Dilema Konsumen dalam Paradox of Choice

Jeff Budiman, CEO dan Co-Founder The Fit Company

Oleh: Jeff Budiman, CEO dan Co-founder The FIT Company, sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang wellness technology.

Tidak mudah menjadi konsumen di era yang semakin kreatif seperti sekarang. Setiap konsumen, kini diharuskan membuat proses pengambilan keputusan yang lebih kompleks sebagai imbas dari tersedianya pilihan yang begitu beragam.

Saya jadi teringat dengan sekilas memori di masa kecil, yaitu saat menonton TV. Ini adalah kegiatan sederhana yang begitu saya nantikan setiap pulang sekolah. Saat itu, saya cukup memilih tontonan yang paling sesuai di antara 12 pilihan saluran TV nasional yang tersedia kala itu. Maju berselang ke masa sekarang, menonton TV tidak lagi menjadi sebuah kegiatan sederhana. Kini, saya dihadapkan pada 16 saluran TV nasional, 5 saluran TV lokal berbayar, 40 saluran TV luar berbayar, hingga pilihan menonton tayangan serial dari layanan TV on demand.

Tidak hanya berhenti di situ. Di aspek kehidupan yang lain, manusia juga dihadapkan dengan begitu banyak pilihan, mulai dari pilihan karier, pilihan gaya hidup, hingga pilihan dalam mencari pasangan hidup. Pertanyaannya, apakah semakin banyaknya alternatif pilihan tersebut, semakin mempermudah manusia dalam menjalani hidupnya?

Mari kita simak pendapat psikolog asal Amerika Barry Schwartz dalam bukunya yang berjudul “The Paradox of Choice”. Pilihan yang terlalu banyak mengharuskan setiap konsumen untuk membuat keputusan penting melalui berbagai pertimbangan dalam waktu yang singkat. Akibatnya, konsumen merasa kesulitan untuk memutuskan suatu hal, sehingga pada akhirnya mereka tidak akan memilih apa-apa. Selain itu, jika konsumen sudah menetapkan satu dari banyak pilihan sekalipun, tingkat kepuasan yang dirasakan malah jadi berkurang.

Berangkat dari teori ini, saya mencoba menerapkan pendekatan yang cukup berbeda di The FIT Company, perusahaan yang saya rintis bersama tim dengan fokus utama di bidang wellness technology. Sebagai salah satu pemain yang berusaha membangun ekosistem kebugaran berbasis teknologi, godaan untuk menghadirkan beragam varian pilihan terasa cukup besar. Namun sebagai pemain baru, ada kalanya kita masih perlu memperlambat fase kita – karena konsumen sendiri pun masih “belajar mengenal” produk yang kita tawarkan.

Contohnya, dari jenis olahraga yang kami tawarkan. Secara garis besar, kami membaginya hanya ke dalam dua pilihan utama, yaitu micro-gym dengan teknologi Electro Muscle Stimulation (EMS) melalui brand 20FIT, yang cocok bagi konsumen yang ingin mencari ketenangan sekaligus lebih fokus berolahraga secara efektif dalam waktu terbatas; dan lifestyle boutique gym di FITSTOP, bagi konsumen yang menyukai jenis olahraga secara komunal dan dinamis.

Adanya limitasi pilihan yang kami tawarkan justru tidak membatasi keinginan konsumen, namun memudahkan mereka dalam mengambil keputusan. Terbukti hingga kini, kami mampu meraup rata-rata 1.000 pengguna baru per bulan untuk mencoba first trial di 20FIT. Melalui kemudahan dalam mengambil keputusan untuk berolahraga, kami juga membantu konsumen kami untuk memiliki waktu luang yang lebih banyak untuk melakukan kegiatan mereka yang lain, seperti menentukan jenis tontonan misalnya.

Tags:
Jeff Budiman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)