Pendidikan Terbaik adalah Tindakan

Ilustrasi: https://www.gettingsmart.com/.
Ilustrasi: https://www.gettingsmart.com/.

Tindakan adalah bahasa universal dari keberhasilan.” -- Dr. Steve Maraboli

Charlie Chaplin, komedian paling terkenal tempo dulu, pernah bercerita: Waktu masih kecil, aku diajak oleh ayahku untuk nonton pertunjukan sirkus.

Sebelum masuk, kami antre di depan loket untuk membeli karcis. Antrean cukup panjang. Di depan kami, ada satu keluarga ikut antre: bapak, ibu, dan empat anak.

Anak-anak itu tampak bahagia. Meski dari pakaian yang mereka kenakan, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang kaya. Pakaian mereka sangat sederhana, meski tidak dekil.

Tiba giliran mereka harus membayar karcis. Sang bapak merogoh kantong celana dan tampak kebingungan. Nampaknya, uangnya tidak cukup untuk membayar enam lembar karcis.

Dia nampak sedih dan murung, kemudian segera minggir dari antrean. Ayahku melihatnya, dan langsung merogoh uang US$ 20 dari sakunya. Lalu, ayahku langsung menjatuhkan uang itu di samping bapak empat anak tersebut. Ayahku menepuk pundaknya, dan berkata, “Pak, uang Anda jatuh.”

Bapak itu menoleh, memandang ayahku, dan dia paham bahwa ayahku mau membantunya supaya bisa membeli enam karcis. Matanya sembab, bibirnya tersenyum, dan dia ambil uang US$ 20 itu sambil berterima kasih.

Ayahku pun tersenyum, lantas mundur menghampiri aku. Aku lihat bapak itu segera beli karcis untuk keluarganya. Mereka tampak sangat bahagia.

Ayahku lantas mengajakku pulang. Kami tidak jadi nonton pertunjukan sirkus. Ternyata, uang ayahku hanya US$ 20, dan sudah diberikan kepada keluarga tadi.

Dalam hidupku, itulah kejadian yang paling menakjubkan. Pemandangan yang jauh lebih indah dibandingkan pertunjukan apa pun di muka bumi ini.

Sejak saat itu aku meyakini, bahwa pendidikan terbaik adalah tindakan, bukan kata-kata. “Itu bukan soal seberapa besar uang yang Anda berikan. Itu soal bagaimana cinta kasih Anda dalam melakukan pemberian.”

Dalam keseharian kehidupan, yang namanya tindakan (action) atau eksekusi sejatinya adalah suatu hal yang bisa jadi sangat bernilai tinggi dan kritis. Dalam praktik kehidupan penyelenggara negara, demikian “kenyang” kita dengan pelbagai aturan yang nampak indah bila diterapkan. Namun dalam pelaksanaannya di lapangan, yang terjadi adalah ketidakpahaman masyarakat, ketidaksinkronan antarkebijakan, dan bahkan kadang semua nampak kusut masai.

 Dan tragisnya, justru di wilayah eksekusi ini, suka atau tidak, bangsa ini memiliki tabiat yang lemah. Sulit melakukan eksekusi. Sulit menerapkan peraturan. Mengapa demikian? Bisa jadi karena yang bersangkutan tak punya nyali, karena dalam beberapa wilayah keputusan akan menyinggung dan menabrak kepentingan beberapa orang “kuat”.

Bisa jadi, si pelaksana eksekusi ini memiliki conflict of interest tertentu. Ia tersandera dengan suatu kepentingan pribadinya bila keputusan itu diterapkan.

Bisa jadi pula, memang yang bersangkutan tak memiliki kapasitas untuk melakukan eksekusi. Ini soal kompetensi yang terkait dengan watak orang yang peragu dan mudah bimbang.

Sudah menjadi rahasia umum, ada banyak pejabat negara yang hanya pandai merangkai kata. Pandai berbicara berbunga-bunga. Namun, amat lemah dalam tugas-tugas praktis manajerial. Bahasa gaul untuk hal ini kita kenal sebagai NATO: no action, talk only.

Padahal, sekali lagi, tindakanlah yang membuat kehidupan ini berjalan. Tetua mengatakan, “Perahu memang aman dilabuhkan. Tetapi bukan untuk maksud itu perahu dibuat.”

“Tindakan tak selalu membawa kebahagiaan, tetapi jelas tiada kebahagiaan tanpa suatu tindakan,” kata Benjamin Disraeli, Perdana Menteri Inggris Raya tahun 1800-an. “Tiada satu hal pun yang bernilai yang bisa diraih tanpa usaha dan tindakan,” kata Theodore Roosevelt.

Bila tindakan dikatakan sebagai pendidikan terbaik, tentulah sudah seharusnya kita membangun budaya bertindak. Bukan membiasakan hidup dengan bicara berbusa-busa tetapi tanpa tindakan.

Bila kita sudah berbicara soal pembangunan budaya, sudah hukum alamnya, bahwa kebiasaan ini harus dimulai dari orang-orang di “kalangan atas”. Harus ada aspek keteladanan (role-modeling). Harus dicontohkan secara masif dan persisten. “Kalangan atas” dalam arti siapa pun orang yang ada di posisi senior, dituakan, “diataskan”.

Dalam skala nasional, kalangan atas ini adalah para pemimpin negara ini, para petinggi pusat dan daerah.

Dalam cakupan lebih luas, kita semua seyogianya juga harus membiasakan diri untuk menjadi teladan bagi pengembangan budaya berani melakukan tindakan. Berani berbuat (dan bertanggung jawab).

“Setiap orang dalam masyarakat selayaknya menjadi teladan, bukan hanya untuk kehormatan terhadap diri sendiri, tetapi juga kehormatan dari orang lain,” kata Barry Bonds, pemain bisbol terkenal. Senada dengan kalimat Bonds, “Setiap orang, pada dasarnya, mesti menjalani kehidupan mereka sebagai model bagi orang lain,” kata Rosa Parks, aktivis HAM terkemuka.

Lebih fokus, pemain bola legendaris Inggris, Wayne Rooney, menuturkan, “Menjadi seorang ayah berarti Anda harus menjadi panutan untuk anak-anak Anda, menjadi seseorang di mana mereka dapat mencontoh.” Ini suatu tantangan positif bagi para ayah.

Gale Anne Hurd, produser film dan televisi, menegaskan, “Bila Anda tak menemukan seseorang yang layak diteladani, jadikan diri Anda sebagai seorang teladan.” (*)

Pongki Pamungkas

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)