Pencapaian Agung

Di awal, tengah dan akhir tahun, kita di dunia korporasi terus-menerus sibuk menghitung pencapaian. Bagian pemasaran menghitungnya dengan pangsa pasar, penjualan mengukurnya dengan target, keuangan membandingkannya dengan bujet, produksi memperhatikan kualitas dan kuantitas, sumber daya manusia teliti sekali dengan kepuasan karyawan. Di rumah tangga juga serupa, sebagian besar manusia sibuk sekali membandingkan pencapaiannya dibandingkan dengan orang lain. Kadang malah tidak menyisakan waktu untuk memikirkan yang lain, hanya pencapaian dan pencapaian.

Demikian besarnya energi manusia di zaman ini untuk disebut lebih dibandingkan yang lain, hingga bisa menjadi hulu bagi banyak petaka kehidupan seperti bunuh diri dan korupsi. Jepang adalah Guru bermakna. Kemajuan ekonominya memang fantastis, tetapi di sini angka bunuh dirinya tinggi sekali. Barat adalah Guru yang lain. Pencapaian keuangannya tiada bandingan, tetapi krisis Eropa membuka banyak tabir bahwa keuangan bukan segala-galanya. Sejumlah sahabat bule yang ikut sesi meditasi mendalam selama 10 hari membuka rahasia hidup di sana, kemudian tidak menyisakan hal lain terkecuali empati.

Sebagian sahabat yang sudah menua secara kejiwaan ataupun spiritual tahu, di titik tertentu manusia memerlukan ukuran pencapaian yang lebih dalam. Pembandingan dengan orang lain memang sejenis energi pemacu, tetapi memeluk lembut setiap pengalaman kekinian dengan kasih sayang adalah gerbang menuju kesempurnaan. Dalam filosofi Timur ada cerita tentang pencapaian kehidupan mengagumkan seorang manusia bernama Svetaketu.

Ciri dominan Svetaketu adalah hormat sekali pada orang tua. Suatu waktu anak muda ini harus belajar dari seorang Guru atas permintaan orang tuanya. Demikian tekunnya sehingga ia cepat lulus. Merasa harus membahagiakan orang tua, sebelum pulang kampung ia ikut lomba debat di berbagai penjuru negeri. Dan, ia sering menang sehingga terkenal. Begitu terkenal, ia pulang menjumpai orang tuanya dengan harapan melihat orang tua bahagia. Ternyata sesampai di kampung, orang tuanya menangis sedih sekali. Ayahnya berucap tersendat-sendat, “Bukan itu yang Bapak minta pelajari, sekali lagi bukan.” Dengan polos anak muda ini berkata, “Guru menyebutkan bahwa beliau sudah tidak punya lagi hal yang bisa diajarkan.” Dengan tatapan mata manusia bijaksana, Bapak ini mengelus Svetaketu sambil berbisik, "Sekarang balik ke Guru, minta diajarkan hal-hal yang tidak bisa diajarkan.”

Begitu Gurunya mendengar pesan demikian, pemuda yang sempat congkak karena cepat lulus, pintar, menang debat dan terkenal ini kemudian diminta pergi ke hutan rumput yang jauh dan tanpa penghuni bersama dua pasang domba. Kapan saja dombanya sudah berjumlah seribu, baru ia boleh balik, demikian permintaan Gurunya. Tentu saja, anak muda ini frustrasi. Bulan pertama ia menghabiskan waktu hanya memaki. Tahun pertama, kebanyakan menangis. Namun, di tahun kedua ia mulai mengenal bahasa domba; di tahun ketiga, bersentuhan dengan hukum rerumputan; di tahun ke empat, mengerti bahasa-bahasa langit; dan di tahun ke lima, mulai mengerti rahasia-rahasia cahaya. Anehnya, setelah rahasia cahaya terbuka, dombanya dihitung ternyata berjumlah seribu. Begitu balik membawa semua domba, giliran Gurunya sujud hormat sambil tiarap di kaki Svetaketu karena sudah mengalami pencapaian agung yang bahkan Gurunya pun belum mencapainya.

Sementara banyak orang bingung (kaya salah miskin salah, pintar salah bodoh apa lagi), dalam kehidupan seorang Svetaketu, semua kegelapan kebingungan lenyap ditelan cahaya terang benderang pemahaman mendalam. Beda paling mendasar cuma satu, kebanyakan orang mau memahami hanya dengan mendengar, berdebat, membaca. Namun, orang dengan pencapaian kehidupan yang mengagumkan seperti Svetaketu, pemahaman ditemukan melalui pelaksanaan. Sebuah wajah pemahaman yang paling dalam. Bila pemahaman orang kebanyakan mudah sekali diterjang ombak lupa, dibawa pergi oleh kebencian dan kemarahan, ditelan habis oleh ambisi pribadi yang rendah, dalam pemahaman melalui pelaksanaan semuanya tegak dan kokoh. Serupa akar pohon bambu, tidak ada angin yang bisa mencabutnya.

Untuk itu, mudah dipahami bila sejarawan agama terkemuka tingkat dunia Karen Amstrong dalam karya terakhirnya berjudul Compassion berpesan, compassion (kasih sayang) sebagai sumber kesembuhan, kedamaian dan kebebasan hanya bisa dimengerti mendalam oleh ia yang melaksanakannya. Dalam meditasi, ada perbedaan mendasar antara ingin pergi, sudah pergi serta telah sampai. Pemahaman intelek sejujurnya baru ingin pergi. Pelaksanaan dengan penuh ketekunanlah yang membuat seseorang sudah pergi. Dan, ciri orang yang telah sampai sederhana, yakni memeluk lembut kekinian dengan kasih sayang. Dalam bahasa Konfusius, “Bila mau membangun diri sendiri, cobalah temukan cara melalui membangun orang lain.” Inilah wajah ganda pencapaian agung (pencerahan). Begitu keheningan di dalam terbuka rahasianya, ia melahirkan kerinduan untuk berbagi dan menyayangi.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)