Covid is Real!

Ilustrasi Covid-19. (foto: Shutterstock)

Siang itu udara terasa sangat cerah, hangat tetapi tidak menyengat. Langit berwarna biru. Angin bertiup sepoi-sepoi. Saya berdiri di depan sebuah rumah sakit yang megah di kawasan Bekasi. Setelah 24 hari dirawat, baru kali itulah saya sempat memperhatikan suasana di rumah sakit ini. Orang yang berlalu lalang. Juga, petugas kesehatan dengan pakaian APD-nya. Hati saya riang gembira, walau di sudut-sudutnya juga ada rasa kehilangan.

Ya, hari itu saya dinyatakan negatif Covid-19 dan dipersilakan pulang ke rumah. Ini adalah PCR yang keempat yang saya jalani di sini –ketiga PCR sebelumnya selalu positif. Perjuangan terbebas dari Covid-19 ini memang tak begitu mudah bagi saya.

Saya terpapar Covid-19 setelah melakukan perjalanan Jakarta-Surabaya-Gresik pulang-pergi. Klien saya, Wilmar Internasional, mengundang saya untuk memberikan Sesi Motivasi kepada para leader-nya di pabrik terbesar mereka di Gresik. Sempat terpikir untuk menjalankan sesi ini secara online, tetapi alternatif ini buru-buru saya abaikan. Selain memang permintaan mereka untuk langsung bertatap muka dengan teman-teman di sana, sebagai motivator sudah lama juga saya merindukan sesi tatap muka secara langsung.

Betapapun saya cukup sukses menyelenggarakan sesi online selama hampir setahun ini, tetap saja ada suasana dan vibrasi yang berbeda dengan sesi tatap muka langsung. Lagi pula, sudah setahun ini saya tidak pernah lagi ke luar kota –yang sebelumnya sangat sering saya lakukan– dengan menggunakan pesawat terbang.

Maka berangkatlah saya ke Gresik dengan penuh semangat. Kondisi saya saat itu sangat fit. Inilah resep utama saya dalam menghadapi Covid-19. Hati yang gembira plus imunitas tubuh yang prima. Buat saya, saat itu dua hal ini saja sudah cukup.

Namun, setelah benar-benar terpapar Covid-19, saya ingin mengatakan bahwa apa yang saya lakukan itu belum cukup. Ada satu hal lagi yang mestinya betul-betul kita jaga di setiap situasi: protokol kesehatan dan 5M.

Apakah saya menjalankan protokol kesehatan dan 5M? Tentu saja. Sebagai figur publik, saya harus menjalankan semua itu. Namun, sejujurnya, harus saya akui di sini, bahwa saya hanya menjalankannya sebatas perilaku (behavior) saja, belum sampai pada level paradigma. Saya percaya bahwa Covid-19 itu ada, tetapi saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Bagi saya, saat itu Covid-19 itu hanya sejenis virus biasa, tidak berbahaya apalagi mematikan. Kalaupun ada orang yang meninggal dunia, saya selalu beranggapan bahwa penyakit bawaanlah (komorbid) yang menjadi biang keladinya.

Sesungguhnya, orang yang memiliki mindset seperti saya itu banyak. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2020 menemukan bahwa 17% penduduk Indonesia tidak percaya Covid-19. Secara persentase kelihatannya itu tidak seberapa. Namun, kalau ditotal dari seluruh penduduk Indonesia, 17% itu berjumlah sekitar 45 juta orang. Jumlah yang cukup banyak, bahkan sangat banyak. Dan, bukan mustahil jumlah ini bisa meningkat di waktu-waktu mendatang.

Dan itulah yang terjadi dengan saya. Jumat, saya berangkat ke Gresik dengan kesehatan yang prima, tetapi Sabtu siang saya pulang ke Jakarta dengan tubuh menggigil. Sungguh di luar dugaan, ternyata saya terinfeksi Covid-19, bukan yang ringan atau sedang, tetapi cukup parah. Bahkan, saya harus menjalani 10 hari di ruang ICU (plus 14 hari di kamar perawatan) karena 80% paru-paru saya berwarna putih. Berada di ruang ICU tentunya penuh dengan perjuangan, juga kecemasan. Dan, ini memberikan banyak sekali pengalaman spiritual yang mencerahkan, juga berbagai perubahan paradigma.

Itulah yang bisa saya katakan sekarang. Sebelumnya, ketika masuk rumah sakit, yang muncul adalah penyesalan dan keinginan menyalahkan. Namun, setelah menjalani hari-hari panjang yang penuh refleksi, saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa apa yang telah saya alami ini bukanlah sebuah musibah melainkan takdir Tuhan. Betul, saya memang harus mengalami ini agar memberi manfaat bagi orang banyak.

Dan, itulah yang sedang saya siapkan saat ini. Saya sedang menulis buku mengenai pengalaman saya terpapar Covid-19 ini. Saya bocorkan dulu judulnya kepada Anda semua: Covid is Real: Perjalanan Seorang Motivator yang Semula Tidak Percaya Covid tetapi Malah Terkena Covid.

Betul, pembaca sekalian, saya telah mengalami sebuah proses transformasi. Buku ini nanti akan saya tujukan bukan hanya kepada 45 juta orang yang tidak percaya Covid-19, tetapi kepada seluruh rakyat Indonesia yang sedang berjuang menghadapi pandemi ini.

Kesalahan yang sering kita buat adalah semata-mata fokus pada perilaku. Lakukan 5M. Patuhi protokol kesehatan. Padahal, masalah kita bukan di situ. Masalah kita adalah masalah paradigma, bukan semata-mata soal perilaku. Dan susahnya, paradigma itu tak terlihat, ia berada dalam ruang rahasia kita. Inilah yang membuat angka penyebaran Covid-19 tak juga menurun. Kita hanya mengejar perilaku 5M, tetapi kita lupa melihat bahwa penyebab perilaku itu adalah paradigma kita yang tidak benar-benar percaya Covid-19.

Mudah-mudahan Covid-19 segera berlalu dan bangsa kita segera pulih seperti sedia kala. Amin. (*)

Arvan Pradiansyah*) Motivator Nasional – Leadership & Happiness

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)