On Becoming a Constant Transformer

Dwinanda Septiadhi

dwinanda.septiadhi@gmail.com,

Manuver perusahaan seperti halnya Facebook mengakusisi WhatsApp, atau Toyota mengakuisisi Daihatsu selalu menarik untuk disimak. Demikian juga peluncuran produk-produk baru yang inovatif seperti halnya Toyota membuat mobil hybrid atau Tesla meluncurkan mobil listrik. Dalam konsep strategi, apabila kita meminjam istilah dari Hambrick dan Fredrickson, dalam artiel Are you sure you have a strategy?, manuver tersebut adalah vehicle atau kendaraan, atau merupakan diferensiasi yang coba dibangun perusahaan untuk produknya, atau mungkin juga salah satu tahapan (stage) dari pelaksanaan strategi.

Namun, di belakang manuver-manuver cantik tersebut, ada yang sering lepas dari perhatian publik, yaitu pemahaman bahwa manuver-manuver di atas hanya sebagian dari strategi. Manuve rtersebut merupakan salah satu ‘milestone’ dalam startegi untuk mencapai visi. Strategi dapat diartikan serangkaian cara yang terkoordinasi untuk mencapai visi. Pusat perhatian atau center stage dari publik sering kali adalah manuver-manuver seperti di atas, namun sebenarnya tahapan krusial dari strategi adalah pada eksekusinya.

Menurut studi yang dilakukan Majalah Fortune, 90% strategi gagal pada tahap implementasi atau eksekusi. The Economist menyebutkan bahwa 45% eksekusi strategi gagal karena tidak adanya change management yang bagus. Artikel ini akan membahas tentang bagaimana proses perencanaan dan eksekusi strategi yang baik akan dapat membantu perusahaan menciptakan transformational change. Perlu ditekankan di sini bahwa transformasi sifatnya antisipatif dan incremental atau bertahap, sementara turnaround sifatnya lebih reaktif dan radikal. Transformational change sifatnya strategis, perusahaan senantiasa mengidentifkasi potensi perubahan yang mungkin terjadi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut.

Menutur Kotter, dalam artikelnya Leading Change Why Transformation Efforts Fail, hanya sedikit perusahan yang berhasil melakukan transformasi. Salah satu penyebab kegagalan transformasi adalah ketiadaan visi dan strategi yang jelas untuk mencapai visi tersebut. Apabila proses transformasi kita analogikan dengan proses memindah gunung, maka artikel ini membahas mengenai satu dari sekian banyak kiat atau metode dalam melakukan transformasi. Pemilihan metrik atau ukuran kinerja yang benar dan tepat, disusun, dan disajikan secara benar dan tepat, akan dapat membantu organisasi memahami dirinya sendiri dan kemudian mentransformasi dirinya, atau dapat dikatakan (the right) Metrics (will) Move (the) Mountain.

Pertanyaannya adalah, metrik apa yang bisa berlaku demikian, metrik atau ukuran tersebut adalah KPI atau Key Performance Indicators sebagai bagian dari Balanced Scorecard (BSC) dalam implementasi manajemen strategi. Seringkali kita mendengar ada perusahaan yang mengklaim bahwa mereka sudah menerapkan BSC, namun setelah diteliti, mereka hanya mengidentifikasi KPI dan mengelompokkannya ke dalam empat perspektif, yaitu financial, customer, internal process, dan learning and growth. Namun BSC sebenarnya lebih dari sekadar itu. Idelanya, pemilihan KPI harus dilakukan dengan merujuk kepada strategic objective (tujuan strategis) yang selaras dengan pilihan strategi perusahaan. Oleh karenanya, implementasi manajemen strategi yang komprehensif menjadi penting. Lalu bagaimana BSC akan membantu perusahaan atau pimpinan perusahaan melakukan transformasi.

Pertama, implementasi manajemen strategi akan membantu pemimpin untuk memunculkan pemahaman bersama bahwa perubahan itu penting dan mendesak. Dalam perencanaan strategi, yang merupakan langkah pertama dalam Six-Stage closed loop Management System for Strategy Execution (Strategy Execution System) dalam buku The Execution Premium karya Robert S. Kaplan dan David P. Norton, tahapan pertama adalah mengidentifikasi kesempatan dan tantangan dari luar, termasuk mengidentifikasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity) dan juga analisa internal untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi. Aktivitas ini seringkali menghasilkan pemahaman bahwasannya organisasi atau perusahaan harus berubah.

Formulasi strategi yang merupakan langkah berikutnya memberikan alat untuk pemimpin dalam mencipatakan visi untuk perubahan dan merancang strategi untuk mencapai visi tersebut. Jadi dengan adanya visi dan strategi, diharapkan organisasi dapat melihat ke mana organisasi akan bergerak dan harapannya akan termotivasi meraihnya. Kedua, implementasi manajemen strategi akan membantu pemimpin untuk mengkomunikasikan strategi.

Salah satu komponen penting dari BSC adalah strategy map atau peta strategi. Peta strategi berisi tujuan- tujuan strategi dalam empat persepktif BSC, yang harus dicapai untuk meraih visi. Tujuannya, membentuk hubungan sebab akibat sehingga memudahkan pemimpin untuk mengkomunikasikan strategi perusahaan. Peta strategi juga memudahkan karyawan untuk memahami bagaimana pekerjaan di bagiannya atau pekerjaan yang mereka lakukan dapat berkontribusi kepada tujuan perusahaan sehingga karyawan bisa think globally and act locally, bertindak di dalam ruang lingkup pekerjaannya (act locally) untuk sebuah tujuan besar (think globally).

