Bersatu Lewat Industri Film

 

Oleh : Dr. Rio Christiawan,S.H.,M.Hum.,M.Kn., Penulis Dosen Hukum Bisnis Universitas Prasetiya Mulya

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyatakan bahwa industri film di Indonesia secara year on year naik 10% dibanding tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari jumlah penonton film indonesia juga naik dari hanya 16 juta penonton di tahun 2015 saat ini per akhir 2017 menjadi 42,7 juta penonton. Layar bioskop yang saat ini tersedia di seluruh Indonesia hanya sekitar 1500 layar, sedangkan di tahun 2018 diprediksi akan ada sekitar 120 film indonesia sehingga tantangan industri film saat ini adalah meningkatkan kualitas film dan menambah layar di bioskop untuk menjaga trend positif komersial industri film saat ini.

Isu yang kurang lebih sama juga muncul pada Kongres Indonesian Film Directors Club (IFDC) 2018. Bekraf mewakili pemerintah Indonesia dalam kongres tersebut menyampaikan harapan Pemerintah agar industri film dapat menjadi media advokasi bagi pemerintah untuk menyikapi kondisi bangsa saat ini. Tahun 2017 dan 2018 industri film Indonesia memfokuskan bagi pembuatan film-film yang memperkenalkan budaya dan karakter bangsa Indonesia dengan tanpa meninggalkan sisi komersial. Arah Industri perfilman di Indonesia saat ini digerakkan untuk menjadi media pemersatu bangsa.

Industri film Indonesia dapat dipergunakan oleh pemerintah maupun seluruh stakeholder yang terkait sebagai media edukasi yang dapat menjangkau seluruh lapisan dan golongan. Peran ini cukup penting mengingat tahun 2018 adalah tahun politik bagi bangsa ini terlebih dimulai sejak 2017 isu kebhinekaan dan penggunaan politik identitas di tataran politik praktis turut berkontribusi pada pada potensi disintegrasi bangsa. Dalam situasi tersebut industri film adalah media yang strategis untuk mengkampanyekan kebhinekaan. Jika pesan-pesan kebangsaan disampaikan melalui politisi maka rakyat akan cenderung apatis menanggapinya apalagi saat ini pesan kebhinekaan maupun kebangsaan kerap kali bias dengan iklan partai politik sehingga publik terlanjur memiliki persepsi apatis terhadap pesan tersebut.

Mutualisme Melalui Film

Film memiliki peluang untuk dioptimalkan sebagai media kebhinekaan mengingat sifat pesan yang disampaikan melalui tayangan film dapat dipahami oleh masyarakat penonton diluar kesadarannya sebagai propaganda yang dilakukan dengan sengaja. Masyarakat akan lebih terbuka dalam menerima pesan yang disampaikan melalui film tersebut sehingga dengan demikian film dapat dijadikan oleh seluruh stake-holder untuk melakukan penetrasi damai kepada masyarakat Indonesia tentang nilai-nilai berbangsa yang baik dengan demikian industri perfilman bersama-sama Bekraf harus dapat menjadi agen of change yang dimiliki oleh pemerintah untuk merajut dan mempertahankan kebhinekaan.

Badan Pusat Statistik per 31 Desember 2017 menyatakan dari total seluruh penduduk Indonesia dan sekitar 40%-nya adalah generasi milenial. Hal tersebut artinya bioskop dan menonton film akan menjadi media yang efektif dalam menggerakkan industri perfilman secara komersial sekaligus menyampaikan pesan-pesan kebhinekaan melalui industri film Indonesia. Generasi millenial dapat menjadi mitra yang strategis, tidak saja untuk memanfaatkan momentum ekonomi tetapi juga pada fungsi solidaritas nasional dalam kebhinekaan. Generasi milenial merupakan pribadi yang pandai bersosialisasi yang fasih internet serta pengguna media sosial utama dalam struktur demografis.

