Self-Love, Mengapa Penting?

Ilustrasi freepik.com.
Ilustrasi freepik.com.

Mengasihi diri sendiri (self-love) sering dianggap sebagai tindakan yang tidak populer, kalah pamor dibandingkan dengan mengasihi orang lain. Kesannya, mengasihi diri sendiri ini sesuatu yang egois dan tidak memedulikan orang lain. Bukankah kita senantiasa diajarkan untuk selalu mementingkan orang lain? Sebuah hadits Nabi Muhammad saw. yang terkenal berbunyi: “Belum beriman seseorang sebelum ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri”.

Padahal, kalau kita cermati lebih dalam, hadits Nabi tersebut sesungguhnya menunjukkan adanya dua urutan dalam mengasihi ini. Nabi mengatakan, kita harus mengasihi orang lain sebagaimana kita mengasihi diri sendiri. Ini berarti mengasihi diri sendiri itu terjadi lebih dulu, bahkan dijadikan referensi, cara, dan petunjuk untuk bisa mengasihi orang lain.

Jadi, mengasihi diri sendiri adalah fondasinya, dasarnya. Maka, ketika kita telah mampu mengasihi diri sendiri, barulah kita dapat menciptakan kasih dengan kualitas yang sama kepada orang lain.

Sayangnya, konsep mengasihi diri sendiri ini sering tercederai oleh pengalaman kita berinteraksi dengan orang-orang yang egois, yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Lihatlah para politisi yang sering menyalahgunakan kepercayaan dan amanah yang telah diberikan rakyat kepadanya. Lihatlah para koruptor yang merampok uang rakyat dengan berbagai dalih dan justifikasi. Atau orang-orang yang berselingkuh dan menghianati pasangan yang mencintainya. Atau mungkin rekan kerja Anda yang hanya mementingkan dirinya, tidak peduli pada nasib anggota tim yang lain.

Perilaku orang-orang inilah yang kemudian membenturkan dua konsep ini secara tidak seimbang. Pertanyaannya kemudian berubah menjadi: mana yang lebih penting, mengasihi diri sendiri atau mengasihi orang lain? Dan, tentunya jawaban yang dikehendaki (politically correct) adalah: mengasihi orang lain lebih penting.

Padahal, pertanyaan awalnya bukan itu. Bukan “mana yang lebih penting”, tetapi “mana yang lebih dulu”. Ini adalah masalah urutan, masalah tangga menuju kematangan. Dan, hukum alamnya memang seperti itu: mengasihi diri sendiri senantiasa mendahului mengasihi orang lain.

Hukum alam ini tak bisa dibalik, bahkan kalaupun kelihatannya bisa, itu hanya akan terjadi secara sementara. Kalau Anda tidak kuat, mustahil Anda bisa membantu mengangkat beban orang lain. Kalau Anda tidak sehat, bagaimana mungkin Anda bisa fokus untuk melayani orang lain, sementara masalah kesehatan terus-menerus menyita perhatian Anda.

Ketika kita mengalami masalah dan merasakan emosi yang negatif, pikiran kita akan menyempit. Alih-alih melihat dunia sebagai sesuatu yang luas dan lapang, otak kita hanya akan berfokus pada satu hal, yaitu penderitaan kita. Ini beda dengan ketika kita sedang berbahagia. Saat bahagia, pikiran kita akan terbuka dan berkembang. Kita akan melihat dunia secara berbeda dan akan mulai memperhatikan kepentingan orang lain.

Yang menarik, pikiran yang menyempit ketika kita sedang mengalami masalah sesungguhnya memang didesain Tuhan seperti itu. Emosi negatif akan membuat kita berfokus pada penderitaan kita. Dan, ini penting karena dengan demikian kita akan terdorong untuk mencari solusi terhadap masalah yang sedang kita hadai. Tanpa adanya emosi negatif, kita tidak akan berfokus pada solusi, sehingga akan semakin lamalah kita berada dalam masalah tersebut.

Itulah sebabnya, orang yang sedang bermasalah tidak akan mungkin bisa memperhatikan dan melayani orang lain. Ia hanya akan berfokus pada dirinya sampai akhirnya ia keluar dari masalahnya. Dan, selama itu juga ia tak mungkin bisa membantu, melayani, dan mengasihi orang lain.

Intinya, mengasihi diri sendiri senantiasa mendahului mengasihi orang lain. Ini adalah rumus yang tak dapat dibalik karena memang tidak mungkin. Manusia sudah didesain Tuhan dengan urutan yang seperti itu. Dengan demikian, mengasihi diri itu sangat penting karena ia akan menjadi dasar bagi mengasihi orang lain.

Jadi, di sini kita bicara mengenai proses pertumbuhan. Kita bisa tumbuh dengan cara mengasihi diri sendiri, kemudian pertumbuhan itu kita lanjutkan ke level berikutnya, yaitu mengasihi orang lain.

Namun sayang, ada banyak juga orang yang terhenti proses pertumbuhannya hanya sampai tahap pertama ini. Perjalanan spiritual mereka berhenti di sana. Dan, mereka akan terus menua tanpa pernah berpindah ke proses pertumbuhan berikutnya, yaitu mengasihi orang lain.

Banyak orang yang menyangka bahwa orang yang sudah mengasihi dirinya akan secara alami tumbuh menjadi orang yang mengasihi orang lain. Padahal. pertumbuhan tersebut tidak terjadi secara alami, tetapi sesuatu yang harus kita ciptakan dan upayakan secara sadar. Bila tidak, akan muncul perilaku mengasihi diri sendiri yang kebablasan. Ini yang kemudian melahirkan sikap egois dan narsisis.

Karena itu, pencerahan dalam bidang cinta ini sungguh penting. Untuk itulah, saya menulis buku mengenai cinta (LITA: Love is The Answer; 2022), termasuk juga menulis artikel ini. Saya ingin menempatkan “mengasihi diri sendiri” ini di dalam kerangka yang benar. Mengasihi diri sendiri haruslah senantiasa ditempatkan dalam konteks mengasihi orang lain.

Jadi, paradigmanya adalah “Saya mengasihi diri sendiri agar bisa mengasihi orang lain.” Inilah bedanya dengan orang yang egois yang menganut paradigma “Saya mengasihi diri sendiri untuk kepentingan saya sendiri.” Yang kedua ini menunjukkan niat, mindset, dan visi yang berbeda dari esensi kasih yang sesungguhnya. (*)

Arvan Pradiansyah )* Motivator Nasional – Leadership & Happiness

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)