Hal itu penting karena, menurut Kaplan dan Norton, salah satu penyebab kegalalan pencapaian visi dan pelaksanaan strategi adalah hanya 5% dari jumlah pekerja atau anggota organisasi yang memahami strategi. Di VW Brasil, peta strategi ditampilkan di layar besar yang dipajang di tempat-tempat strategis sehingga karyawan dapat memahami dan mengerti strategi perusahaan dan bagaimana mereka akan berkontribusi. Di Verizon, perusahaan yang mengakuisisi Yahoo, mereka menggunakan sistem yang sudah terotomasi yang memungkinkan karyawan dapat melihat peta strategi melalui komputer di tempat kerja masing-masing. Sistem ini juga memungkinkan karyawan melihat KPI di organisasi atau divisi mereka termasuk KPI individu.

Ketiga, dalam konsep strategy execution system, peta strategi perusahaan harus diterjemahkan ke dalam peta strategi divisi atau fungsi. Divisi diberi kesempatan berpikir bagaimana meraih tujuan strategi. Tujuan strategi adalah what, apa yang harus dicapai untuk berkontribusi terhadap tujuan atau visi organisasi secara keseluruhan. Dengan memberi kebebasan memilih mengenai bagaimana divisi akan berkontribusi untik mencapai tujuan strategis perushaan, diharapkan akan tercipta sense of belonging atau rasa memiliki dari strategi tersebut, dan tercipta tanggung jawab untuk melaksanakannya.

Masing-masing divisi dapat menentukan inisiatif untuk melaksanakan strategi. Mekanisme ini mendorong terjadi empowerment dan juga kombinasi top down dan bottom up. Kolaborasi pun terjadi, sehingga pola pikir yang sebelumnya bahwa karyawan hanya memerima instruksi lambat laun akan punah, bergani dengan karyawan yang proaktif. Salah satu contoh yang berhasil dalam empowerment dan juga pengaturan sentralisasi dan desentralisasi adalah whole foods, sebuah perusahaan yang bergerak memiliki jaringan toko bahan makanan terbesar di Amerika. Whole Foods terkenal dengan konsep desentralisasi. Setiap cabang diberikan kesempatan untuk menentukan cara mengeksekusi strategi perusahaan, mereka memiliki self directed team di masing-masing cabang.

Dwinanda Septiadhi, Strategic Management Manager PT Gajah Tunggal, Tbk Dwinanda Septiadhi,
Strategic Management Manager PT Gajah Tunggal, Tbk

Keempat, melembagakan budaya transformasi. Culture atau budaya organisasi sering kali diidentikkan dengan simbol, seragam, atau poster yang heroik atau melambangkan semangat dari organisasi, yang menempel atau terlihat di fasilitas-fasilitas organisasi. Namun ternyata hal-hal tersebut adalah sifatnya sekunder saja, sementara bagaimana pemimpin berperilaku dan memusatkan perhatiannya dalam kesehariannya, bagaimana pemimpin mengalokasikan sumber daya, cara memimpin, merekrut, mempromosikan dan memberikan hadiah atau hukuman adalah yang utama. BSC yang juga dapat dikatakan sebagai DSS atau Decision Support System, sebuah sistem yang dapat membantu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang tepat berdasarkan fakta dan data yang akurat diharapkan dapat membangun budaya yang positif. Speak and act based on data and facts, begitu kira-kira terminologi yang sering digunakan, sehingga setiap keputusan diambil adalah berdasarkan data dan fakta, tepat sasaran, tanpa menduga-duga atau pun mencari siapa yang salah.

Budaya lain yang dapat dibangun dengan implementasi strategi manajemen sistem adalah budaya fokus kepada pelanggan (focus on customer). Budaya ini bisa terjadi mengingat salah satu kinerja yang harus diukur oleh perusahaan adlaah ukuran kinerja pada perspektif pelanggan (customer). Perusahaan atau divisi harus mengidentifikasi secara cermat apa yang sebenarnya diharapkan oleh pelanggan perusahaan atau pelanggan divisi. Proses ini akan dapat membantu perusahaan dan divisi dalam menfokuskan perhatiannya dan proses internalnya untuk memenuhi harapan pelanggan.

Tahap terakhir dalam strategy execution system adalah test and adapt. Perubahan yang terus terjadi dalam lanskap bisnis menyebabkan competitive advantage yang dimiliki perusahaan akan cepat menjadi usang, sehingga diperlukan strategi baru untuk terus menyesuaikan diri terhadap perubahan dan unggul dalam persaingan. Implementasi manajemen strategi yang komprehensif akan membantu perusahaan menciptakan dynamic capabilities, sehingga perusahaan akan cepat melakukan perubahan organisasi untuk mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis termasuk di dalamnya membangun budaya unggul untuk menjamin kesinambungan bisnis atau dapat dikatakan, perusahaan akan menjadi constant transformer untuk mengantisipasi perubahan yang terus terjadi.

Dorongan yang kuat dari dan top manajemen dan adanya Strategic Management Office (SMO) yang solid akan membantu perusahaan mentransformasi dirinya. SMO, atau sering diberi nama Change Management Office atau Corporate Planning Division membantu top management dalam menterjemahkan visi serta mengorkestrasi sumber daya perusahaan untuk mengeksekusi strategi secara efektif.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)