Berinvestasi di Industri Film, Menguntungkan?

Oleh: Andi S. Boediman, Mitra Pengelola Ideosource Venture Capital

Beberapa bulan lalu saya mulai berlangganan Hooq, aplikasi video streaming besutan Singtel dan Fox. Kemacetan Jakarta tidak lagi menjadi momok, tetapi menjadi kesempatan asyik menonton film Indonesia yang tidak banyak tersedia di kanal lain. Mulai dari Ca Bau Kan, kemudian Perahu Kertas, Soekarno, Garuda di Dadaku, Ada Apa dengan Cinta?, dan banyak lagi.

Ketika menonton Cek Toko Sebelah di bioskop karya Ernest Prakasa, film ini seakan-akan bercerita tentang keluarga sendiri. Dan, menikmati Kartini sebagai karya terbaik Hanung Brahmantyo, saya jatuh cinta lagi dengan film Indonesia.

Dengan pengalaman di Ideosource Venture Capital yang memiliki fokus investasi di bidang teknologi, pertanyaannya, apakah film adalah industri yang investable dan scalable?

Sumber: MPAA

Besarnya Pasar Film

Merujuk laporan tahunan MPAA, Indonesia adalah pasar ke-15 untuk film Hollywood, sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Melihat jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, seharusnya kita punya potensi pasar yang jauh lebih besar.

Sumber: Filmindonesia.or.id

Pasar untuk film Indonesia bisa dilihat dari situs Filmindonesia.or.id. Merujuk 15 film Indonesia dengan pendapatan tertinggi, di tahun 2010 terjual sekitar 8 juta dan itu menjadi penjualan tiket terendah, sedangkan tahun 2016 adalah tahun terbaik dengan 30 juta tiket terjual. Jika harga tiket rata-rata adalah Rp 35 ribu, besarnya pasar untuk film Indonesia adalah sekitar Rp 1 triliun. Jadi, film Indonesia memiliki pangsa pasar sebesar 20% dari total pasar film.

Sumber: Tirto

Jumlah film impor berkisar 200-275 film setiap tahun, dibandingkan dengan film Indonesia yang terus meningkat dan mencapai 120 film. Ini menunjukkan bahwa kita tidak punya problem pasokan. Dengan pangsa pasar hanya 20%, penjualan tiket per film masih belum mampu bersaing dengan film-film Hollywood.

Analisis Film Terlaris

Melihat data film terlaris di Indonesia, ternyata terdapat siklus empat tahunan. Menurut seorang teman, pengembangan cerita yang baik membutuhkan setidaknya dua tahun. Siklus di Indonesia ini awalnya terjadi karena Miles Film merilis film utama mereka di setiap empat tahun; hal ini terjadi di tahun 2008 dengan Laskar Pelangi dan 2016 dengan Ada Apa Dengan Cinta 2? (AADC2?), tetapi tidak terjadi di tahun 2012.

Namun, siklus ini terbukti bisa berubah. Pada 2017 jumlah tiket yang terjual mencapai 41 juta tiket, naik dari angka pada 2016 yang penjualannya 35 juta tiket.

Uniknya, jika ada film kuat, ternyata mampu menarik naik seluruh industri film. Menonton film Indonesia seperti reuni dengan kawan lama; terkadang lupa, tetapi ketika bertemu, menjadi kangen untuk lebih sering bertemu.

Falcon Pictures menjadi pemain dominan sejak berhasil dengan Comic 8, dilanjutkan dengan Warkop DKI Reborn dan My Stupid Boss. Formula yang diterapkan adalah menggunakan karakter yang sudah dikenal seperti aktor kondang, standup comedian, dan atau intellectual property yang sudah terbukti, baik dari film lama atau novel. Ini dibumbui dengan menciptakan keunikan dengan “memelesetkan” aktor seperti Reza Rahadian di My Stupid Boss dan Abimana Aryasatya sebagai Dono di Warkop DKI Reborn.