Pemerintah harus memanfaatkan momen ini untuk mengoptimalkan generasi millenial karena generasi millenial merupakan generasi yang paling objektif dengan didukung kekuatan karakter yang menjadi ciri generasi milenial. Dalam konteks penerimaan pesan kebhinekaan yang disampaikan melalui industri film generasi millenial relatif tidak mengalami represi sosial maupun pengalaman asosiasi psikopolitis yang kurang baik di masa yang lalu terkait isu kebhinekaan.

Kehadiran generasi millenial dalam industri film Indonesia merupakan momentum perekonomian yang harus dimanfaatkan. Fenomena perilaku ekonomi generasi milenial ini diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif industri perfilman pada khususnya. Jika dilihat dari sebaran diatas populasi generasi millenial di Indonesia cukup dapat diandalkan untuk menggerakkan generasi X,Y bahkan baby boomers di sekitarnya untuk mengikuti perilaku ekonomi tersebut maupun perilaku penerimaan pesan kebangsaan secara terbuka.

Industri Film Sebagai Mitra Strategis

Mencermati Indonesia Economic Outlook 2018, tahun ini adalah momentum untuk mengoptimalkan economic leisure yang melalui industri perfilman diharapkan mampu mewujudkan konsep think globally act locally. Think Globally dalam kaitannya dengan kebhinekaan dan pertumbuhan ekonomi, industri film diharapkan dapat menjadi media diaspora nilai-nilai kebhinekaan yang disampaikan melalui penetrasi damai dengan media film sehingga dengan baiknya tingkat akseptasi akan pesan kebhinekaan melalui industri film maka tradisi baik bangsa ini tetap dapat dijaga melaui pembentukan karakter bangsa di masa yang akan datang dengan platform bhineka tunggal ika melalui film. Act Locally artinya masyarakat penonton diharapkan dapat saling melakukan penetrasi damai untuk menyampaikan pesan advokasi yang diterima melalui film dengan lebih terbuka dan menanggalkan pengalaman represi sosial di masa yang lalu .

Dengan konsep Think Globally Act Locally, film dapat menjadi industri strategis untuk berbagi nilai-nilai kebangsaan dan solidaritas sosial yang diperlukan bangsa Indonesia saat ini. Pesan nilai-nilai kebangsaan dan solidaritas sosial berikut budaya yang disampaikan melalui film Indonesia dengan kualitas yang baik serta tetap memperhitungkan sisi komersial sebuah film maka efek multipliernya akan terjadi pertumbuhan industri film yang lebih baik karena semakin banyak orang mengakses sentra-sentra perfilman Indonesia. Persatuan dalam keberagaman inilah yang akan menguatkan dan mengoptimalkan potensi ekonomi bangsa Indonesia yang pada akhirnya membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia.

Film sebagai media diaspora untuk menjaga dan merajut nilai-nilai kebhinekaan dapat dipahami dalam konteks sosiologi hukum, sebagai bentuk penetrasi damai untuk memberi edukasi yang dapat diterima secara terbuka dan netral sehingga terjadi perubahan perilaku masyarakat. Dengan semakin kuatnya industri perfilman Indonesia, maka film dapat diharapkan menjadi “tool of social enginering” yang bersifat persuasif, sehingga dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dibanding “tool of social enginering” melalui hukum positif yang bersifat legalistik dikhawatirkan pendekatan represif justru kontraproduktif dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini terlebih .

Diharapkan di tahun politik ini, industri film dapat berperan sebagai “tool of social enginering” yang bersifat persuasif sehingga film dapat dijadikan alat kontrol sosial bagi penyesuaian hubungan antar warga negara untuk menuju rekonsiliasi bangsa dan melalui efek imitatif melalui film Indonesia yang berkualitas dapat dijadikan media penataan perilaku kebangsaan berbasis kebhinekaan untuk menangkal politik identitas yang pragmatis di tahun politik ini sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif melalui perfilman Indonesia. Arah perfilman Indonesia saat ini adalah mengubah dan mengontrol perilaku masyarakat sesuai tujuan kebhinekaan. Saat ini industri film dipandang strategis karena dapat mewujudkan pembentukan nilai-nilai karakter bangsa melalui jalan soft-development yang lebih efektif dan bersifat mutualis.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)