COVID-19 dan Percepatan Industri 4.0

Oleh: Alain
Widjanarka
Head of Operational
Excellence Department PPM Manajemen

Alain Widjanarka

Saat tulisan ini dibuat, Covid-19
masih menghantui beberapa negara. Penyebarannya yang begitu cepat dan tanpa
pandang bulu mengakibatkannya menjadi pandemi global. Selain itu, “keunggulan”
virus ini yang dapat menyebar di antara orang-orang tanpa perantara khusus
membuat penanganannya menjadi lebih sulit. Namun, lambat laun dokter dan ilmuwan
sudah memahami cara cepat menahan laju penyebaran, yakni social distancing!

Social distancing merupakan tindakan
memperlebar jarak fisik antar orang. Saat ini jarak satu meter antar orang
menjadi acuan aman untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19. Perlakuan tersebut
akan meminimalkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kerumunan atau
berkelompok. Beberapa contoh tindakan social distancing adalah bekerja
dari rumah, melakukan pembelajaran daring, komunikasi menggunakan media
elektronik, dan menghindari kegiatan konferensi atau pertemuan fisik. Beberapa
perusahaan dari berbagai industri kemudian melakukan tindakan-tindakan
tersebut.

Tidak bias dipungkiri,
wabah ini akan mengevolusi beberapa cara kerja yang sudah biasa. Banyak
perusahaan dipaksa untuk meninggalkan cara kerja tradisional dan memunculkan
cara bekerja yang tidak biasa. Dengan adanya wabah, perusahaan akan bekerja
dengan minimal pertemuan fisik. Bukan hal yang aneh apabila kondisi tersebut akan
diteruskan meskipun wabah sudah selesai.

Perusahaan menjadi terbiasa
bahwa tidak selamanya karyawan harus bekerja di kantor. Sampai pada akhirnya perusahaan
akan menyadari bahwa yang sesugguhnya dibutuhkan adalah fungsi dari seorang
karyawan. Kehadiran fisik seorang karyawan menjadi tidak utama.

Yang akan terjadi
selanjutnya adalah perusahaan akan memposisikan karyawan di backstage ataupun
menjadi supporting process. Front stage akan didominasi dengan
teknologi (aplikasi, mesin pintar). Karyawan bertugas menyematkan misi yang
harus diselesaikan oleh teknologi tersebut. Beberapa tahun lagi, ketika
teknologi sudah semakin pintar dan mampu bertindak layaknya manusia, peran
karyawan tidak lebih dari supporting process. Manusia hanya dibutuhkan
apabila teknologi tidak mampu menangani suatu kondisi. Inilah masa dimana perusahaan
memasuki revolusi industri era baru, era Industry 4.0.

Kehadiran fisik pelanggan
tidak lagi menjadi keharusan karena kegiatan perdagangan dapat berlangsung di
dalam teknologi. Keberadaan karyawan di lini depan perusahaan, seperti:
resepsionis, front office, sales, kasir, dapat menjadi minimal.
Intervensi manusia digantikan dengan hubungan antar aplikasi dan proses logis
teknologi antara supplier dan producer. Sehingga peran karyawan
yang tersisa adalah memperbaiki dan mengembangkan proses yang harus diikuti
oleh teknologi.

Banyak yang meramalkan
bahwa software developer, apps developer, analis data, analis
keuangan, serta teknisi dan insinyur bidang robotika merupakan pekerjaan yang akan
mendominasi di era Industry 4.0.
Ramalan tersebut sudah terlihat kebenarannya. Saat ini hampir tidak ada
perusahaan yang tidak menggunakan teknologi dalam menjalankan kegiatannya.

Dengan perkembangan
teknologi jaringan, setiap minggu setidaknya muncul satu kali tindakan pembaruan
pada aplikasi. Pada kondisi yang mengharuskan karyawan bekerja secara remote
seperti karena adanya wabah, perusahaan yang telah menerapkan konsep Industry
4.0 cenderung lebih siap.

Hanya saja, membangun kesiapan
Industry 4.0 bukanlah
pekerjaan sebentar, butuh bertahun-tahun hanya untuk membangun kesadaran saja.
Salah satu hikmah yang dapat diambil dari wabah Covid-19 kali ini adalah
mempercepat timbulnya kesadaran perusahaan terhadap era Industry 4.0. Sekarang waktu terbaik bagi
manajemen untuk mengubah pola kerja yang sudah biasa menjadi di luar kebiasaan.

Sistem yang penting untuk
diubah dalam penerapan Industry 4.0
adalah penghargaan kepada karyawan tidak lagi berdasarkan “process based
melainkan “output based”. Ketika karyawan bekerja tidak dari kantor
seperti yang terjadi saat ini, maka supervisi atas proses cenderung sulit untuk
dilakukan. Supervisor lebih mudah menilai kinerja karyawan berdasarkan output yang dihasilkan untuk periode
waktu tertentu. Output akan lebih
mudah diidentifikasi dan menjadi penentu tingkat produktivitas karyawan
dibandingkan proses.

Sesungguhnya sistem “ouput
based
” bukanlah barang baru. Awalnya semua industri memberikan penghargaan
berdasarkan output yang dihasilkan
pekerja namun kondisi berubah sejak adanya revolusi industri dan dikenalnya standarisasi.
Kualitas suatu produk dapat terjaga apabila proses penciptaannya dapat
dipantau. Pemantauan dilakukan untuk melihat apakah proses kerja sudah
dilakukan sesuai dengan prosedur standarnya.

Kondisi bisnis di masa
depan yang penuh dengan ketidakpastian dan mudah berubah membuat perusahaan
lebih perlu memprioritaskan pelaksanaan tata kelola yang baik dibandingkan
prosedur baku. Penggunaan teknologi membuat proses tetap terjaga sesuai
prosedur dengan tata kelola yang baik. Ketika supervisi proses sudah digantikan
teknologi maka selebihnya adalah memantau output.
Oleh karena itu, kembali lagi, pekerjaan analis dan pengembang aplikasi menjadi
penting bagi perusahaan.

Jelas, bahwa Covid-19
membuat industry 4.0 menjadi
keniscayaan bagi industri. Kegiatan bisnis dan operasional akan bergantung pada
konektivitas jaringan dan sistem. Pertukaran data dan informasi perlu dilakukan
secara cepat dalam penciptaan produk. Sistem kerja berubah dibarengi dengan
penyesuaian mekanisme supervisi. Tingkat kesiapan memasuki Industry 4.0 dapat dilihat dari kemampuan
perusahaan mengelola bisnis di tengah wabah saat ini.

Semakin mudah karyawan
melakukan pekerjaan di manapun dia berada maka dapat dikatakan perusahaan
tersebut telah siap memasuki era Industry 4.0. Ketidaksiapan perusahaan dalam penyediaan teknologi dan sistem
output based” akan menurunkan tingkat kinerja karyawan. Tingkat
produktivitas dipertanyakan karena tidak ada mekanisme supervisi yang memadai.

Meskipun saat ini perusahaan
tidak siap dengan teknologi dan mekanisme pendukungnya, namun jangan sampai hal
tersebut dibiarkan. Lakukan evaluasi atas output dan analisis hasilnya untuk
memahami tingkat kesiapan perusahaan.

Sudah siapkah kita memasuki era Industry 4.0?

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)