Transisi Energi Terbarukan - Apakah Hidrogen Hijau (Green Hydrogen) Solusi yang Layak untuk Negara-negara ASEAN?

Oleh Ryuji Maruyama, Corporate Representative - Asia, Toshiba Corporation & Managing Director, Toshiba Asia Pacific Pte. Ltd

Baru-baru ini, dengan perubahan iklim dan dorongan aktif akan kesadaran lingkungan, saya menyaksikan semakin tingginya kesadaran akan pentingnya mendayagunakan manfaat dari energi terbarukan. Saya tumbuh di Jepang dan sejak 1960-an, negara ini telah bergeser dari mengandalkan batubara dan tenaga air tradisional ke bentuk-bentuk sumber daya energi lainnya.

Meningkatnya penerapan energi terbarukan dan liberalisasi industri listrik diharapkan dapat mendorong permintaan akan layanan agregasi energi yang mengintegrasikan dan menyesuaikan keseimbangan pasokan energi terbarukan & penyimpanan dengan permintaan dari sektor industri, komersial, dan perumahan.

Saat energi terbarukan seperti tenaga air, matahari dan angin dikenal luas, sumber energi yang mendapatkan momentum sebagai sumber energi yang sangat serbaguna di masa depan adalah hidrogen, terutama hidrogen hijau.

Dengan membangun kemitraan antara pemerintah, organisasi dan pemasok infrastruktur, hidrogen hijau tidak hanya memiliki potensi dalam mendukung transisi menuju sistem energi dekarbonisasi yang didukung dengan kebijakan pemerintah dan perjanjian iklim, tetapi juga memberikan aplikasi yang berguna dalam penanggulangan bencana, perangkat mobilitas, solusi luar jaringan (off-grid) dan seluler.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pasokan hidrogen saat ini diproduksi hampir seluruhnya dari bahan bakar fosil, dengan 6% gas alam global dan 2% batu bara global dipakai untuk produksi hidrogen. Produksi hidrogen ini bertanggung jawab atas emisi CO2 sekitar 830 juta ton karbon dioksida per tahun.

Hidrogen hijau, di sisi lain, menggunakan sumber energi terbarukan seperti matahari, angin, dan air untuk mengelektrolisis hidrogen dari air, menyimpan dan menggunakan hidrogen dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik bebas CO2 yang stabil, ramah lingkungan dan air panas. IEA menyatakan bahwa saat kurang dari 0,1% produksi hidrogen khusus global saat ini berasal dari elektrolisis air, dengan penurunan biaya untuk energi terbarukan, khususnya dari matahari dan angin, terlihat peningkatan minat atas hidrogen elektrolitik (hijau).

Di ASEAN, negara-negara berkomitmen untuk mengurangi intensitas emisi, menyatakan untuk berkontribusi akan target pegurangan intensitas energi keseluruhan secara regional sebesar 30 persen dari tingkat 2005 pada tahun 2025. Beberapa pemerintah di Asia telah memimpin dengan kebijakan dan peraturan dalam mendorong penggunaan dan implementasi hidrogen hijau sebagai sumber energi terbarukan. Di Singapura, misalnya, dengan terbatasnya lahan dan sumber daya, beberapa metode diterapkan untuk mengurangi jejak karbon negara-kota ini termasuk dengan menerapkan teknologi pembangkit listrik yang lebih efisien, dan melihat ke arah energi terbarukan, terutama matahari.
Keselamatan adalah tantangan, terutama di daerah hunian padat seperti Singapura. Hidrogen sendiri sangat mudah terbakar dan bahkan percikan kecil yang dihasilkan oleh listrik statis dapat menyalakannya. Singapura memulai uji coba pada 2017 di lepas pantai Singapura di Pulau Semakau untuk menggali kelayakan penyimpanan hidrogen dalam menghadapi keterbatasan tenaga surya.

Saat ini, hidrogen sedang diuji sebagai solusi energi bersih yang potensial di Singapura. Pada tahun 2019, SP Group, sebuah grup utilitas energi terkemuka di Asia Pasifik, berhasil membangun gedung tanpa emisi pertama di Singapura dan Asia Tenggara bertenaga hidrogen hijau. Teknologi ini dipasok oleh H2One™ Toshiba, Sistem Pasokan Energi Otonom berbasis Hidrogen yang menghasilkan hidrogen, yang dapat disimpan untuk digunakan kemudian dengan teknologi Fuel Cell.

