Psikologi Minta Maaf

Ilustrasi id.pinterest.com.

Apakah minta maaf itu sulit? Jawabannya tergantung pada waktunya. Di bulan Syawal, minta maaf justru menjadi sesuatu yang sangat mudah. Saking mudahnya, kita bahkan bisa meminta maaf kepada seseorang yang tidak kita kenal dan baru bertemu dengan kita untuk pertama kalinya. Padahal, kita belum pernah berinteraksi, apalagi melakukan kesalahan. Minta maaf di bulan Syawal telah menjadi sebuah tradisi yang nyaris tanpa makna.

Tradisi ini hanya dikenal di Indonesia sebagai sebuah akulturasi antara ajaran agama dan budaya lokal. Saya ingat waktu saya tinggal dan ber-Lebaran di London beberapa tahun yang silam –tak ada satu pun kawan dari berbagai bangsa yang paham arti meminta maaf di hari Idul Fitri. Mereka malah mengernyitkan kening tanda keheranan ketika saya mengucapkan “Eid Mubarrak” yang dibumbui dengan kalimat bahasa Indonesia yang diinggriskan: “Forgive me body and soul.”

Kalimat seperti itu meluncur begitu saja dari mulut saya tanpa dipikir. Saya ingat pagi hari itu saya shalat Ied di rumah Dubes RI di London, kemudian bersilaturahmi dengan teman-teman PPI dan masyarakat Indonesia di sana. Siangnya, saya sudah berada di kampus London School of Economics karena Idul Fitri bukanlah hari libur, sehingga saya tetap mengikuti kegiatan perkuliahan. Nah, mungkin karena terbawa suasana di pagi hari, sesampainya di kampus saya spontan menyapa teman-teman yang saya jumpai dengan sapaan khas ala Indonesia tersebut.

Minta maaf di hari Lebaran sungguh merupakan sesuatu yang mudah. Karena itu, banyak orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan. Harapannya, dengan minta maaf ini, skor kita kembali menjadi 0-0, dan hubungan pulih. Tapi apa iya, minta maaf dengan cara seperti ini benar-benar bisa memulihkan hubungan?

Minta maaf sesungguhnya merupakan sebuah alat yang sangat penting dalam hubungan antarmanusia. Semakin intensif sebuah hubungan, peluang kita untuk berbuat salah menjadi makin besar. Tanpa adanya permintaan maaf, akan banyak sekali hubungan yang rusak dan berubah menjadi permusuhan. Karena itu, minta maaf sesungguhnya menjadi interpersonal skill yang sangat penting yang perlu dipelajari setiap orang, apa pun pekerjaan dan profesinya.

Namun, minta maaf perlu ditempatkan di posisi yang lebih tinggi daripada sekadar keterampilan (skill). Ketika hanya menjadi sebuah keterampilan, ia akan kehilangan maknanya, dan beralih sekadar menjadi sebuah rekayasa yang tidak dilandasi keikhlasan, penyesalan, dan rasa bersalah. Tanpa dilandasi mindset yang benar, minta maaf hanya akan menjadi sebuah sopan santun dan basa-basi pergaulan yang bukan saja tidak memenuhi fungsinya sebagai sarana pemulihan hubungan yang komprehensif, tetapi hanya menjadi sarana memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri kita sendiri.

Ketika bicara mindset, maka pertanyaan pertama adalah, apakah meminta maaf itu mudah? Kalau Anda menjawab mudah, saya berani memastikan bahwa permintaan maaf Anda tidak tulus dan hanya sekadar basa-basi. Itulah permintaan maaf yang pada hari-hari ini sedang banyak kita dengar. Permintaan maaf yang seperti itu tidak spesifik karena tidak menyebutkan secara jelas kesalahan apa yang sudah Anda buat. Tentu saja, sekadar mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” sangatlah mudah, bahkan sering kita lakukan secara spontan dan tanpa dilandasi kesadaran apa pun.

Permintaan maaf yang benar adalah permintaan maaf yang sulit dan berat untuk dilakukan. Hal ini sangat manusiawi. Pada dasarnya, kita tidak suka minta maaf. Ini perlu kita akui secara jujur dan apa adanya. Ada tiga alasan terpenting mengapa kita sulit untuk meminta maaf. Pertama, masalah ego. Meminta maaf berarti mengakui bahwa kita salah, dan orang lain benar. Ini tentu saja bertentangan dengan ego kita. Tidak ada orang yang ingin disalahkan. Setiap manusia memiliki apa yang disebut dengan mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism). Ini sesungguhnya merupakan “hadiah” yang diberikan oleh Tuhan untuk menjadi bekal bagi kita menjalani hidup ini. Kemampuan mempertahankan diri inilah yang membuat kita survive. Jadi, meminta maaf justru menggerakkan kita ke arah yang sebaliknya yang bertentangan dengan insting survival kita.

Kedua, minta maaf menempatkan kita pada posisi yang rentan dan lemah. Dengan meminta maaf, kita bersedia dilihat sebagai seseorang yang lemah, bahkan bodoh. Meminta maaf juga berarti menyediakan diri kita untuk diserang dan dipermalukan oleh orang lain. Lantas, apakah ada orang yang siap menghadapi situasi tersebut? Saya yakin tidak akan ada.

Ketiga, meminta maaf menciptakan situasi ketidakpastian (uncertainty), karena belum tentu orang lain mau memaafkan kesalahan kita. Dengan demikian, meminta maaf berarti memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menentukan “nasib” kita. Jadi, ujung dari cerita minta maaf ini sepenuhnya berada dalam kekuasaan orang lain.

Karena itu, bila Anda merasa bahwa minta maaf itu begitu berat, itu tanda bahwa Anda adalah manusia biasa. Manusia biasa adalah manusia yang mengikuti gaya gravitasi bumi yang intinya terdiri dari dua hal: ego dan eksistensi. Meminta maaf sesungguhnya bertentangan dengan kedua hal ini. Namun bila ini yang terjadi, kemanusiaan kita jugalah yang akan menjadi korbannya. Berapa banyak hubungan yang akan rusak bila kita memperturutkan kecenderungan manusiawi kita ini?

Kemanusiaan dan peradaban hanya bisa dibangun kalau kita mau merendahkan diri kita dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kita lakukan. Kita perlu melawan gravitasi bumi dengan memperkuat gravitasi langit. Minta maaf hanya bisa dilakukan oleh manusia yang luar biasa, manusia yang telah menjadikan cinta sebagai cara pikir dan cara hidupnya.

Arvan Pradiansyah*) Motivator Nasional – Leadership & Happiness

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)