Sumber: Stephen Follows

Dari perspektif alokasi bujet, para produser mengalokasikan 10-20% bujet untuk pemasaran. Dibandingkan dengan Hollywood, studio film besar memiliki bujet pemasaran tahunan yang akan dibagi berdasarkan potensi pasar film-film yang mereka pasarkan di tahun tersebut. Dan, mereka membagi sama antara proporsi bujet pemasaran dan produksi. Dengan kekuatan pemasaran dan distribusi ini, film mendapat kesempatan bersaing secara sehat dan punya kesempatan dikenal oleh potensi pasarnya.

Ada empat genre yang terbukti memiliki pasar yang konsisten: komedi, drama, horor, dan drama muslim. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, jumlah tiket terjual untuk genre komedi 50 juta tiket, dengan 52 film masuk dalam daftar 15 film terlaris tahunan. Drama menyusul dengan 36 juta tiket dan 36 film, diikuti horor dengan 21 juta tiket dan 42 film, serta drama muslim dengan 19 juta tiket dan 20 film.

Biopik & sejarah seperti tokoh pahlawan dan tokoh sejarah juga terbukti menarik minat penonton dengan film yang paling sukses Habibie & Ainun. Genre Nusantara yang menunjukkan keberagaman Indonesia juga memiliki pasar dan kekuatan tersendiri, seperti Laskar Pelangi.

Genre lain seperti laga (action), thriller, drama anak, petualangan, dan musikal masih kurang sekali dari sisi pasokan. Laga dan musikal membutuhkan pengembangan setidaknya dua tahun karena panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk persiapan dan rehearsal.

Dari perspektif manajemen portofolio, investasi di genre yang sudah terbukti perlu dilakukan secara konsisten. Adapun untuk genre yang pasokannya masih kurang, perlu mendapatkan alokasi secara berkala.

Sumber: Ideosource Analysis

Value Chain Industri Film

Dari sisi pasokan, pelaku industri film cukup terfragmentasi, pemain lama seperti Starvision, Rapi Films, dan MD Entertainment terbukti mampu menghasilkan produksi film yang konsisten dan melakukan strategi portofolio investasi, dengan kombinasi beberapa film yang berbujet lebih kecil dan film kuat dengan bujet tinggi. Kombinasi ini memberikan hasil yang cukup stabil dari sisi jumlah penonton yang diraih dan revenue yang didapatkan.

Falcon Pictures yang datang dengan formula baru membuktikan bahwa pasar film Indonesia masih bisa diperbesar. Screenplay Films dan Legacy Pictures mampu menghasilkan beberapa film baru yang berkualitas. KG Production dan Mizan banyak mengambil intellectual property (IP) dari novel untuk diangkat ke layar lebar, kebanyakan berkolaborasi dengan production company lain.

Lifelike Pictures didukung oleh 20th Century Fox melakukan investasi besar di Wiro Sableng yang akan dirilis tahun 2018. Investasi film Indonesia yang awalnya dirancang sebagai dana investasi film kini melakukan transisi ke ranah produksi dengan membeli IP film lama untuk kemudian diproduksi ulang.

13 Entertainment, Falcon Pictures, dan Multivision membeli IP dari banyak film lama. Mereka merestorasi film, melakukan digitasi, kemudian menjualnya sebagai bagian dari library yang dijual ke kanal TV kabel dan kanal digital.

Karena adanya kekuatan Grup 21, keberadaan pemain distribusi di lokal hampir tidak diperlukan. Produser bernegosiasi langsung untuk mendapatkan layar. Film berbujet kecil mendapatkan 30-50 layar, adapun film kuat seperti AADC2 mendapatkan 300 layar dan Warkop Reborn mencapai 500 layar. Grup 21 yang mendominasi 80% jumlah layar di Indonesia menanggung biaya operasional fixed cost. Grup 21 mensyaratkan agar film punya daya tarik terhadap penonton dan jika tidak memenuhi kuota target penonton, film akan diturunkan dalam kurun waktu singkat.

