Data Driven dalam Manajemen Strategis SDM
Oleh: Jusuf Irianto, Guru Besar Manajemen SDM, Departemen Administrasi Publik, FISIP Universitas Airlangga

Era digital saat ini memposisikan data bernilai sangat strategis baik bagi sektor publik (pemerintah) maupun swasta (perusahaan). Pemerintah berkeyakinan data berperan penting sebagai basis dalam setiap perumusan dan implementasi kebijakan, pemberian layanan (service delivery), serta tata kelola kinerja lembaga secara berkelanjutan.
Perusahaan pun memaknai peran data sebagai fundamen bagi pengambilan keputusan strategis dan operasional. Berbagai perubahan dan tuntutan pelanggan dapat direspon melalui strategi yang tepat. Berdasar ketersediaan data, keputusan dapat dibuat dengan rasional seraya menghindari resiko yang kemungkinan dapat merugikan perusahaan.
Menyadari penting peran data, pemerintahan di negara-negara maju serta berbagai perusahaan ternama telah mengembangkan pendekatan berbasis data (data driven). Berbagai lembaga pemerintah dan perusahaan Indonesia juga sedang melangkah ke penggunaan pendekatan tersebut sebagai basis merancang dan memberi pelayanan serta tata kelola dan pengembangan organisasi.
Pendekatan berbasis data diyakini memiliki dampak positif. Hasil yang dicapai pemerintah dalam pelayanan publik misalnya, berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat karena semua kebutuhannya dapat direspon secara tepat. Sementara bagi perusahaan, layanan terbaik dengan mengandalkan data mampu meningkatkan kepuasan pelanggan.
Sebagian besar fungsi operasional dalam organisasi telah bertransformasi secara digital mengikuti trends berbasis data. Fungsi marketing misalnya, dalam rangka meningkatkan branding dan selling secara optimal tak pernah mengabaikan data sebagai basis rencana dan tindakan. Sementara fungsi-fungsi keuangan, produksi, serta riset dan pengembangan untuk inovasi juga tak luput dengan pemanfaatan data.
Demikian pula fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM) berbasis data kini menjadi trending topic. Sebelumnya, manajemen SDM mengandalkan pengalaman atau intuisi sebagai basis keputusan sehingga cenderung tak ilmiah dan subjektif. Kini, keputusan dalam manajemen SDM berbasis data mampu menjamin objektifitas dan rasional-ilmiah.
Namun, terdapat banyak pihak yang belum memahami secara utuh makna data driven dalam manajemen SDM. Tulisan ini berupaya menjelaskan tentang makna dan manfaat data driven untuk mendukung kebijakan dan tata kelola SDM.
Makna Data Driven
Secara umum, istilah data driven bermakna sebagai manajemen berbasis data atau bukti empiris. Dalam konteks MSDM, data driven merupakan instrumen dalam menganalisis kondisi SDM berbasis data sebagai bukti otentik. Analisis kondisi SDM berbasis data menjamin setiap keputusan objektif dan equal.
Objektifitas dan keadilan pengelolaan SDM bersifat esensial karena menentukan masa depan setiap karyawan. Kon Leong (2021) menyajikan uraian menarik di Harvard Business Review bahwa data driven merupakan pendekatan efektif mengidentifikasi dan mempertahankan top employees. Leong adalah co-founder sejumlah high-tech startups, perusahaan soft-ware, dan cloud vendor melayani berbagai perusahaan terkait manajemen informasi dan solusi analitis berbasis data.
Karena itu, ketersediaan data dalam platform digital mempermudah menganalisis isu-isu dalam fungsi manajemen SDM yakni rekrutmen dan seleksi SDM bertalenta hingga pengembangan karyawan. Data karyawan merepresentasikan kondisi nyata SDM. Dengan dukungan teknologi digital, analisis MSDM dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Sementara itu, Organization for Economic Cooperation and Development/OECD, sebagai organisasi internasional ternama yang bergerak di bidang ekonomi dan pembangunan, telah pula membuat rumusan makna data driven dalam MSDM yang lebih rinci.
