Big Boss Bad Boss Make The Employee Drowning in The Daily Grind

Oleh: Bagus Adi Luthfi, M.S.M, Talent Analytics Specialist,
Lembaga Management FEB UI

Bagus Adi Luthfi, M.S.M, Talent Analytics Specialist,
Lembaga Management FEB UI

Tanpa disadari, beberapa atasan di tempat kerja telah “menguras” waktu dan energi pegawai mereka melalui beberapa kesalahan tindakan maupun cara berpikir. Mereka, secara perlahan berubah menjadi musuh paling buruk bagi diri mereka sendiri ketika hendak mengungkit produktivitas pegawai (Gonzales, 2019). Misalnya, seorang atasan yang sangat suka menciptakan inisiatif-inisiatif baru tanpa mengetahui seberapa besar waktu yang dihabiskan untuk mempelajari ketrampilan maupun pekerjaan administratif dalam menggarap inisiatif tersebut. Kondisi ini mengakibatkan pegawai mencoba untuk “melupakan” proyek yang dijalankan sebelumnya dengan maksud menggarap inisiatif dari “ide brilian” atasan mereka tanpa ada kejelasan soal metode maupun kebutuhan waktu untuk menyelesaikannya. Kondisi ini sangat berisiko menyebabkan “kelumpuhan rasa” bagi pegawai akibat dari terus dihujani dengan daftar tugas dari atasan mereka (Petersen, 2019).

Shadow work adalah racun berikutnya bagi pegawai yang dimanfaatkan atasan dengan menumpangi fasilitas kemudahan teknologi yang mengakibatkan beban kerja tak kasat mata. Keyakinan komunal kita dibentuk bahwa teknologi akan mempermudah pekerjaan sehingga seseorang dapat memiliki waktu (luang). Alih-alih logika tersebut bekerja, yang terjadi kebanyakan malah memiliki lebih sedikit waktu dibandingkan dengan kerja dengan cara analog (Levitin,2014). Dalam kondisi ini, pegawai begitu rentan diserbu informasi maupun permintaan komunikasi tanpa henti baik lewat email, pesan singkat, maupun telpon tanpa mengenal batasan jam kerja bahkan mengambil jatah jam tidur dan liburan pegawai. Efek samping dari pola ini diindikasikan Knight (2005) dapat menurunkan IQ pegawai sebesar 10 poin jika tidak dicegah.

Pembuatan keputusan sebagai fungsi yang melekat pada atasan turut berkontribusi dalam menguras energi dan waktu pegawai ketika dilakukan dengan cara yang salah. Perlu diingat bahwa cara pengambilan keputusan posisinya sederajat dengan keputusan yang dihasilkan dan sayangnya hal ini seringkali diabaikan. Contoh buruk dalam hal ini adalah soal modus “partisipasi semu” yang dilancarkan oleh atasan dengan meminta pendapat pada pegawainya sekaligus merencanakan untuk mengabaikannya. Tindakan ini sekaligus tidak etis karena pada dasarnya mereka telah membuat keputusan dan “berpura-pura” mencari masukan dari pegawainya (Sutton, 2008).

Kesalahan kecil oleh atasan yang sering terjadi lainnya namun menyita waktu pegawai adalah soal komunikasi dan delegasi. Terkadang seorang atasan merasa perlu mengasah “ilmu kebatinan” pegawainya dengan cara membiarkan mereka untuk selalu mengintepretasikan sendiri “kalimat” yang tengah diproduksinya apakah itu sebagai komentar lalu atau perintah langsung. Kegawatan muncul ketika waktu terbuang sia-sia melakukan aktivitas tidak perlu hanya karena “tafsir” komentar sebagai sebuah perintah (Sutton & Rao, 2018). Keengganan untuk mendelegasikan tugas rentan membuat terjadinya backlog waktu bagi pegawai dalam mengatur ketersediaan waktu yang ia miliki. Misalnya, ketika waktu pelaksanaan seleksi pegawai menjadi tidak jelas karena atasan ingin langsung turut campur. Dalam kondisi ini, potensi risiko kandidat memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan lain menjadi besar dan ini berarti harus ada jadwal rekrutmen dan seleksi lagi untuk memenuhi kuota.

Persoalan karakteristik dan perilaku dari atasan memiliki potensi risiko yang tidak kalah besar dalam menyumbang masalah yang tengah kita bahas. Yu, Duffy, dan Tepper (2018) mengungkapkan potensi risiko dari fenomena downward envy. Penelitian mereka mengungkap fenomena ini dari perspektif fungsional sosial mengenai bagaimana tindakan atasan yang memiliki rasa cemburu kepada kapasitas pegawai yang lebih baik daripada dirinya. Dalam kondisi seperti ini hal-hal profesional dapat menjadi sangat personal dan dipandang sebagai ancaman harga diri oleh atasan yang memicu adanya tindakan atau strategi adaptif dalam bentuk pegnawasan yang kasar dan cenderung melecehkan dalam interaksi sehari-hari. Kondisi seperti ini tentu akan membuat suasana kerja yang tidak nyaman bagi pegawai dalam menuntaskan tugasnya hanya untuk merespon urusan personal yang tidak penting.

Apakah salah satu dari kondisi di atas masih terjadi di perusahaan anda ?

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)