Sikap Menghadapi Badai

Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Banyak orang teriak ketika menghadapi badai, karena semua tak senang berhadapan dengan badai. Semua berusaha menghindari badai, kalau ada badai selalu berharap bahwa badai cepat berlalu. Itu sesuatu yang wajar, karena ketidaknyamanan itu bagi banyak orang adalah sesuatu yang harus dihindari.

Namun, kalau kita mau objektif, tidak semua badai itu merusak. Ada badai yang justru membuat kita semakin kuat untuk melangkah ke level yang lebih tinggi. Coba lihat saja kisah para pemimpin dunia yang menjadi semakin kuat setelah terserang badai yang sangat dahsyat dan bahkan acap akan menenggelamkan kehidupan mereka.

Steve Jobs hampir luluh lantah ketika didepak dengan paksa untuk minggir dari perusahaan rintisannya sendiri. Apa pun masalahnya, tetapi tersingkir oleh orang luar tidaklah mudah. Namun, Jobs melihat badai itu justru sebagai cambuk untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah seperti yang di-“tuduh”-kan. Ia membentuk Pixar dan sukses, dan akhirnya didaulat kembali untuk memimpin perusahaan rintisannya. Dan sampai akhir hayatnya, Apple adalah perusahaan termahal di dunia, bahkan sampai saat ini nilainya lebih dari PDB Indonesia.

Maka, dalam bukunya Jobs berujar bahwa badai kehidupan sejak lahir, dibesarkan, dan masa pemuda adalah badai yang tidak membuat hidupnya hancur, melainkan badai yang membuatnya naik tangga setapak demi setapak ke level tertinggi yang ia bisa capai. Termasuk, ketika berjuang dengan kankernya, ia menjadi orang yang mampu melihat dunia ini dengan bijak. Kata banyak orang, menjelang wafatnya, ia menjadi seperti ahli filsafat yang menghayati kehidupan secara penuh.

Nelson Mandela, contoh lain. Meskipun agak ekstrem, bagi saya beliau adalah seseorang yang mampu berselancar di atas gelombang ganas di laut dan akhirnya muncul sebagai pemenang kehidupan. Bayangkan, di penjara puluhan tahun karena menentang politik apartheid, dengan siksaan berat. Namun, setelah dibebaskan dan menjadi presiden, ia bahkan mengampuni orang yang memenjarakan dan menyiksanya. Buat seorang Mandela, terpaan badai di paruh pertama hidupnya menjadi bekal sewaktu ia menjadi Presiden Afrika Selatan.

Dari dalam negeri, kita tahu sosok Om William (William Soerjadjaja) yang tatkala terkena badai, pada 1992 harus melepas perusahaan rintisannya, yaitu Astra. Sungguh pahit dan menyakitkan. Sebagai orang yang mengerti kondisi Om dan Tante, saya pikir kehilangan perusahaan sebesar Astra akan membuatnya kehilangan iman dan menjadi berantakan. Rupanya, saya sangat keliru. Karena prinsip imannya dan pilihannya menolong keluarga, Om William menciptakan badainya sendiri. Beliau jadi terseret dan harus ikut bertanggung jawab.

Seandainya beliau seperti pengusaha lain, sampai saat ini beliau dan keluarganya pasti masih menjadi pemegang saham Astra. Namun, sejarah membuktikan lain. Om terdampak, tetapi karena sikapnya yang heroik, sampai saat ini kehidupannya menjadi panutan buat seluruh insan Astra. Tak mengherankan, siluet beliau-lah yang terpampang agung dan besar di koridor lobi Menara Astra saat ini.

Memang, ada badai yang terjadi karena di luar kendali kita. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menghadapinya dengan sekuat tenaga, persis seperti yang sedang kita hadapi saat ini terhadap Covid-19. Namun, ada badai yang terjadi justru karena kita yang menjadi penciptanya sendiri.

Anda menjadi orang yang bersih dan benar di tengah kelompok komunitas yang kotor, Anda sedang menciptakan badai penolakan secara masif. Orang melakukan tindak ketidakjujuran, walaupun ditutup sangat rapi, kalau terkuak, orang itu sedang memenjarakan dirinya dan mempermalukan keluarganya sendiri. Lihatlah para koruptor, dipermalukan KPK dengan rompi oranye dan terus diputar di media kalimatnya yang antikorupsi itu. Orang itu menjadi bahan olokan sampai akhir hayatnya.

Di saat perubahan menuju ke new normal seperti ini, ketika pengusaha tidak mau berubah ke arah digital, tetap mempertahankan format lama walaupun pelanggan sudah berubah dengan tuntutan baru, orang itu sedang menciptakan badai buat usahanya. Mempertahankan cara lama di era baru adalah menyimpan anggur lama di kantong yang baru, keduanya akan rusak.

Karyawan yang sudah merasakan work from home (WFH) seharusnya juga menyadari bahwa ini bukan hanya soal pekerjaan ataupun perusahaan, tetapi soal dirinya sendiri. Apakah setelah pandemi ini pekerjaannya masih eksis atau sudah ikut jadi korban badai Covid-19?

Yang secara sadar tahu bahwa ia membutuhkan new skill atau new capabilities, akan berusaha melakukan upskilling dan upgrading dengan serius, bukan sekadar memanfaatkan bantuan pemerintah dengan mengikuti program ini sekenanya dan seadanya. Kalau ia tidak sadar, ia sedang menciptakan badainya sendiri, karena begitu badai ini berakhir, pekerjaannya sudah sirna, digantikan oleh robotic process automation (RPA) atau teknologi digital lainnya.

Sebaliknya, perusahaan dan karyawan yang melihat badai saat ini sebagai kesempatan untuk melakukan reposisi dan redifinisi terhadap model bisnisnya, akan berusaha mengubahnya secara mendasar, justru saat badai ini berlangsung. Dan ketika badai sudah berlalu, perusahaan atau karyawan itu menjadi the first man running.

Nyata, selalu ada dua pihak. Yang dikalahkan badai dan yang mengalahkan badai. Anda termasuk yang mana? (*)

Paulus Bambang WS

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)