Sistem ini menggunakan paduan logam khusus sebagai media penyimpanan agar dapat terikat dengan hidrogen, memungkinkan penyimpanan sejumlah besar hidrogen pada tekanan yang jauh lebih rendah selama periode waktu yang lama tanpa kerusakan. Ketika listrik diperlukan, hidrogen yang tersimpan dilepaskan secara lambat dan teratur, membuatnya lebih aman dan lebih ringkas untuk disimpan di lingkungan perkotaan.
Sebagai solusi luar jaringan, sistem energi hidrogen otonom menyediakan pasokan energi yang stabil yang tidak bergantung pada pembangkit listrik diesel atau jaringan, dan tidak terpengaruh oleh kondisi iklim - 24 jam sehari, 365 hari setahun. Negara-negara tetangga seperti Indonesia dan Filipina juga mengeksplorasi hidrogen hijau untuk memasok energi yang stabil dan murah bagi banyak pulau mereka.

Indonesia, yang terdiri dari lebih dari 10.000 pulau, memiliki tantangan dalam penyediaan energi yang stabil dan murah untuk setiap pulau, dan memiliki rencana bisnis pasokan listrik yang disebut “Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL),” yang bertujuan untuk meningkatkan total tingkat kapasitas pembangkit listrik dari energi terbarukannya dari 12,52% pada 2017 menjadi 23% pada tahun 2025.

Di Filipina, setengah dari pasokan energi saat ini terdiri dari batubara dan tenaga termal berbahan bakar minyak, dan sangat bergantung pada impor bahan bakar ini. Filipina melihat energi terbarukan sebagai peluang untuk meningkatkan swasembada pasokan energinya dan mencari solusi untuk pulau-pulau terpencil dengan tingkat elektrifikasi yang rendah, dan cara-cara untuk mengurangi risiko dari angin topan dan bencana alam lainnya.
Pada tahun 2018, setelah menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Administrasi Ketenagalistrikan Nasional, sebuah organisasi pemerintah Filipina, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebuah organisasi pemerintah Indonesia, Toshiba saat ini bekerja untuk menilai dan mengimplementasikan H2One™ sistem luar jaringan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dalam waktu dekat.
Energi terbarukan berfungsi sebagai bagian penting dari bauran energi yang terdiversifikasi, tetapi hasilnya dapat bervariasi tergantung hari, cuaca dan musim.

Hidrogen dapat mengatasi ketidakpastian itu. Seperti listrik dalam baterai, ia menyimpan energi, dan dapat mengimbangi ketidakstabilan pasokan dari energi terbarukan. Tidak seperti baterai, hidrogen tidak berkurang seiring berjalannya waktu, dan dapat disimpan selama diperlukan sebelum digunakan. Hidrogen hijau dapat digunakan sebagai media penyimpanan untuk memasok daya selama periode ini.

Luasnya implementasi dari hidrogen hijau akan dipercepat dengan kemajuan keselamatan, infrastruktur, dan efisiensi biaya. Dengan meningkatkan kemajuan teknis dalam hidrogen, biaya produksi, distribusi dan pembuatannya akan menjadi lebih terjangkau.

Rekam jejak dari keamanan implementasi yang kuat sangat penting untuk memompa kepercayaan pengguna dan mempercepat pertumbuhan hidrogen hijau. Pemasok infrastruktur harus bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi untuk memahami tantangan unik mereka dan memberikan solusi khusus atas masalah mereka.

Sementara itu, implementasi yang luas akan memakan waktu dan kami harus mempertimbangkan teknologi yang ada agar dapat berkontribusi menghasilkan energi yang lebih bersih saat ini.

Di ASEAN, di mana energi sebagian besar masih dihasilkan dari tenaga termal dengan penggunaan batu bara, minyak dan gas, teknologi yang ada seperti turbin uap ultra-superkritis (ultra-supercritical) dan penggunaan AI (Artificial Intelligence)/IoT (Internet of Things) dalam efisiensi pabrik bisa diimplementasikan sebagai kontribusi bagi masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
Toshiba mendorong kemajuan di seluruh bisnis energinya, termasuk hidrogen sebagai sumber energi bersih.

Sementara kami memajukan teknologi dalam hidrogen, kami terus meningkatkan efisiensi di semua solusi energi kami untuk mewujudkan masyarakat rendah karbon dan pasokan listrik global yang stabil dengan menyediakan sistem pembangkit listrik paling efisien di dunia.
Namun demikian, sementara negara-negara juga berusaha untuk mengoptimalkan sumber daya energi mereka yang didistribusikan di seluruh jaringan, hidrogen hijau pada akhirnya harus ditambahkan sebagai langkah ke depan dalam mengamankan kemandirian energi dan swasembada di negara-negara yang kekurangan sumber daya energi alam. Ini dapat dikelola melalui sistem pengelolaan energi terpusat yang memperkirakan dan menyeimbangkan pasokan berdasarkan fluktuasi permintaan energi dan memindahkan ke daerah lain untuk mendukung ketahanan jaringan listrik secara keseluruhan dan memastikan keberlanjutan di masa depan energi kita.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)