besar. Menggiurkan !

Dua kisah di atas, sama-sama mengggambarkan dua tema yang sedang kita bicarakan yaitu, risiko dan akselerasi. Secara teoritis orang sering mengatakan bahwa risiko adalah ketidak pastian hasil akibat dari keputusan atau situasi saat ini. Atau, ketidak pastian mencapai target. Apapun produk atau layanan yang anda tawarkan ke masyarakat selalu ada hantu resiko. Ria, dalam contoh di atas, tidak mengetahui resiko apa yang dihadapi. Target sulit ditetapkan. Kalaupun bisa ditetapkan, paling hanya sebatas perkiraan, karena Ria sendiri belum mempunyai pengalaman dan data yang akurat tentang pasar busana wanita. Kalaupun ada, paling hanya berdasarkan perkiraan saja. Sukses atau tidak belum jelas. Siapa pesaingnya? Berapa besar margin yang akan diperoleh? Semuanya hanya perkiraan. Resiko dan ketidakpastian beda tipis.

Sama halnya dengan contoh kedua di atas. Keuntungan diprediksi 8 – 9 % per bulan. Namun, ada risiko menanti, yaitu risiko spekulatif, dengan dua kemungkinan: rugi atau untung. Jika suatu perusahaan menempatkan dananya dalam valuta asing, akan menghadapi dua kemungkinan: untung atau rugi nilai tukar. Bahwa ada ilmu untuk mencegah risiko seperti hedging, tetaplah itu hanya alat yang tidak sepenuhnya pasti. Oleh sebab itu, investasi keuangan selalu mengandung risiko spekulatif.

Dengan demikian, kalau kita berbicara risiko, mau tidak mau mesti ada data pendukung mengenai kemungkinan kejadiannya. Berbeda dengan ketidakpastian, tidak ada data pendukung untuk mengukur kemungkinan kejadiannya. Karena itu perbedaan dua istilah ini menjadi lebih jelas. Kalau risiko, probabilitsnya bisa diukur, karena ada data sebelumnya yang dianalisa, sedangkan ketidakpastian hampir tidak ada tingkat probabilitas kejadiannya, karena minimnya data atau bahkan tidak ada data yang tersedia.

Yang menarik adalah ketika kondisi ini dihadapi oleh perusahaan, justru tim manajemen diminta untuk lebih kreatif atau tepatnya melakukan akselerasi bisnis. Padahal, kita tahu, bahwa risiko yang akan dihadapi juga akan semakin besar. Nah, karena itu John P. Kotter dalam bukunya yang populer, Accelerate, mengatakan bahwa untuk mempercepat pertumbuhan bisnis anda, dibutuhkan beberapa tindakan penting antara lain, inovasi. Namun setiap inovasi memerlukan prasyarat. Inovasi pada dasarnya bukan membuat sesuatu yang samasekali baru, tetapi lebih kepada perbaikan produktivitas agar lebih efektif dan risikonya dapat diukur. Ketika risiko dapat diukur maka langka berikutnya adalah perubahan kultur kerja (cultural change).

Suatu hal yang tidak masuk akal, jika kita ingin melakukan akselarasi bisnis tetapi tidak diikuti perubahan kultur kerja, maka sama saja dengan menghambur-hamburkan biaya. Karena itu, John Kotter menulis, “ …the core problem always is about people.“ Karena sering, justru karyawan dalam segala tingkatan, yang menjadi penghambat utama dalam setiap percepatan usaha. Karyawan cenderung mengatakan, “ yang sekarang sudah bagus, untuk apa dirubah lagi? Dalam era revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, percepatan atau akselerasi menjadi sangat penting. Jika tidak anda akan ketinggalan. Namun, harus pandai mengukur resiko yang akan timbul. Selamat berakselerasi !

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)