Menurut OECD, data driven MSDM merupakan proses pengambilan keputusan dengan mengkombinasikan pemikiran kritis dengan bukti ilmiah dan informasi yang tersedia. Berdasar makna tersebut, data driven mengandung setidaknya empat elemen, yaitu hasil riset sebagai bukti ilmiah, fakta empiris kondisi terkini suatu organisasi, penilaian terhadap posisi organisasi, serta refleksi hasil penilaian dan pertimbangan dari stakeholders yang terkena dampak dari suatu keputusan yang dibuat organisasi.
Keempat elemen tersebut berintegrasi menjadi format ketersediaan data. Dengan dukungan teknologi informasi, analisis SDM berdasar data mampu menghasilkan informasi akurat. Teknologi informasi memungkinkan hasil analisis menghasilkan informasi yang disajikan secara deskriptif, visual, dan statistik terkait proses SDM, kondisi human capital, dan kinerja yang dicapai. Selain itu, jika terdapat masalah akibat determinasi dinamika lingkungan eksternal, maka organisasi dapat mengindentifikasi untuk kemudian dapat mengantisipasinya sejak dini.
Analisis SDM pada dasarnya merupakan identifikasi dan perhitungan sistematis terhadap perubahan lingkungan yang mempengaruhi kebijakan dan manajemen SDM. Analisis SDM dalam kadar lanjutan (advanced level) memberi kedalaman makna atas data tertentu sehingga organisasi mampu mengikuti trend perubahan kondisi SDM baik secara internal maupun eksternal (labour market).
Secara internal, dengan data driven dapat dilakukan simulasi perencanaan SDM sebagai perhitungan sistematis terhadap tercapainya keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan karyawan. Rekrutmen dan seleksi memenuhi kebutuhan karyawan baru pun dapat dilakukan lebih efektif. Secara ekternal, organisasi memanfaatkan informasi dinamika pasar tenaga kerja sehingga dapat disiapkan berbagai langkah strategis memperoleh SDM bermutu secara tepat.
Pemanfaatan Data Driven
Dalam laporan bertajuk Working Papers on Public Governance, OECD mengelaborasi konsep data-driven yang memungkinkan pemanfaatan data bagi manajemen SDM. Menurut OECD, manajemen SDM akan lebih produktif, inklusif, dan terpercaya (trustworthy) jika andalkan data dan bukti empiris.
Secara substansial, setiap keputusan dalam SDM diarahkan pada upaya mengembangkan karyawan lebih produktif dan berdaya saing tinggi. Manajemen SDM juga inklusif terhadap nilai (value) keberagaman serta kapabilitas karyawan. Keberagaman ini harus disikapi bijaksana sesuai dengan prinsip-prinsip sistem merit yang menghargai prestasi dan kinerja.
Dengan sistem merit dapat dihindari fraud dan moral hazard sehingga muncul trust atau kepercayaan dari semua pihak. Semua keputusan yang dihasilkan dalam manajemen SDM tanpa mengandung unsur diskriminasi. Keputusan dalam pengembangan karir atau promosi misalnya, harus mempertimbangkan capaian prestasi serta data pendukung lain yang terdokumentasi dengan baik. Pengambilan keputusan dalam manajemen SDM sangat sensitif terkait persepsi keadilan di samping menentukan dengan masa depan dan destiny karyawan. Karena itu, setiap keputusan SDM harus dapat diterima oleh akal sehat.
Sudah saatya lembaga pemerintah dan perusahaan di Indonesia menentukan data driven sebagai pendekatan efektif pengambilan keputusan yang menjamin objektifitas dan menjunjung prestasi. Sejumlah peluang yang dapat diperoleh organisasi dalam memanfaatkan data driven terus terbuka. Peluang tersebut di antaranya adalah pengembangan decision making process support system lintas bidang yang menjamin manajemen SDM lebih efisien dan efektif.
Sekarang tinggal sikap para pimpinan di pemerintahan maupun perusahaan untuk terus bergerak maju dengan memanfaatkan data dalam setiap kebijakan atau pengambilan keputusan di bidang SDM. Sikap pimpinan terhadap data yang merepresentasikan bukti otentik menjamin setiap keputusan dibuat secara adil dan bijaksana.