Lima Makna Kemenangan

Saat Abraham Lincoln masih pengacara muda, ia sering berkonsultasi dengan pengacara lain tentang kasusnya. Suatu hari ia menjumpai seorang pengacara senior namun pengacara itu hanya melihatnya sekilas dan berteriak, “Apa yang dia lakukan disini? Singkirkan dia! Aku tak mau berurusan dengan seekor monyet.”

Arvan Pradiansyah Arvan Pradiansyah

Walaupun malu Lincoln tetap bersikap tenang dan kemudian mengikuti jalannya pengadilan. Disana ia menyaksikan bahwa pengacara yang telah menghinanya dengan begitu kejam ini ternyata mampu membela kliennya dengan brillian. Penanganannya kasus itu membuat Lincoln terpesona dan kagum atas kecerdasan sang pengacara.

Perjalanan hidup kemudian membawa Lincoln menjadi Presiden Amerika Serikat pada 1861. Diantara kritikus utamanya terdapat Edwin M Stanton pengacara yang pernah menghinanya. Namun Lincoln mengangkat Stanton di posisi penting sebagai Sekretaris Perang. Ia tak pernah lupa bahwa Stanton adalah seseorang yang amat dibutuhkan negaranya.

Cerita diatas sengaja saya kutipkan untuk menggambarkan arti kemenangan. Mungkin Anda bertanya, siapa sebenarnya yang menang, Stanton atau Lincoln? Anda mungkin berpendapat Stantonlah yang menang karena ia tetap mendapatkan jabatan walaupun telah memperlakukan Lincoln seenaknya. Bukankah Stanton dapat menundukkan Lincoln dengan kehebatan dan kecerdasannya? Anda tidak sepenuhnya salah. Stanton memang mendapatkan kemenangan. Namun kemenangan itu tidaklah sebesar dan seindah kemenangan yang diperoleh Lincoln. Kemenangan Lincoln adalah kemenangan yang hakiki yaitu keberhasilannya mengalahkan dirinya sendiri.

Inilah sesungguhnya makna kemenangan yang pertama. Kemenangan melawan orang lain disebut kesuksesan, sementara kemenangan melawan diri sendirilah adalah kebahagiaan. Ini jugalah yang menjadi pesan utama Ramadhan. Ramadhan sesungguhnya adalah momentum untuk memenangkan dimensi spiritual diatas dimensi fisik kita. Dengan berpuasa kita mengalahkan semua kebutuhan, keinginan, nafsu dan ego kita. Sesungguhnya ketika lahir ke dunia ini dimensi fisik dan spiritual kita berada dalam keseimbangan yang sejati, namun perjalanan hidup sering membuat kita memenangkan dimensi fisik. Padahal manusia sejatinya makhluk fisik sekaligus makhluk spiritual.

Kecenderungan kepada aspek fisik menghasilkan kegelisahan dan menjauhkan kita dari kebahagiaan. Puasa berfungsi mengembalikan keseimbangan ini sebagaimana ketika kita dilahirkan ke dunia ini.

Makna kedua, ciri orang yang menang adalah senantiasa menjadi manusia baru. Ketika mampu mengalahkan diri sendiri kita sesungguhnya sudah naik level yaitu menjadi manusia yang bahagia. Diri sendiri adalah “musuh” tersulit dan paling tangguh untuk ditundukkan. Karena itu keberhasilan menundukkan diri sendiri memberikan keyakinan pada kita bahwa tak ada satupun di dunia ini yang tak mampu kita selesaikan. Bukankah akar semua persoalan adalah ketidakmampuan menguasai diri sendiri?

Makna ketiga, kemenangan itu bersifat sementara, tidak permanen. Ada pemuka agama yang menganalogikan kemenangan di hari raya ibarat wisuda sarjana. Menurut saya ini analogi yang salah kaprah sekaligus berbahaya. Ketika diwisuda, maka Anda menjadi sarjana selamanya, bahkan sampai Anda meninggal duniapun sekalipun. Namun tidak demikian halnya dengan kemenangan setelah berpuasa yang bersifat sementara dan dapat segera hilang pada kesempatan berikutnya. Bukankah banyak orang yang mengalami kekalahan di hari raya karena makan terlalu banyak? Bukankah kemenangan kita bisa segera hilang ketika kita mendahulukan nafsu kita untuk menyerang orang lain? Jadi walaupun telah beroleh kemenangan kita tetap harus waspada karena sangat mungkin kemenangan di menit ini berubah menjadi kekalahan di menit berikutnya.

Makna keempat, kita hanya bisa menang kalau kita memenangkan orang lain. Kemenangan dalam puasa sesungguhnya baru kemenangan tingkat 1 yaitu private victory. Padahal dalam hidup kita membutuhkan kemenangan bersama (public victory). Inilah sesungguhnya yang dilambangkan dengan zakat fitrah. Kita membuat orang lain menang agar kita dapat mencapai kemenangan yang lebih tinggi dan lebih indah.

Makna kelima, akar public victory adalah rasa cinta dan kemampuan berempati dengan orang lain. Puasa sesungguhnya memberikan bekal kepada kita dalam bentuk experential learning untuk bisa menghayati penderitaan orang lain secara lengkap dan mendalam.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)