Dari kacamata komersial, Grup 21 punya pilihan untuk menayangkan film Hollywood yang kualitasnya lebih konsisten dibanding film lokal yang meskipun punya relevansi lokal tetapi kualitasnya naik-turun dan tidak dipasarkan dengan baik. Produser Indonesia akhirnya membatasi bujet produksi untuk mengatur risiko investasi yang akhirnya mengorbankan kualitas. Ini menjadi problem yang tidak berkesudahan. Jika ada investasi film yang mendanai produksi dan pemasaran film secara berimbang, akan lebih banyak film Indonesia yang memiliki kualitas terjaga. Ini akan menciptakan stabilitas pasar karena penonton mendapatkan kualitas tontonan yang konsisten.

Keberadaan layar di Indonesia masih jauh dari ideal. Saat ini untuk menonton, karena lokasi bioskop kebanyakan di dalam mal, satu keluarga akan menghabiskan setidaknya Rp 200 ribu-500 ribu untuk makan, nonton, beli popcorn, dll. Kondisi ini tidak cocok dengan profil masyarakat kelas menengah yang alokasi belanjanya di kisaran Rp 100 ribu-200 ribu. Kita memerlukan bioskop yang ditargetkan di kelas menengah dalam jumlah besar untuk memperluas distribusi.

Kanal digital seperti Netflix mendapatkan tantangan dari Hooq, iFlix, Genflix, dan Mox yang memiliki banyak konten lokal. Netflix akan tetap menyasar pasar high-end, sedangkan di pasar kelas menengah, mereka yang punya konten lokal kuat akan menjadi pilihan bagi penonton. Dan, terbukti bahwa film seperti AADC2 dan Dear Nathan ketika tersedia di Hooq sangat mendominasi tontonan dibandingkan dengan film-film impor.

Penjualan tiket online melalui GoTix atas tiket CGV dan Cinemaxx sudah memberikan kontribusi signifikan. Grup 21 kini juga sedang mempersiapkan terobosan untuk distribusi tiket melalui online. Di China, penjualan tiket sudah 90% terjadi secara online, bahkan untuk film-film dengan IP kuat sudah bisa dibeli jauh hari sebelum film tayang atau bahkan dibuat.

Dalam ekosistem industri film, dukungan agensi pemasaran dan publishing ternyata berperan penting dalam memaksimalkan publisitas dan revenue dari kanal lain. Selain itu, peran film festival, organisasi, dan edukasi juga menjadi faktor pendukung dari keseluruhan ekosistem.

Menjawab pertanyaan awal, industri film akan menjadi investable melalui strategi portofolio investasi dan scalable jika investasi dilakukan pada keseluruhan ekosistem industri film.

Manajemen Risiko Investasi

Berinvestasi pada dasarnya adalah melakukan manajemen risiko. Dari 120 film yang ditayangkan di tahun 2017, hanya 11 film yang menjangkau penjualan lebih dari 1 juta tiket. Dengan harga jual tiket Rp 35 ribu, pendapatan total Rp 35 miliar. Produser akan mendapatkan 50% dengan pendapatan sekitar Rp 17 miliar.

Dari kacamata risiko, jika berinvestasi di individual film, kita perlu berinvestasi di 11 film sebelum mendapatkan 1 “jackpot” dengan jumlah penonton di atas 1 juta. Bagi investor individual, akan sangat berisiko untuk berinvestasi satu per satu. Berinvestasi sekaligus di 10 film menjadi strategi manajemen risiko yang sangat baik karena keuntungan dari film “jackpot” akan menutup semua kerugian yang mungkin dialami.

Pilihan Investasi Film

Sebagai gambaran, sejak Oktober 2017, Ideosource Film Fund sudah berinvestasi di tiga film dan menargetkan akan berinvestasi di tujuh film lagi hingga akhir 2018. Beberapa film yang sudah diinvestasi adalah Ayat-ayat Cinta 2 dari MD Entertaiment yang dirilis pada akhir 2017, Kulari ke Pantai dari Miles Film, dan Keluarga Cemara dari Visinema. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)